
Namun sebagian dari mereka mulai kesulitan mengikuti perubahan, bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa tidak perlu lagi belajar.
Kadang sikap itu muncul secara halus. Bukan dalam bentuk penolakan terang-terangan, tetapi lewat keluhan terhadap zaman yang berubah terlalu cepat, atau rasa lelah menghadapi cara-cara baru yang terasa asing.
Padahal perubahan tidak selalu meminta kita menjadi orang lain. Kadang kita hanya perlu menyesuaikan diri sedikit demi sedikit.
Sebab sehebat apa pun pengalaman seseorang, dunia akan terus bergerak. Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan terbesar adalah tetap bersedia belajar, bahkan dari mereka yang usianya jauh lebih muda.
Di tengah perjalanan, saya sempat melihat Gunung Merapi mengeluarkan asap tipis di kejauhan.
Pemandangan itu seperti pengingat kecil bahwa alam pun terus bergerak tanpa menunggu siapa-siapa. Begitu pula kehidupan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menanggalkan Ego Pemain Bonsai, Belajar "Paking" di Usia 57 Tahun"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.