
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika berbicara tentang Orang Bajau, banyak orang langsung teringat pada kemampuan mereka menyelam hingga ke laut dalam tanpa bantuan tabung oksigen.
Kemampuan tersebut telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Bajau yang dikenal sebagai masyarakat maritim dengan hubungan yang sangat erat dengan laut.
Saya berkesempatan mengamati kehidupan Orang Bajau di beberapa wilayah Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Bahkan, selama beberapa hari saya tinggal bersama mereka di rumah-rumah yang berdiri di atas perairan.
Pengalaman tersebut memberi kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana laut bukan sekadar ruang mencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Memang tidak semua Orang Bajau memiliki kemampuan menyelam luar biasa. Namun, citra sebagai "manusia laut" telah melekat kuat melalui berbagai penelitian, cerita, maupun pengalaman orang-orang yang pernah berinteraksi dengan mereka.
Bagi masyarakat Bajau, laut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh dewasa.
Sejak kecil, anak-anak diperkenalkan pada kehidupan perairan. Mereka belajar berenang, menyelam, sekaligus mengenali karakter laut yang kelak menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.
Kedekatan dengan laut inilah yang kemudian melahirkan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk dalam cara mereka menangkap ikan.
Salah satu tradisi yang masih dikenal adalah bapana, yakni berburu ikan menggunakan alat yang disebut pana atau panah ikan.
Aktivitas ini tidak hanya bertujuan memperoleh ikan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Bajau.
Di balik praktik bapana tersimpan berbagai pengetahuan lokal, mulai dari kemampuan membaca kondisi laut, memahami perilaku ikan, hingga keterampilan teknis yang diasah melalui pengalaman panjang.
Semua itu menjadi bagian dari identitas nelayan Bajau yang telah hidup berdampingan dengan laut selama bergenerasi.
Berbeda dengan nelayan yang menggunakan jaring atau pancing, pelaku bapana harus turun langsung ke bawah permukaan air.
Mereka berenang menyusuri terumbu karang, mengamati gerak ikan, lalu melepaskan tombak dengan ketepatan yang sangat bergantung pada pengalaman.
Aktivitas tersebut tentu membutuhkan keberanian, kesabaran, dan kemampuan menyelam yang baik.
Di sisi lain, risikonya juga tidak sedikit, mulai dari kram otot, gangguan pada telinga akibat tekanan air, hingga kemungkinan bertemu hewan laut yang berbahaya, seperti ikan barakuda.
Mengenal Pana, Alat Berburu Ikan Orang Bajau
Peralatan utama dalam bapana adalah pana. Sekilas bentuknya menyerupai senapan sederhana, tetapi mekanismenya lebih mendekati tombak pelontar.
Pana dibuat secara tradisional menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar permukiman, seperti kayu, besi, karet, serta tali nilon atau senar yang oleh masyarakat setempat disebut tasi.
Bagian kayunya dibentuk menyerupai badan senapan lengkap dengan gagang dan laras memanjang.
Pada bagian gagang terdapat dua lubang yang memiliki fungsi berbeda. Lubang horizontal digunakan untuk menahan mata tombak sebelum ditembakkan, sedangkan lubang vertikal berfungsi sebagai mekanisme pelepas saat pemburu menemukan sasaran.
Mata tombaknya dibuat dari besi dengan desain khusus agar mampu menembus tubuh ikan. Pada salah satu sisinya terdapat takikan kecil sebagai tempat mengaitkan karet pelontar.
Saat karet dilepaskan, energi yang tersimpan akan mendorong tombak melesat menuju sasaran. Di bagian ujung gagang juga dipasang potongan bambu kecil yang membantu menjaga arah laju tombak.
Ukuran pana pun tidak selalu sama. Sebagian nelayan memilih gagang yang lebih panjang agar dapat menjangkau sasaran lebih jauh, sedangkan yang lain memilih ukuran yang lebih pendek agar lebih mudah bermanuver di sela-sela terumbu karang.
Walaupun tampak sederhana, proses pembuatannya memerlukan ketelitian. Setiap komponen harus dipasang dengan presisi agar alat dapat bekerja secara optimal ketika digunakan di bawah air. Sedikit saja kesalahan pada posisi karet atau mata tombak dapat memengaruhi akurasi saat berburu.
Lebih dari Sekadar Mencari Ikan
Dalam praktiknya, bapana bukanlah metode penangkapan ikan yang paling banyak dilakukan masyarakat.
Dibandingkan penggunaan jaring atau pancing yang mampu menghasilkan tangkapan dalam jumlah lebih besar, berburu ikan menggunakan tombak membutuhkan tenaga, waktu, dan keterampilan yang jauh lebih besar.
Oleh karena itu, sejumlah peneliti memandang bapana lebih dekat sebagai aktivitas rekreatif dibandingkan kegiatan ekonomi yang benar-benar menguntungkan.
Pandangan tersebut cukup beralasan. Hasil tangkapan dari bapana tidak selalu dapat diprediksi. Seorang pemburu bisa menghabiskan waktu berjam-jam di laut tanpa memperoleh ikan yang diharapkan.
Namun justru di situlah letak nilai yang dirasakan para pelakunya.
Keberhasilan dalam bapana tidak semata diukur dari banyaknya ikan yang dibawa pulang.
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendekati ikan secara perlahan, membaca pergerakannya, lalu melepaskan tombak dengan tepat. Pengalaman semacam itu menghadirkan sensasi yang berbeda dibandingkan metode penangkapan ikan lainnya.
Saat berburu, seorang nelayan umumnya hanya membawa pana dan kacamata selam sederhana.
Nah, dengan perlengkapan yang terbatas tersebut, mereka memasuki dunia bawah laut yang penuh warna untuk mencari ikan-ikan karang yang memiliki nilai ekonomi cukup baik.
Keberhasilan memperoleh ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi laut, kemampuan menyelam, serta pengalaman membaca perilaku ikan. Tidak jarang ikan yang sudah berada dalam jangkauan tiba-tiba menghilang di balik karang sebelum tombak sempat dilepaskan.
Karena itu, bapana mengajarkan pentingnya kesabaran. Pemburu harus mampu mengendalikan napas, bergerak perlahan, dan menjaga ketenangan tubuh agar tidak membuat ikan merasa terganggu. Pengalaman bertahun-tahun biasanya menjadi pembeda antara pemburu pemula dan mereka yang telah mahir.
Menjaga Warisan Budaya Maritim
Selama berada di permukiman Orang Bajau, saya memang belum sempat menyaksikan langsung proses berburu ikan menggunakan pana. Saya lebih banyak mendengarkan cerita dari para pelaku bapana sambil mengamati alat yang mereka gunakan.
Meski demikian, kisah-kisah tersebut cukup memberikan gambaran mengenai posisi bapana dalam kehidupan masyarakat Bajau. Tradisi ini bukan sekadar teknik menangkap ikan, melainkan juga cara mempertahankan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman dan semakin berkembangnya teknologi penangkapan ikan, tradisi seperti bapana mengingatkan kita bahwa sebuah kebudayaan tidak selalu bertahan karena alasan ekonomi.
Ada identitas, pengalaman hidup, dan hubungan yang begitu dekat antara manusia dengan alam yang ikut dijaga melalui tradisi tersebut.
Barangkali, itulah sebabnya bapana masih memiliki tempat dalam kehidupan Orang Bajau—bukan hanya sebagai cara berburu ikan, tetapi juga sebagai bagian dari cerita panjang masyarakat yang sejak dahulu menjadikan laut sebagai rumahnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bapana, Tradisi Berburu Ikan yang Menjaga Identitas Orang Bajau"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang