Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jhon Rivel Purba
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Jhon Rivel Purba adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau

Kompas.com, 28 Juni 2026, 16:02 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ketika berbicara tentang Orang Bajau, banyak orang langsung teringat pada kemampuan mereka menyelam hingga ke laut dalam tanpa bantuan tabung oksigen.

Kemampuan tersebut telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Bajau yang dikenal sebagai masyarakat maritim dengan hubungan yang sangat erat dengan laut.

Saya berkesempatan mengamati kehidupan Orang Bajau di beberapa wilayah Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Bahkan, selama beberapa hari saya tinggal bersama mereka di rumah-rumah yang berdiri di atas perairan.

Pengalaman tersebut memberi kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana laut bukan sekadar ruang mencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Memang tidak semua Orang Bajau memiliki kemampuan menyelam luar biasa. Namun, citra sebagai "manusia laut" telah melekat kuat melalui berbagai penelitian, cerita, maupun pengalaman orang-orang yang pernah berinteraksi dengan mereka.

Bagi masyarakat Bajau, laut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh dewasa.

Sejak kecil, anak-anak diperkenalkan pada kehidupan perairan. Mereka belajar berenang, menyelam, sekaligus mengenali karakter laut yang kelak menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.

Kedekatan dengan laut inilah yang kemudian melahirkan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk dalam cara mereka menangkap ikan.

Salah satu tradisi yang masih dikenal adalah bapana, yakni berburu ikan menggunakan alat yang disebut pana atau panah ikan.

Aktivitas ini tidak hanya bertujuan memperoleh ikan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Bajau.

Di balik praktik bapana tersimpan berbagai pengetahuan lokal, mulai dari kemampuan membaca kondisi laut, memahami perilaku ikan, hingga keterampilan teknis yang diasah melalui pengalaman panjang.

Semua itu menjadi bagian dari identitas nelayan Bajau yang telah hidup berdampingan dengan laut selama bergenerasi.

Berbeda dengan nelayan yang menggunakan jaring atau pancing, pelaku bapana harus turun langsung ke bawah permukaan air.

Mereka berenang menyusuri terumbu karang, mengamati gerak ikan, lalu melepaskan tombak dengan ketepatan yang sangat bergantung pada pengalaman.

Aktivitas tersebut tentu membutuhkan keberanian, kesabaran, dan kemampuan menyelam yang baik.

Di sisi lain, risikonya juga tidak sedikit, mulai dari kram otot, gangguan pada telinga akibat tekanan air, hingga kemungkinan bertemu hewan laut yang berbahaya, seperti ikan barakuda.

Mengenal Pana, Alat Berburu Ikan Orang Bajau

Peralatan utama dalam bapana adalah pana. Sekilas bentuknya menyerupai senapan sederhana, tetapi mekanismenya lebih mendekati tombak pelontar.

Pana dibuat secara tradisional menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar permukiman, seperti kayu, besi, karet, serta tali nilon atau senar yang oleh masyarakat setempat disebut tasi.

Bagian kayunya dibentuk menyerupai badan senapan lengkap dengan gagang dan laras memanjang.

Pada bagian gagang terdapat dua lubang yang memiliki fungsi berbeda. Lubang horizontal digunakan untuk menahan mata tombak sebelum ditembakkan, sedangkan lubang vertikal berfungsi sebagai mekanisme pelepas saat pemburu menemukan sasaran.

Mata tombaknya dibuat dari besi dengan desain khusus agar mampu menembus tubuh ikan. Pada salah satu sisinya terdapat takikan kecil sebagai tempat mengaitkan karet pelontar.

Saat karet dilepaskan, energi yang tersimpan akan mendorong tombak melesat menuju sasaran. Di bagian ujung gagang juga dipasang potongan bambu kecil yang membantu menjaga arah laju tombak.

Ukuran pana pun tidak selalu sama. Sebagian nelayan memilih gagang yang lebih panjang agar dapat menjangkau sasaran lebih jauh, sedangkan yang lain memilih ukuran yang lebih pendek agar lebih mudah bermanuver di sela-sela terumbu karang.

Walaupun tampak sederhana, proses pembuatannya memerlukan ketelitian. Setiap komponen harus dipasang dengan presisi agar alat dapat bekerja secara optimal ketika digunakan di bawah air. Sedikit saja kesalahan pada posisi karet atau mata tombak dapat memengaruhi akurasi saat berburu.

Lebih dari Sekadar Mencari Ikan

Dalam praktiknya, bapana bukanlah metode penangkapan ikan yang paling banyak dilakukan masyarakat.

Dibandingkan penggunaan jaring atau pancing yang mampu menghasilkan tangkapan dalam jumlah lebih besar, berburu ikan menggunakan tombak membutuhkan tenaga, waktu, dan keterampilan yang jauh lebih besar.

Oleh karena itu, sejumlah peneliti memandang bapana lebih dekat sebagai aktivitas rekreatif dibandingkan kegiatan ekonomi yang benar-benar menguntungkan.

Pandangan tersebut cukup beralasan. Hasil tangkapan dari bapana tidak selalu dapat diprediksi. Seorang pemburu bisa menghabiskan waktu berjam-jam di laut tanpa memperoleh ikan yang diharapkan.

Namun justru di situlah letak nilai yang dirasakan para pelakunya.

Keberhasilan dalam bapana tidak semata diukur dari banyaknya ikan yang dibawa pulang.

Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendekati ikan secara perlahan, membaca pergerakannya, lalu melepaskan tombak dengan tepat. Pengalaman semacam itu menghadirkan sensasi yang berbeda dibandingkan metode penangkapan ikan lainnya.

Saat berburu, seorang nelayan umumnya hanya membawa pana dan kacamata selam sederhana.

Nah, dengan perlengkapan yang terbatas tersebut, mereka memasuki dunia bawah laut yang penuh warna untuk mencari ikan-ikan karang yang memiliki nilai ekonomi cukup baik.

Keberhasilan memperoleh ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi laut, kemampuan menyelam, serta pengalaman membaca perilaku ikan. Tidak jarang ikan yang sudah berada dalam jangkauan tiba-tiba menghilang di balik karang sebelum tombak sempat dilepaskan.

Karena itu, bapana mengajarkan pentingnya kesabaran. Pemburu harus mampu mengendalikan napas, bergerak perlahan, dan menjaga ketenangan tubuh agar tidak membuat ikan merasa terganggu. Pengalaman bertahun-tahun biasanya menjadi pembeda antara pemburu pemula dan mereka yang telah mahir.

Menjaga Warisan Budaya Maritim

Selama berada di permukiman Orang Bajau, saya memang belum sempat menyaksikan langsung proses berburu ikan menggunakan pana. Saya lebih banyak mendengarkan cerita dari para pelaku bapana sambil mengamati alat yang mereka gunakan.

Meski demikian, kisah-kisah tersebut cukup memberikan gambaran mengenai posisi bapana dalam kehidupan masyarakat Bajau. Tradisi ini bukan sekadar teknik menangkap ikan, melainkan juga cara mempertahankan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah perubahan zaman dan semakin berkembangnya teknologi penangkapan ikan, tradisi seperti bapana mengingatkan kita bahwa sebuah kebudayaan tidak selalu bertahan karena alasan ekonomi.

Ada identitas, pengalaman hidup, dan hubungan yang begitu dekat antara manusia dengan alam yang ikut dijaga melalui tradisi tersebut.

Barangkali, itulah sebabnya bapana masih memiliki tempat dalam kehidupan Orang Bajau—bukan hanya sebagai cara berburu ikan, tetapi juga sebagai bagian dari cerita panjang masyarakat yang sejak dahulu menjadikan laut sebagai rumahnya.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bapana, Tradisi Berburu Ikan yang Menjaga Identitas Orang Bajau"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Kata Netizen
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau