
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mengapa sebagian orang dipertemukan dengan jodohnya lebih cepat, sementara yang lain harus menunggu lebih lama?
Di tengah kehidupan masyarakat, seolah ada aturan tidak tertulis tentang usia menikah. Laki-laki dianggap ideal menikah di usia sekitar 25 tahun, sementara perempuan sering kali dinilai “sudah waktunya” menikah pada usia awal 20an.
Selama belum melewati usia 30 tahun, biasanya orang masih dianggap “aman”. Namun ketika usia terus bertambah dan status belum berubah, komentar demi komentar mulai bermunculan.
Ada yang berupa candaan, ada pula yang terdengar seperti sindiran. Mulai dari ucapan samar hingga perkataan yang terang-terangan menyinggung. Tidak jarang, orang-orang terdekat justru menjadi pihak yang paling sering mempertanyakan.
Istilah seperti “terlalu pilih-pilih”, “belum laku”, atau berbagai sebutan lain yang kurang menyenangkan kerap muncul tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang mendengarnya.
Padahal, keputusan dan perjalanan hidup setiap orang tentu berbeda-beda. Menikah atau belum menikah bukanlah ukuran tunggal kebahagiaan maupun keberhasilan hidup seseorang.
Tekanan biasanya terasa semakin besar ketika seseorang yang belum menikah justru terlihat berkembang dalam pekerjaan atau karier.
Tidak sedikit yang kemudian menjadikan status pernikahan sebagai bahan untuk merendahkan atau mengomentari kehidupan pribadi orang lain.
Saya sendiri pernah berada di fase itu.
Menjelang usia kepala tiga, saya beberapa kali menjadi sasaran komentar dari orang-orang sekitar.
Saat mudik tanpa membawa pasangan, saya pernah merasa dipermalukan dalam sebuah pertemuan keluarga besar. Waktu itu saya hanya bisa diam karena bingung harus menjawab apa.
Sejak kejadian itu, hubungan saya dengan beberapa saudara pun perlahan merenggang.
Namun hidup selalu punya cara sendiri untuk memperlihatkan jawabannya.
Suatu hari, jodoh yang selama ini dinanti akhirnya datang juga. Dan menariknya, kehadiran pasangan hidup itu justru mengubah banyak hal. Orang-orang yang dulu sering melontarkan komentar mulai berubah sikap, bahkan ada yang meminta maaf tanpa diminta.
Dari situlah saya mulai memahami bahwa ada hikmah yang baru terasa setelah melewati perjalanan panjang dalam penantian.
Bagi siapa pun yang saat ini belum dipertemukan dengan pasangan hidup, terutama ketika usia terus bertambah, jangan kehilangan harapan. Tetaplah berusaha dan terus berdoa.
Saya pernah berada di titik pasrah soal jodoh. Berbagai cara sudah dicoba. Awalnya saya merasa cukup percaya diri bisa menemukan pasangan sendiri. Saya mencoba membuka perkenalan dengan beberapa perempuan, tetapi tidak banyak yang berlanjut.
Saya juga pernah meminta bantuan teman, kenalan, bahkan ibu kos untuk dikenalkan dengan seseorang.
Dan ternyata, jalan yang mempertemukan saya dengan pasangan justru datang dari proses perkenalan sederhana melalui relasi di sebuah kantor periklanan.
Setelah merasa cocok, saya memberanikan diri datang ke rumahnya seminggu kemudian. Tidak lama setelah itu, saya menyampaikan niat baik kepada keluarganya.
Pertemuan yang terjadi di awal usia 30 tahun itu menjadi titik balik dalam hidup saya.
Bukan sekadar karena akhirnya menikah, tetapi karena saya belajar bahwa sesuatu yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh biasanya akan lebih dihargai dan dijaga sepenuh hati.
Termasuk dalam hubungan pernikahan.
Ketika seseorang harus melewati penantian panjang, doa yang tak sedikit, serta berbagai komentar yang menguji hati, maka saat akhirnya dipertemukan dengan pasangan hidup, ada rasa syukur yang tumbuh lebih dalam.
Saya pribadi merasa lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan rumah tangga. Ketika sedang berselisih dengan istri, saya berusaha untuk tidak terbawa emosi.
Saya memilih diam sejenak, memberi ruang untuk menenangkan diri sebelum kembali berbicara dengan kepala dingin.
Seiring bertambahnya usia pernikahan, saya merasa ego bukan lagi hal utama. Yang lebih penting adalah bagaimana menjaga kebahagiaan keluarga dan mempertahankan hubungan dengan baik.
Mungkin karena saya masih mengingat bagaimana panjangnya proses untuk sampai di titik ini.
Saya pernah menunggu cukup lama untuk bertemu perempuan yang kemudian menjadi ibu dari anak-anak saya. Ada banyak doa, kesabaran, dan harapan yang harus dijaga sepanjang perjalanan itu.
Karena itulah, rasanya sayang jika hubungan yang diperjuangkan dengan susah payah justru disia-siakan setelah dipersatukan dalam pernikahan.
Apalagi ketika pasangan terbukti mampu menerima kekurangan kita, bersedia menemani dalam suka maupun sulit, tentu rasa untuk menjaga dan menghargainya menjadi semakin besar.
Saya percaya, banyak pasangan lain yang juga merasakan hal serupa. Mereka yang harus melewati penantian panjang sering kali belajar menghargai hubungan dengan lebih dewasa.
Karena itu, bagi siapa pun yang saat ini masih menunggu datangnya jodoh, tidak perlu merasa kecil hati.
Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Yang terpenting adalah tetap menjaga harapan, terus memperbaiki diri, dan tidak berhenti berikhtiar.
Kadang, jodoh yang datang lebih lambat justru membawa banyak pelajaran berharga tentang kesabaran, ketulusan, dan cara menghargai seseorang dengan lebih baik.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Hikmah di Balik Jodoh yang Datangnya Terlambat"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang