Bagaimana sebuah rumah keluarga pada akhir abad ke-19 dapat menjadi bagian dari cerita panjang hadirnya pendidikan bagi anak perempuan di Kota Malang, dan mengapa jejak keluarga yang pernah membuka pintunya itu layak untuk kembali diingat?
Menyusuri kompleks Kampus Cor Jesu yang selama 23 tahun menjadi bagian dari hidup saya selalu menghadirkan kekaguman sekaligus rasa ingin tahu.
Ada saja hal yang membuat saya penasaran dengan sejarah dan seluk-beluk tempat ini. Siapa saja yang terlibat dalam pendiriannya? Bagaimana perjalanan awalnya? Dan seperti apa kisah orang-orang yang berada di balik berdirinya lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Kota Malang tersebut?
Rasa ingin tahu itu yang membawa saya untuk terus menggali, mengamati, dan menuliskannya dalam diary maupun beberapa tulisan.
Hingga akhirnya, saya dipercaya menjadi bagian dari tim penulis sejarah Cor Jesu dalam buku Cor Unum et Anima Una 125 Tahun Ursulin Malang, yang diluncurkan pada 10 Mei 2025.
Melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penulisan sejarah tersebut, saya menemukan satu kisah menarik yang menurut saya layak untuk diangkat: cerita di balik cikal bakal Biara Ursulin dan Kampus Cor Jesu Malang.
Jauh sebelum kompleks sekolah Cor Jesu berdiri kokoh dan melahirkan banyak generasi di Kota Malang, ada sebuah rumah di Jalan Tjelaket yang menjadi bagian dari awal cerita.
Dari keterbukaan sebuah keluarga pada akhir abad ke-19, gagasan tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan mulai menemukan jalannya di kota ini. Rumah tersebut merupakan kediaman keluarga Stucky.
Kondisi Zaman dan Keterbatasan Pendidikan Perempuan
Pada akhir abad ke-19, lanskap sosial di Hindia Belanda masih menempatkan anak perempuan dalam ruang yang relatif terbatas. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan formal lebih banyak terbuka bagi anak laki-laki. Pada masa itu, perempuan pada umumnya dipersiapkan untuk mengurus rumah tangga dan menjalankan peran domestik.
Di Malang, situasinya pun masih terbatas. Kota ini belum berstatus sebagai gemeente atau kota praja seperti yang kita kenal sekarang.
Gagasan untuk mendirikan sekolah khusus anak perempuan masih menjadi sesuatu yang relatif baru dan belum menjadi kebutuhan umum masyarakat. Pada saat yang sama, kawasan permukiman Eropa mulai berkembang seiring dengan pertumbuhan sektor perkebunan dan industri gula.
Di tengah kondisi sosial yang demikian, sebuah keluarga pendatang bernama Stucky membawa perspektif yang berbeda.
Mereka memiliki perhatian terhadap pendidikan bagi anak-anaknya, termasuk anak perempuan.
Siapakah Keluarga Stucky?
Kepala keluarga ini adalah Ferdinand Maximiliaan Guillaume Stucky, seorang pria berdarah Swiss-Belanda. Sebelum datang ke Hindia Belanda, Ferdinand memiliki latar belakang yang cukup terpandang.
Stucky pernah menjabat sebagai Sekretaris Pribadi Raja Willem III dari Belanda. Setelah tiba di Jawa Timur, Ferdinand menetap di Malang dan bekerja di sektor industri gula, termasuk sebagai pengawas perkebunan di kawasan Jatiroto.
Sebagai bagian dari masyarakat elite Eropa pada masa itu, Ferdinand memiliki sebuah rumah besar di Jalan Tjelaket, kawasan yang kini kita kenal sebagai Jalan Jaksa Agung Suprapto.
Rumah tersebut menghadap langsung ke jalur trem, sekaligus menjadi bagian dari perkembangan kawasan permukiman modern di Malang pada masa itu.
Di rumah inilah Ferdinand tinggal bersama istrinya dan membesarkan empat anak mereka: Max, Willem, Adriene, dan Laurien.
Berbeda dari gambaran umum keluarga pada masa tersebut, keluarga Stucky memiliki perhatian yang cukup besar terhadap pendidikan seluruh anak mereka, termasuk putri-putri mereka.
Hal inilah yang kemudian membuat rumah keluarga Stucky memiliki tempat tersendiri dalam rangkaian cerita awal pendidikan perempuan di Kota Malang.
Sebuah Rumah yang Membuka Pintu Jejak
Dalam Kronik Ursulin Malang, sebuah dokumen tertulis yang merekam perjalanan awal para suster Ordo Ursulin di Jawa Timur, tercatat peran keluarga Stucky.
Catatan tersebut menyebutkan bahwa pada Oktober 1897, beberapa suster Ursulin melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Malang. Tujuannya adalah menjajaki kemungkinan untuk membuka karya pendidikan baru.
Kedatangan para suster tersebut tentu membutuhkan sejumlah hal: tempat menginap, dukungan lingkungan, serta jaringan lokal yang dapat dipercaya.
Dalam hal ini, keluarga Stucky mengambil peran penting. Mereka membuka pintu rumahnya untuk menyambut para suster tersebut.
Para suster Ursulin tidak hanya menginap satu kali. Dalam beberapa kunjungan penjajakan berikutnya, rumah keluarga Stucky kembali menjadi tempat mereka bernaung.
Keterbukaan tersebut memberi para suster ruang untuk beradaptasi, mengamati kondisi masyarakat Malang, sekaligus mempersiapkan rencana pendirian sekolah.
Jika dilihat dari sisi formal, keluarga Stucky bukanlah pendiri Ordo Ursulin maupun pengelola sekolah.
Namun, dukungan mereka tetap menjadi bagian dari cerita yang menarik. Kesediaan menerima para suster dan adanya harapan agar lembaga pendidikan dapat hadir bagi anak-anak mereka merupakan bentuk dukungan nyata terhadap gagasan pendidikan yang pada masa itu masih berkembang.
Sebuah rumah kemudian menjadi salah satu tempat awal bagi perjumpaan antara gagasan pendidikan dan kehidupan masyarakat Malang.
Lahirnya Kompleks Sekolah
Dukungan awal dari keluarga Stucky kemudian menemukan kelanjutannya.
Setelah melalui proses persiapan dan survei lokasi, para suster Ursulin akhirnya resmi menetap dan membuka sekolah di Jalan Tjelaket Nomor 55.
Langkah yang bermula dari sebuah rumah keluarga tersebut kelak berkembang menjadi kompleks pendidikan Cor Jesu.
Selama bertahun-tahun hingga hari ini, lembaga tersebut terus tumbuh dan menjadi salah satu bagian penting dari sejarah pendidikan di Kota Malang. Ribuan murid perempuan dari berbagai generasi pernah menempuh pendidikan di sana.
Apa yang terlihat sekarang tentu merupakan hasil dari perjalanan panjang. Namun, seperti banyak kisah sejarah lainnya, perjalanan tersebut memiliki titik-titik awal yang mungkin pada masanya terlihat sederhana. Salah satunya adalah rumah keluarga Stucky.
Perubahan Fisik dan Warisan yang Bertahan
Perjalanan waktu perlahan mengubah wajah fisik bangunan yang dahulu menjadi kediaman keluarga Stucky.
Rumah tersebut ditempati keluarga Stucky sampai Ferdinand wafat pada 1926. Ia dimakamkan di Pemakaman Sukun. Setelah itu, rumah tersebut ditempati oleh anaknya, Laurien Stucky, bersama suaminya, Mr. Theophile Wurth, dan anak-anak mereka yang bersekolah di Cor Jesu.
Pada 1950, setelah Belanda mengakui Kemerdekaan Indonesia, banyak keluarga Belanda kembali ke negaranya, termasuk keluarga Stucky.
Sampai sekitar 1960an, rumah tersebut kemudian digunakan sebagai Universitas NU Fakultas Tarbiyah Muktalim.
Saat ini, lokasi tersebut dikenal sebagai Kompleks Taman Pendidikan Salahuddin.
Bentuk fisik rumah kuno itu memang telah berubah dan pengelolanya pun telah berganti. Namun, ada satu hal yang menarik untuk dicermati: fungsi lahan tersebut tetap berkaitan dengan dunia pendidikan.
Area yang dahulu menjadi bagian dari cerita awal hadirnya sekolah untuk anak perempuan, kini masih digunakan sebagai tempat anak-anak menuntut ilmu.
Bagi saya, kesinambungan tersebut menjadi bagian yang menarik dari perjalanan sejarah tempat ini.
Saya juga merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam tim penulis buku Cor Unum et Anima Una. Kesempatan tersebut tidak hanya membawa saya lebih dekat dengan sejarah Cor Jesu, tetapi juga mempertemukan saya dengan Jenneke Arens, seorang perempuan Belanda yang merupakan salah satu cicit Stucky dari garis mama.
Jenneke berkunjung ke Cor Jesu dalam rangka napak tilas perjalanan sejarah keluarganya di Malang.
Pertemuan tersebut memberi pengalaman tersendiri. Sejarah yang selama ini saya kenal melalui catatan dan penelusuran akhirnya memiliki wajah dan cerita manusia yang dapat ditemui secara langsung.
Menolak Lupa pada Pintu yang Pernah Terbuka
Saat ini, nama keluarga Stucky mungkin tidak banyak muncul dalam percakapan mengenai sejarah populer Kota Malang.
Jejak fisik keberadaan mereka juga telah banyak berubah seiring perjalanan zaman. Bahkan, batu nisan Ferdinand Stucky di Pemakaman Belanda Sukun kini disebut nyaris tak terawat dan belum banyak mendapat perhatian.
Namun, sejarah tidak selalu dapat diukur dari megahnya prasasti atau seberapa sering sebuah nama disebut.
Cerita keluarga Stucky memberikan pelajaran bahwa perubahan sosial dan sejarah yang panjang terkadang bermula dari langkah-langkah kecil yang pada awalnya mungkin tidak banyak mendapat perhatian.
Ketika melihat perempuan-perempuan di Kota Malang saat ini memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi, kita dapat melihatnya sebagai bagian dari proses panjang.
Pendidikan perempuan tidak hadir dalam satu waktu. Ada gagasan yang dirintis, ada pintu yang dibuka, ada orang-orang yang memberikan dukungan, dan ada generasi yang kemudian melanjutkan perjalanan tersebut.
Di balik tokoh-tokoh besar yang berdiri di panggung depan sejarah, sering kali terdapat orang-orang yang mengambil peran tanpa banyak disebut.
Mereka mungkin bukan pendiri, bukan pula tokoh utama yang namanya tercatat dalam banyak buku. Namun, keputusan kecil yang mereka ambil pada suatu masa dapat ikut membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar.
Keluarga Stucky adalah salah satu bagian dari kisah tersebut.
Sebuah keluarga yang pernah membuka pintu rumahnya bagi para suster Ursulin, dan dari pintu itu, sebuah perjalanan pendidikan kemudian berkembang jauh melampaui apa yang mungkin mereka bayangkan pada zamannya.
Mungkin, itulah salah satu cara sejarah mengajarkan kita tentang arti sebuah pintu yang terbuka.
Kadang-kadang, kita tidak pernah tahu sejauh apa perjalanan yang akan dimulai dari sana. Salam Lestari!
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Keluarga Stucky dan Jejak Awal Pendidikan Perempuan di Kota Malang"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya