
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Segelas es legendaris dari Kota Malang sejak 1955 bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ia menyimpan cerita panjang tentang perubahan, dari ramainya lebah yang dulu mengitari pohon asem hingga sunyinya kota yang perlahan kehilangan keseimbangan alamnya.
Belakangan ini, cuaca di Malang terasa semakin tak menentu. Pagi hingga siang hari bisa begitu terik, lalu menjelang siang, langit mendadak gelap dan hujan turun deras disertai petir dan angin kencang. Bahkan, tak jarang hujan datang bersama butiran es yang menciptakan suara khas di permukaan jalan.
Di tengah suasana seperti itu, saya menyempatkan diri mengunjungi sebuah kedai minuman legendaris. Tempat ini dikenal ramai, bahkan jika datang sedikit terlambat saja, kita bisa kehabisan.
Meski sederhana, rasa yang ditawarkan tetap konsisten sejak dulu membuatnya lekat di ingatan banyak orang.
Namun, di balik kenikmatan itu, ada cerita lain yang terasa mengusik.
Ironi Lebah yang Kian Menghilang
Ada sesuatu yang perlahan hilang dari Kota Malang, dan sering kali luput dari perhatian. Bukan gedung yang berubah atau jalan yang berganti arah, melainkan makhluk kecil yang dulu begitu akrab: lebah.
Dulu, segelas es di sudut kota mampu mengundang lebah datang berkerumun. Kini, bahkan manisnya gula tak lagi cukup untuk menghadirkan dengung itu kembali.
Di kedai Es Tawon Kidul Dalem, ironi itu terasa nyata. Sejak berdiri pada 1955, rasa minumannya nyaris tak berubah. Namun, lingkungan di sekitarnya telah mengalami perubahan besar.
Es Tawon dan Jejak Masa Lalu
Nama “Es Tawon” bukan sekadar sebutan, melainkan jejak sejarah. Dahulu, minuman ini dijajakan di bawah pohon asem, tepat di bawah sarang lebah yang menggantung. Aroma manis dari sirup dan gula menarik lebah untuk beterbangan di sekitar gerobak.
Pemandangan itu dulu biasa. Kini, tinggal cerita.
Perubahan semacam ini sering dianggap wajar. Padahal, ia menyimpan tanda-tanda penting tentang kondisi lingkungan. Malang yang dulu dikenal sejuk kini mulai kehilangan identitasnya.
Pembangunan yang tidak diimbangi penghijauan, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta meningkatnya kepadatan kota perlahan menggeser keseimbangan alam.
Akibatnya, suhu meningkat, habitat menyempit, dan makhluk kecil seperti lebah menjadi korban yang sering terabaikan.
Padahal, lebah bukan sekadar serangga pencari manis. Ia adalah penyerbuk penting yang menjaga keberlangsungan ekosistem. Ketika lebah menghilang, yang terancam bukan hanya bunga, tetapi juga rantai kehidupan yang lebih luas.
Bertahan di Tengah Perubahan
Menariknya, di tengah perubahan itu, es tawon tetap bertahan. Dalam satu gelas, tersaji cincau hitam, tape singkong, kacang hijau, alpukat, mutiara, dan sirup merah khas. Rasanya manis dan menyegarkan, seolah membawa kita kembali ke masa lalu.
Namun di luar gelas itu, waktu terus berjalan cepat, meninggalkan banyak hal yang tak sempat dijaga.
Di era minuman kekinian yang mengandalkan tampilan visual dan strategi pemasaran agresif, kedai ini tetap setia pada kesederhanaannya. Persaingan kini bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal bagaimana terlihat.
Sempat ada upaya membuka cabang di kawasan lain, tetapi pandemi Covid-19 memaksa usaha tersebut berhenti. Ini menunjukkan bahwa usaha kecil tidak hanya menghadapi perubahan selera, tetapi juga tekanan ekonomi yang nyata.
Hingga kini, Sri Utami sebagai generasi penerus tetap meracik es tawon dengan cara yang sama. Menjaga rasa yang telah diwariskan. Namun, menjaga warisan seperti ini tentu tidak bisa dilakukan sendirian.
Pertanyaannya, apakah kita turut ambil bagian?
Menjaga yang Masih Tersisa
Merawat warisan kuliner tidak cukup hanya dengan mempertahankan resep. Ia membutuhkan dukungan lingkungan yang lebih luas—kota yang memberi ruang, serta masyarakat yang peduli.
Penghijauan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan. Ruang terbuka hijau, keseimbangan ekosistem, dan perlindungan terhadap makhluk kecil seperti lebah harus menjadi bagian dari kesadaran bersama.
Bukan semata untuk mengembalikan yang telah hilang, tetapi untuk menjaga agar yang tersisa tidak ikut menghilang.
Sebab, ketika lebah hilang, kita tidak hanya kehilangan penyerbuk, tetapi juga keseimbangan.
Es tawon, dalam kesederhanaannya, mengingatkan bahwa perubahan besar sering terjadi perlahan. Nyaris tak terasa, hingga suatu hari kita menyadari bahwa sesuatu benar-benar telah pergi.
Hari ini, kita masih bisa menikmati manisnya. Namun tanpa lebah, tanpa alam yang terjaga, pengalaman itu terasa berbeda.
Mungkin kita tidak bisa mengembalikan semuanya seperti dulu. Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk menjaga yang ada agar kelak, bukan hanya rasa yang dikenang, tetapi juga kehidupan yang menyertainya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Manisnya Es Tawon Sejak 1955 yang Kini Tak Lagi Dikerumuni Lebah"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang