Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ade Candra
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Ade Candra adalah seorang yang berprofesi sebagai Insinyur. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ini 7 Alasan Mengapa KUR Pertanian Tidak Terlalu Diminati Petani

Kompas.com, 12 Maret 2023, 09:32 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Meski memang dana-dana tersebut disertai konsekuensi yang merugikan para petani yang meminjam.

Sementara, untuk mengurus KUR perlu melewati proses yang sulit, butuh banyak waktu, dan bagi para petani sistem pengangsuran biaya pinajaman plus bunganya tiap bulan dirasa cukup menyulitkan.

Jadi, meski ada konsekuensi tersendiri yang harus diterima, meminjam kepada toke atau tengkulak lebih diminati petani daripada mesti mengurus KUR.

Untuk mendukung pernyataan tersebut, hasil survei Rantai Nilai kegiatan IPDMIP di Daerah Irigasi (DI) Batang Pekok tahun 2021 menjelaskan ada beberapa penyebab KUR Tani tidak terlalu diminati oleh petani.

Pertama, prosesnya ribet. Sebagian petani malas berurusan dengan Bank dan birokrasi. Bisa jadi disebabkan ketidak tahuan informasi dan tingkat pendidikan yang rendah.

Kedua, pinjaman plus bunga KUR Harus dibayar setiap bulan. Padahal modal yang dipinjam sudah habis digunakan baik untuk konsumtif maupun untuk modal budidaya.

Ketiga, uang hasil pembiayaan KUR tidak sepenuhnya digunakan untuk budidaya, acap kali digunakan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, sehingga target pembiayaan KUR untuk biaya usaha tani tidak tercapai. Akibatnya produksi yang sudah direncanakan juga tidak sesuai harapan.

Keempat, petani kesulitan mencari akses pemasaran. Sementara jika berhubungan dengan tengkulak, soal pemasaran hasil panen sudah terjamin. Kondisi ini akan sangat terlihat di daerah-daerah terpencil dengan akses jalan yang sulit dan rusak.

Dengan kondisi yang demikian, petani akan kesulitan membawa hasil panen ke kota untuk menjualnya. Jadi di sinilah terlihat peran toke atau tengkulak “memperdaya” petani dengan menyediakan transportasi dengan konsekuensi tertentu yang ditanggung petani.

Kelima, jangka waktu angsuran atau pengembalian KUR cukup lama sehingga terasa sangat memberatkan.

Keenam, lokasi petani berada di daerah terpencil sehingga akses informasi tentang kredit KUR pun masih minim.

Ketujuh, sebagian besar petani sudah mendapatkan pinjaman melalui kredit umum atau reguler, sedangkan KUR yang dipersyaratkan Pemerintah adalah tidak atau belum pernah meminjam ke bank yang telah ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan KUR. Suatu dilema memang!

Ketujuh faktor ini tidak bisa dimungkiri menjadi penyebab KUR tani Tidak diminati petani di beberapa daerah.

Padahal di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pertanian seperti dilansir kompas.com, telah berhasil meningkatkan serapan kredit KUR pertanian hingga menembus angka Rp39,337 triliun lebih.

Jumlah tersebut memang masih jauh dari alokasi anggaran yang berjumlah Rp90 triliun per bulan Mei 2022. Akan tetapi, dengan berbagai fasilitas yang dilakukan pemerintah, kerja nyata petugas di lapangan, serta dukungan akses mudah dari lembaga perbankan mungkin bisa meningkatkan serapa KUR tani lebih tinggi lagi.

Harapannya, jika jumlah tersebut terpenuhi, maka akan semakin sedikit petani yang bergantung pada toke atau tengkulak, bahkan semoga tak akan ada lagi petani yang terlibat dengan para toke atau tengkulak ini.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tujuh Alasan Mengapa KUR Tani Tidak Diminati Petani"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau