Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agung Han
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Agung Han adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang

Kompas.com, 24 Mei 2026, 15:14 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Mengapa sebagian orang dipertemukan dengan jodohnya lebih cepat, sementara yang lain harus menunggu lebih lama?

Di tengah kehidupan masyarakat, seolah ada aturan tidak tertulis tentang usia menikah. Laki-laki dianggap ideal menikah di usia sekitar 25 tahun, sementara perempuan sering kali dinilai “sudah waktunya” menikah pada usia awal 20an.

Selama belum melewati usia 30 tahun, biasanya orang masih dianggap “aman”. Namun ketika usia terus bertambah dan status belum berubah, komentar demi komentar mulai bermunculan.

Ada yang berupa candaan, ada pula yang terdengar seperti sindiran. Mulai dari ucapan samar hingga perkataan yang terang-terangan menyinggung. Tidak jarang, orang-orang terdekat justru menjadi pihak yang paling sering mempertanyakan.

Istilah seperti “terlalu pilih-pilih”, “belum laku”, atau berbagai sebutan lain yang kurang menyenangkan kerap muncul tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang mendengarnya.

Padahal, keputusan dan perjalanan hidup setiap orang tentu berbeda-beda. Menikah atau belum menikah bukanlah ukuran tunggal kebahagiaan maupun keberhasilan hidup seseorang.

Tekanan biasanya terasa semakin besar ketika seseorang yang belum menikah justru terlihat berkembang dalam pekerjaan atau karier.

Tidak sedikit yang kemudian menjadikan status pernikahan sebagai bahan untuk merendahkan atau mengomentari kehidupan pribadi orang lain.

Saya sendiri pernah berada di fase itu.

Menjelang usia kepala tiga, saya beberapa kali menjadi sasaran komentar dari orang-orang sekitar.

Saat mudik tanpa membawa pasangan, saya pernah merasa dipermalukan dalam sebuah pertemuan keluarga besar. Waktu itu saya hanya bisa diam karena bingung harus menjawab apa.

Sejak kejadian itu, hubungan saya dengan beberapa saudara pun perlahan merenggang.

Namun hidup selalu punya cara sendiri untuk memperlihatkan jawabannya.

Suatu hari, jodoh yang selama ini dinanti akhirnya datang juga. Dan menariknya, kehadiran pasangan hidup itu justru mengubah banyak hal. Orang-orang yang dulu sering melontarkan komentar mulai berubah sikap, bahkan ada yang meminta maaf tanpa diminta.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa ada hikmah yang baru terasa setelah melewati perjalanan panjang dalam penantian.

Bagi siapa pun yang saat ini belum dipertemukan dengan pasangan hidup, terutama ketika usia terus bertambah, jangan kehilangan harapan. Tetaplah berusaha dan terus berdoa.

Saya pernah berada di titik pasrah soal jodoh. Berbagai cara sudah dicoba. Awalnya saya merasa cukup percaya diri bisa menemukan pasangan sendiri. Saya mencoba membuka perkenalan dengan beberapa perempuan, tetapi tidak banyak yang berlanjut.

Saya juga pernah meminta bantuan teman, kenalan, bahkan ibu kos untuk dikenalkan dengan seseorang.

Dan ternyata, jalan yang mempertemukan saya dengan pasangan justru datang dari proses perkenalan sederhana melalui relasi di sebuah kantor periklanan.

Setelah merasa cocok, saya memberanikan diri datang ke rumahnya seminggu kemudian. Tidak lama setelah itu, saya menyampaikan niat baik kepada keluarganya.

Pertemuan yang terjadi di awal usia 30 tahun itu menjadi titik balik dalam hidup saya.

Bukan sekadar karena akhirnya menikah, tetapi karena saya belajar bahwa sesuatu yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh biasanya akan lebih dihargai dan dijaga sepenuh hati.

Termasuk dalam hubungan pernikahan.

Ketika seseorang harus melewati penantian panjang, doa yang tak sedikit, serta berbagai komentar yang menguji hati, maka saat akhirnya dipertemukan dengan pasangan hidup, ada rasa syukur yang tumbuh lebih dalam.

Saya pribadi merasa lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan rumah tangga. Ketika sedang berselisih dengan istri, saya berusaha untuk tidak terbawa emosi.

Saya memilih diam sejenak, memberi ruang untuk menenangkan diri sebelum kembali berbicara dengan kepala dingin.

Seiring bertambahnya usia pernikahan, saya merasa ego bukan lagi hal utama. Yang lebih penting adalah bagaimana menjaga kebahagiaan keluarga dan mempertahankan hubungan dengan baik.

Mungkin karena saya masih mengingat bagaimana panjangnya proses untuk sampai di titik ini.

Saya pernah menunggu cukup lama untuk bertemu perempuan yang kemudian menjadi ibu dari anak-anak saya. Ada banyak doa, kesabaran, dan harapan yang harus dijaga sepanjang perjalanan itu.

Karena itulah, rasanya sayang jika hubungan yang diperjuangkan dengan susah payah justru disia-siakan setelah dipersatukan dalam pernikahan.

Apalagi ketika pasangan terbukti mampu menerima kekurangan kita, bersedia menemani dalam suka maupun sulit, tentu rasa untuk menjaga dan menghargainya menjadi semakin besar.

Saya percaya, banyak pasangan lain yang juga merasakan hal serupa. Mereka yang harus melewati penantian panjang sering kali belajar menghargai hubungan dengan lebih dewasa.

Karena itu, bagi siapa pun yang saat ini masih menunggu datangnya jodoh, tidak perlu merasa kecil hati.

Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Yang terpenting adalah tetap menjaga harapan, terus memperbaiki diri, dan tidak berhenti berikhtiar.

Kadang, jodoh yang datang lebih lambat justru membawa banyak pelajaran berharga tentang kesabaran, ketulusan, dan cara menghargai seseorang dengan lebih baik.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Hikmah di Balik Jodoh yang Datangnya Terlambat"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kata Netizen
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Kata Netizen
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Kata Netizen
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau