
Apakah kita pernah berpikir bahwa di balik makanan tradisional seperti jagung bose, ada pengetahuan dan teknologi yang diwariskan dari generasi ke generasi?
Bagi masyarakat Atoin Meto di Timor, proses pengolahan jagung tidak hanya berkaitan dengan bahan pangan, tetapi juga dengan keterampilan memilih kayu, teknik menumbuk, dan pemanfaatan alat tradisional yang dikenal sebagai esu dan hanu.
Kedua alat tersebut memiliki peran penting dalam mengolah jagung sebelum dimasak menjadi jagung bose, salah satu makanan tradisional yang dikenal masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Keberadaan esu dan hanu memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu hadir dalam bentuk mesin modern. Teknologi juga dapat tumbuh dari kemampuan manusia memahami lingkungan dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pengetahuan tentang kedua alat ini bukan hanya menyangkut cara penggunaannya, tetapi juga pemilihan bahan baku, karakteristik kayu, dan keterampilan yang berkembang melalui pengalaman masyarakat dari generasi ke generasi.
Esu dan Hanu dalam Pengolahan Jagung
Esu merupakan lesung berbahan kayu yang berfungsi sebagai wadah untuk menumbuk jagung. Sementara itu, hanu adalah alu atau alat penumbuk yang digunakan bersama esu. Keduanya menjadi satu kesatuan teknologi tradisional yang membantu masyarakat mengolah biji jagung sebelum memasuki tahap pemasakan.
Cara penggunaannya relatif sederhana, tetapi tetap membutuhkan teknik tertentu. Jagung utuh dimasukkan ke dalam esu, kemudian ditumbuk menggunakan hanu untuk melepaskan kulit ari dari bijinya.
Dalam proses ini, air biasanya ditambahkan untuk melembapkan jagung. Praktik tersebut membantu mempercepat pelepasan kulit ari sehingga proses pengolahan dapat berlangsung lebih efektif.
Proses ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengolahan jagung tidak hanya bergantung pada kekuatan orang yang menumbuk atau bentuk alat yang digunakan.
Pengalaman dalam menentukan jumlah air, mengatur proses penumbukan, dan mengenali perubahan kondisi jagung juga menjadi bagian dari pengetahuan praktis yang menyertai penggunaan esu dan hanu.
Pole dan Ti'i: Pengetahuan Memilih Bahan Baku
Salah satu hal menarik dari teknologi tradisional ini adalah pemilihan jenis kayu. Esu tidak dibuat dari sembarang kayu. Masyarakat mengenal pole sebagai salah satu jenis kayu yang dianggap paling baik untuk membuat esu, karena memiliki serat yang kuat dan tahan terhadap kerusakan akibat serangan organisme perusak kayu.
Berdasarkan pengetahuan masyarakat yang menggunakan alat ini, kayu pole dinilai lebih baik dibandingkan beberapa jenis kayu lainnya. Pemilihan tersebut memperlihatkan adanya pertimbangan praktis dalam menentukan bahan baku. Kayu yang digunakan harus mampu menjalankan fungsinya sebagai wadah penumbukan sekaligus bertahan selama digunakan.
Berbeda dengan esu, hanu dibuat dari kayu ti'i. Pemilihan bahan yang berbeda untuk kedua alat tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar memanfaatkan kayu yang tersedia di lingkungan mereka. Ada pengetahuan mengenai karakteristik bahan yang dianggap sesuai dengan fungsi masing-masing alat.