Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nor Qomariyah
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Nor Qomariyah adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Waithood di Kalangan Perempuan, Sebuah Fenomena Global

Kompas.com, 12 Maret 2024, 16:04 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Keempat, faktor trauma. Banyak dari kita, baik yang termasuk generasi Milenial ataupun Gen Z yang memiliki trauma. Seringnya trauma ini membuat seseorang, terutama perempuan, merasa sulit kembali untuk menjalani kehidupan normal dan membuatnya takut untuk memulai sebuah hubungan, khususnya percintaan.

Waithood, Sebuah Fenomena Sosial-Global

Fenomena waithood tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara seperti Jepang, Jerman, Yordania, China, Amerika Serikat, Rwanda, dan Guatemala. Perempuan Jepang melihat pernikahan sebagai beban yang dapat menghambat langkah mereka dalam meraih pendidikan lebih tinggi.

Hal ini pada akhirnya menyebabkan penurunan populasi manusia secara signifikan. Jerman mengalami peningkatan jumlah perempuan yang merasa lebih bahagia tanpa pasangan, menunjukkan tren yang meningkat sejak tahun 2005.

Peningkatan jumlah kelompok muda yang memilih untuk berstatus lajang juga terjadi di Indonesia. Pada tahun 2021, persentase lajang dewasa mencapai 61,09%. Angka ini meningkat jika dibandingkan pada tahun 2011 yang jumlahnya sekitar 51,98% (Kompas.id, 2022).

Berdasarkan data ini, menurut Marcia C. Inhorn dan Nancy J. Smith-Hefner dalam bukunya yang berjudul Waithood: Gender, Education, and Global Delays in Marriage and Childbearing mengatakan bahwa waithood pada akhirnya mendorong kaum muda untuk menunda pernikahan hingga childfree.

Jika ditilik secara konstruksi sosial, waithood terjadi tak hanya disebabkan karena adanya transformasi praktis dari berbagai pengaruh, seperti sosial, lingkungan, hingga kehidupan/aktivitas digial, melainkan juga disebabkan oleh terbentuknya karakter individu, terutama perempuan, yang lebih percaya diri, mandiri secara ekonomi, lebih punya nilai, dan lain-lain.

Meski begitu alasan mengapa seseorang memutuskan untuk waithood tentu akan berbeda-beda tergantung bagaimana ia menempatkan dirinya. Sebab, fenomena ini merupakan dinamika sosial dan perubahan ini tentu harus dimengerti sebagai perjalanan hidup seseorang. Artinya, ketika seseorang memutuskan untuk menunda pernikahan, maka sudah tentu itu menjadi urusan pribadi yang justru harus didukung oleh lingkungan di sekitarnya.

Pilihan untuk menunda pernikahan atau menjalani waithood tentu harus diimbangi dengan peningkatan nilai diri serta pemahaman dan pengetahuan dari diri seorang perempuan. Sebab, hal itu akan bisa menciptakan ruang dan tatanan yang lebih mendukung pengembangan diri dalam meraih kebahagiaan.

Pada akhirnya, pilihan untuk waithood layaknya lampu merah di persimpangan jalan, yang pada akhirnya akan segera berganti menjadi hijau dan itu berarti kita sebagai manusia harus melanjutkan perjalanan hidup kita hingga generasi berikutnya. Dengan memiliki bekal ilmu serta nilai diri yang cukup, maka niscaya kita semua akan siap baik secara mental maupun fisik untuk menghadapi berbagai fenomena sosial dan lingkungan sekitar kita yang terus bergerak secara dinamis.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Perempuan Memilih Berhenti di "Lampu Merah" atau Waithood, Fenomena Sosial-Global?"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau