Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jhon Rivel Purba
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Jhon Rivel Purba adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman

Kompas.com, 30 Agustus 2026, 19:48 WIB

Apa oleh-oleh yang kita bawa pulang justru menjadi pengingat tentang keluarga, tanah kelahiran, sekaligus hasil kerja orang-orang yang kita cintai? Bagi saya, jawabannya ada pada kincung.

Setiap kali pulang dari kampung halaman, saya hampir selalu membawa oleh-oleh. Bukan hanya makanan khas atau buah tangan, melainkan hasil pertanian.

Bagi saya, hasil pertanian dari kampung halaman memiliki cerita yang lebih panjang. Di balik buah atau sayuran yang dibawa pulang, ada tanah, keringat, dan kehidupan orang tua serta keluarga saya yang sejak dulu menggantungkan hidup sebagai petani.

Belakangan ini, salah satu hasil pertanian yang paling sering saya bawa ke Depok adalah kincung atau kecombrang.

Tanaman dengan aroma khas ini sebenarnya sudah lama dibudidayakan masyarakat di kampung halaman saya. Namun, budi dayanya mulai berkembang lebih luas sejak tahun 2000-an.

Sebelum kincung berkembang, buah-buahan, terutama jeruk, merupakan salah satu komoditas unggulan di kampung halaman. Banyak masyarakat menggantungkan penghasilan dari tanaman tersebut.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jeruk tidak lagi menjadi pilihan utama sebagian petani. Biaya produksi yang semakin tinggi tidak selalu sebanding dengan harga jual. Akibatnya, sebagian masyarakat mulai mengurangi pengembangan tanaman jeruk dan beralih ke komoditas lain.

Bagi orang tua saya yang kini sudah lanjut usia, kincung menjadi salah satu tanaman yang cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alasannya sederhana: tanaman ini relatif mudah dibudidayakan dan tidak membutuhkan perawatan yang rumit.

Di kebun orang tua saya, kincung juga tidak memerlukan pupuk kimia. Tanaman ini relatif tahan terhadap serangan hama. Dengan perawatan sederhana, tanaman dapat terus menghasilkan.

Hal lain yang menarik, kincung tidak mengenal musim panen tertentu seperti beberapa jenis tanaman lainnya.

Hampir setiap minggu, orang tua saya dapat memanen sekitar 100 hingga 200 kilogram kincung. Hasil panen tersebut kemudian dijual kepada pengepul atau pedagang. Dari sanalah sebagian kebutuhan hidup mereka dipenuhi.

Persoalannya kemudian adalah harga. Harga kincung di tingkat petani cukup fluktuatif. Ada kalanya harganya baik, tetapi ada pula masa ketika harga turun cukup rendah.

Saya masih ingat ketika pulang kampung pada 2022. Ibu mengeluhkan rendahnya harga kincung yang saat itu hanya sekitar Rp2.000 per kilogram.

Mendengar keluhan tersebut, saya merasa kasihan sekaligus sedikit geram. Sebab, saya tahu harga kincung di Depok dan Jakarta jauh lebih tinggi. Bahkan, selisihnya bisa beberapa kali lipat dibandingkan dengan harga yang diterima petani.

Dalam satu kilogram terdapat sekitar tujuh tangkai kincung, tergantung ukurannya. Di Jabodetabek saat itu, satu bunga kincung bisa dijual sekitar Rp4.000 hingga Rp6.000 per tangkai. Artinya, harga per kilogram bisa mencapai Rp28.000 hingga Rp42.000.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Bukan Pilah-Pilih Guru, Anak Autis Mungkin Sedang Beradaptasi
Kata Netizen
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Cek Desil dan Pelajaran tentang Arti Berkecukupan
Kata Netizen
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Kata Netizen
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Kata Netizen
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Kata Netizen
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Kata Netizen
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Kata Netizen
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Kata Netizen
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau