Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Neno Andreas Salukh
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Neno Andreas Salukh adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose

Kompas.com, 18 Oktober 2026, 11:27 WIB

Pengalaman menggunakan alat juga menjadi bagian penting dari pengetahuan tersebut. Masyarakat mengamati bahwa kayu hanu menjadi semakin padat setelah digunakan dalam waktu lama. Pengamatan ini merupakan bagian dari pengetahuan empiris yang berkembang melalui interaksi berulang antara manusia, alat, dan bahan pangan.

Meski demikian, untuk memastikan apakah perubahan kepadatan tersebut berkaitan dengan perubahan struktur kayu atau faktor lainnya, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Teknologi yang Dipelajari dalam Kehidupan Sehari-hari

Esu dan hanu menarik bukan hanya karena bentuk dan fungsinya, tetapi juga karena cara pengetahuan mengenai pembuatannya diwariskan dalam masyarakat.

Berdasarkan pengalaman yang diceritakan, hampir semua orang yang mengenal tradisi ini dapat membuat kedua alat tersebut. Artinya, keterampilan tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada pengrajin khusus.

Dalam perspektif antropologi, kondisi ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan teknologi dapat tumbuh dan bertahan melalui praktik sosial sehari-hari. Pengetahuan tentang jenis kayu yang tepat, cara membentuk alat, dan teknik penggunaannya dapat dipelajari melalui pengamatan, pengalaman, serta keterlibatan langsung dalam kegiatan rumah tangga.

Teknologi semacam ini tidak selalu membutuhkan rumusan tertulis untuk diwariskan. Sebagian pengetahuannya tersimpan dalam keterampilan tubuh, kebiasaan, dan kemampuan mengenali karakteristik bahan.

Seseorang mungkin mengetahui jenis kayu yang tepat untuk membuat esu tanpa harus mampu menjelaskan sifat seratnya menggunakan istilah ilmiah. Pengetahuan tersebut terbentuk melalui pengalaman panjang dan pengamatan terhadap hasil penggunaannya.

Karena itu, esu dan hanu dapat dipahami sebagai hasil pertemuan antara sumber daya alam, kebutuhan pangan, dan pengetahuan masyarakat. Keduanya menjadi contoh bahwa teknologi tradisional tidak lahir begitu saja, melainkan berkembang melalui proses belajar dan penyesuaian terhadap kebutuhan hidup.

Ketika Teknologi Tradisional Mulai Ditinggalkan

Meskipun masih digunakan oleh sebagian masyarakat, esu dan hanu mulai ditinggalkan oleh sebagian lainnya. Perubahan ini perlu dipahami dalam konteks perkembangan teknologi pengolahan pangan, perubahan kebiasaan rumah tangga, dan cara masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kehadiran alat penggiling atau teknologi pengolahan yang lebih praktis dapat memengaruhi pilihan masyarakat. Proses yang sebelumnya membutuhkan tenaga dan waktu kini dapat dilakukan dengan cara berbeda.

Perubahan tersebut tidak serta-merta berarti teknologi tradisional lebih unggul daripada teknologi modern, begitu pula sebaliknya. Setiap teknologi memiliki karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada apakah masyarakat masih menggunakan esu dan hanu. Ketika kedua alat tersebut semakin jarang digunakan, pengetahuan tentang pemilihan kayu pole dan ti'i, teknik penumbukan, serta penggunaan air dalam pengolahan jagung juga berisiko semakin jarang dipraktikkan dan diwariskan.

Oleh karena itu, dokumentasi pengetahuan lokal menjadi penting. Mendokumentasikan pengetahuan tersebut bukan berarti menolak perubahan atau mewajibkan masyarakat kembali menggunakan alat tradisional. Tujuannya adalah memastikan bahwa pengetahuan yang berkembang melalui pengalaman panjang masyarakat tidak hilang begitu saja ketika cara hidup berubah.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Kata Netizen
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Kata Netizen
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Kata Netizen
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Kata Netizen
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau