Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Budiharjo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Budiharjo adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville

Kompas.com, 28 Mei 2026, 15:22 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Akhirnya saya memilih pendekatan yang lebih sesuai dengan kemampuan. Jika tidak bisa menjadi “wajah utama” di depan layar, saya belajar menjadi pemasok bagi para penjual muda yang aktif di media sosial.

Saya mulai fokus menyediakan bibit, batang stek, dan bahan tanaman yang mereka butuhkan.

Keuntungan per pohon memang tidak sebesar dulu, tetapi perputaran barang menjadi lebih stabil. Saya tetap masuk ke ekosistem digital, hanya dengan peran yang berbeda.

Pak Eko mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

“Saya sebenarnya malas kirim-kirim barang,” katanya kemudian. “Apalagi soal membungkus tanaman itu. Ribet.”

Saya tersenyum kecil. Justru di situlah letak tantangannya.

Sering kali, pengalaman panjang membuat seseorang sangat ahli dalam satu bidang, tetapi tanpa sadar enggan mempelajari hal-hal baru yang terlihat sederhana.

Padahal, di era sekarang, kemampuan kecil seperti mengemas barang dengan aman atau memahami pola pemasaran digital bisa menjadi penentu bertahan atau tidaknya sebuah usaha.

Saya mengatakan pada Pak Eko bahwa ilmu budidaya yang ia miliki sangat berharga. Tidak semua anak muda memahami kualitas tanaman sebaik dirinya. Namun ilmu itu akan sulit berkembang jika tidak diikuti keberanian untuk beradaptasi.

Di dunia online, misalnya, kejujuran menjadi hal penting. Penjual perlu berani memperlihatkan kondisi barang apa adanya, mengirim pesanan dengan baik, serta membangun kepercayaan pelanggan sedikit demi sedikit.

Saya juga menyampaikan bahwa belajar dari generasi yang lebih muda bukanlah sesuatu yang memalukan. Dunia terus bergerak, dan kadang kita hanya perlu sedikit menurunkan ego untuk tetap bisa berjalan bersamanya.

Pak Eko tertawa kecil mendengar itu. “Berarti saya memang harus belajar lagi, ya?” katanya. Saya mengangguk.

Belajar ternyata tidak mengenal usia. Bahkan di usia 57 tahun sekalipun, seseorang tetap bisa menjadi murid kembali.

Perjalanan pulang menuju Pengging sore itu terasa cukup menenangkan. Namun percakapan dengan Pak Eko masih terus teringat di kepala saya.

Saya menyadari, di sekitar kita sebenarnya banyak orang yang memiliki pengalaman luar biasa, pengetahuan yang mendalam, bahkan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau