Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Iwan Berri Prima
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Iwan Berri Prima adalah seorang yang berprofesi sebagai Dokter. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?

Kompas.com, 17 Mei 2026, 09:47 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ketika membeli hewan kurban, apakah hewan kurban yang dibeli benar-benar sehat dan aman?

Apalagi di tengah ramainya penjualan hewan kurban menjelang Iduladha, sudahkah kita memperhatikan keberadaan SKKH atau Surat Keterangan Kesehatan Hewan sebagai bagian penting dalam memilih hewan kurban yang layak?

Menjelang Hari Raya Iduladha, penjualan hewan kurban biasanya meningkat tajam di berbagai daerah. Lapak-lapak musiman mulai bermunculan di pinggir jalan, halaman ruko, lahan kosong, hingga kawasan permukiman.

Di tengah tingginya antusiasme masyarakat untuk berkurban, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian, yakni keberadaan SKKH atau Surat Keterangan Kesehatan Hewan yang diterbitkan oleh dokter hewan berwenang.

Padahal, SKKH bukan sekadar dokumen administrasi. Surat ini menjadi salah satu bentuk jaminan awal bahwa hewan kurban telah diperiksa kesehatannya dan dinyatakan layak untuk diperjualbelikan maupun dipotong.

Dalam konteks kesehatan masyarakat veteriner, SKKH memiliki peran penting untuk membantu melindungi masyarakat dari risiko penyakit hewan menular maupun potensi kerugian akibat membeli hewan yang tidak sehat.

Karena itu, masyarakat sebagai pembeli perlu semakin cermat dan kritis sebelum memilih hewan kurban. Jangan sampai niat ibadah justru diiringi risiko kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Menurut penulis, setidaknya ada lima alasan mengapa SKKH penting diperhatikan dalam transaksi hewan kurban.

Pertama, SKKH membantu memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat.

Pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan dilakukan untuk menilai kondisi fisik hewan, mulai dari suhu tubuh, pernapasan, nafsu makan, kondisi mata, kulit, mulut, hingga ada atau tidaknya tanda penyakit tertentu.

Hewan yang terlihat gemuk atau aktif belum tentu benar-benar sehat. Dalam beberapa kasus, ada hewan yang tampak normal tetapi sebenarnya sedang mengalami infeksi atau gangguan kesehatan yang sulit dikenali oleh masyarakat umum.

Di sinilah peran dokter hewan menjadi penting. Melalui pemeriksaan profesional, gejala klinis penyakit dapat dideteksi lebih dini. Dengan adanya SKKH, pembeli memperoleh kepastian bahwa hewan telah melalui proses pemeriksaan kesehatan sebelum dijual.

Hal ini penting agar masyarakat terhindar dari risiko membeli hewan sakit yang dapat membahayakan manusia maupun hewan lain di sekitarnya.

Kedua, SKKH membantu mencegah penyebaran penyakit hewan menular.

Indonesia masih menghadapi ancaman berbagai penyakit hewan, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks, hingga penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Kata Netizen
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Kata Netizen
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau