
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Akhirnya saya memilih pendekatan yang lebih sesuai dengan kemampuan. Jika tidak bisa menjadi “wajah utama” di depan layar, saya belajar menjadi pemasok bagi para penjual muda yang aktif di media sosial.
Saya mulai fokus menyediakan bibit, batang stek, dan bahan tanaman yang mereka butuhkan.
Keuntungan per pohon memang tidak sebesar dulu, tetapi perputaran barang menjadi lebih stabil. Saya tetap masuk ke ekosistem digital, hanya dengan peran yang berbeda.
Pak Eko mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
“Saya sebenarnya malas kirim-kirim barang,” katanya kemudian. “Apalagi soal membungkus tanaman itu. Ribet.”
Saya tersenyum kecil. Justru di situlah letak tantangannya.
Sering kali, pengalaman panjang membuat seseorang sangat ahli dalam satu bidang, tetapi tanpa sadar enggan mempelajari hal-hal baru yang terlihat sederhana.
Padahal, di era sekarang, kemampuan kecil seperti mengemas barang dengan aman atau memahami pola pemasaran digital bisa menjadi penentu bertahan atau tidaknya sebuah usaha.
Saya mengatakan pada Pak Eko bahwa ilmu budidaya yang ia miliki sangat berharga. Tidak semua anak muda memahami kualitas tanaman sebaik dirinya. Namun ilmu itu akan sulit berkembang jika tidak diikuti keberanian untuk beradaptasi.
Di dunia online, misalnya, kejujuran menjadi hal penting. Penjual perlu berani memperlihatkan kondisi barang apa adanya, mengirim pesanan dengan baik, serta membangun kepercayaan pelanggan sedikit demi sedikit.
Saya juga menyampaikan bahwa belajar dari generasi yang lebih muda bukanlah sesuatu yang memalukan. Dunia terus bergerak, dan kadang kita hanya perlu sedikit menurunkan ego untuk tetap bisa berjalan bersamanya.
Pak Eko tertawa kecil mendengar itu. “Berarti saya memang harus belajar lagi, ya?” katanya. Saya mengangguk.
Belajar ternyata tidak mengenal usia. Bahkan di usia 57 tahun sekalipun, seseorang tetap bisa menjadi murid kembali.
Perjalanan pulang menuju Pengging sore itu terasa cukup menenangkan. Namun percakapan dengan Pak Eko masih terus teringat di kepala saya.
Saya menyadari, di sekitar kita sebenarnya banyak orang yang memiliki pengalaman luar biasa, pengetahuan yang mendalam, bahkan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun.