Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nor Qomariyah
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Nor Qomariyah adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Waithood di Kalangan Perempuan, Sebuah Fenomena Global

Kompas.com, 12 Maret 2024, 16:04 WIB

"Tapi ku berada di lampu merah. Ku harap kau sabar untuk menunggu aku di sana. Walau ku berada di lampu merah" - (The Lantis, 2021)

Sepenggal lirik lagu tersebut telah menjadi sangat populer di tahun 2021. Lagu dari grup band indie pop ini viral di berbagai media sosial seperti TikTok dan Instagram, serta mendominasi di platform streaming musik Spotify.

Lagu "Lampu Merah" juga mengandung metafora mendalam yang menggambarkan perjalanan hidup seseorang, baik laki-laki maupun perempuan yang terhenti sejenak atau terjebak dalam situasi tertentu.

Saat berhenti inilah, seseorang akan meminta calon pasangannya untuk menunggu atau bahkan berhenti hingga waktu menemukan pasangan yang tepat tiba. Ketika seseorang berhenti sejenak dalam hidupnya, harapannya akan memberikan waktu untuk menemukan jalan keluar atau solusi agar bisa terus melanjutkan hidupnya dan bisa mengatasi segala masalah yang ada.

Layaknya lampu lalu lintas, cepat atau lambat lampu hijau akan menyala, dan kita akan segera melanjutkan perjalanan lagi dalam hidup kita hingga akhirnya tiba pada tujuan masing-masing.

Lagu "Lampu Merah" juga mencerminkan fenomena sosial yang dikenal dengan istilah "waithood". Istilah ini berasal dari bahasa Inggris, yang secara harfiah berarti "masa tunggu" atau "masa menunggu". Diane Singerman, seorang profesor di American University, dalam publikasinya yang berjudul Imperatives of Marriage: Emerging Practices and Identities among Youth in the Middle East mendefinisikan waithood sebagai penundaan pernikahan yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pendidikan, karier, dan tuntutan ekonomi keluarga (Singerman, 2007).

Di Indonesia, waithood tidak hanya merupakan fenomena lokal, melainkan juga bagian dari tren global yang mulai muncul pada abad ke-21. Bukan hanya budaya patriarki yang berperan sebagai penyebab waithood, tetapi faktor ekonomi dan kesulitan dalam membina hubungan pernikahan juga menjadi faktor utama.

Diah, seorang Mahasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta misalnya, mengungkapkan bahwa, meskipun telah berpacaran cukup lama, ia tidak lagi merasa terburu-buru untuk menikah di usianya yang sudah memasuki 30 tahun. Beda Diah, beda juga Putra seorang karyawan swasta yang bekerja di Kalimantan Timur, yang melihat pernikahan sebagai langkah penting dalam meningkatkan strata sosialnya. Bahkan ia menganggap pernikahan menjadi tujuan yang harus dicapai saat ia menginjak usia 26 tahun.

Perbedaan pandangan ini yang kemudian menciptakan konstruksi baru dalam kehidupan sosial generasi Z. Beberapa individu, seperti Diah, lebih memilih fokus pada persiapan masa depan dan kehidupan ekonominya, sedangkan yang lain, seperti Putra, melihat pernikahan sebagai cara untuk meningkatkan strata sosial. Kesadaran ekonomi menjadi faktor utama bagi Diah, sementara Putra melihat pernikahan sebagai manifestasi strata sosial yang dapat memberikan keuntungan dalam kehidupan masa depan.

Data dari BPS RI (2022) menunjukkan bahwa Indonesia mengalami tren penurunan jumlah pernikahan yang cukup tajam dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Di tahun 2022, Indonesia hanya mencatatkan 1,7 juta pernikahan secara nasional, dengan usia rata-rata di atas 22 tahun dan rata-rata kelahiran anak hanya satu. Paradigma mengenai kualitas hidup setelah menikah menjadi isu penting, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini.

Pertama, pendidikan dan karier. Bagi kaum Gen Z pendidikan menjadi kebutuhan dasar yang dapat membantu mereka meraih harapan dan menghadapi berbagai krisis sosial dengan kematangan. Dengan pendidikan mereka akan bisa menghadapi berbagai krisis sosial yang muncul dalam bentuk berbagai kultur dan coraknya.

Oleh karenanya, sangat masuk akal apabila pendidikan dan karier bagi Gen Z masuk dalam kategori "very important" dengan jumlah 83% di berbagai belahan dunia menurut survei Gallup and Walton Family-US Youth Survey (2023).

Kedua, faktor psikologi sandwich. Umumnya mereka yang tergolong Gen Z berada pada posisi "sandwich psychology". Jika dilihat secara psikologis, para Gen Z ini memiliki tanggung jawab ganda yang artinya ia harus memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya yang lain, seperti orangtua dan saudara kandungnya.

Akibatnya, ia tak lagi memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Situasi ini membuat Gen Z berada di posisi yang begitu rumit dan menjadi salah satu faktor yang membuat mengapa banyak dari mereka memutuskan untuk menunda pernikahan.

Ketiga, merasa sulit menemukan pasangan yang cocok. Menemukan pasangan yang sesuai dengan kriteria juga menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi perempuan. Pasalnya, kaum hawa ini memang memiliki kecenderungan untuk lebih berhati-hati ketika memilih pasangan. Ditambah lagi ia harus mengenal Sang Calon Pasangan secara pribadi lebih dalam sebelum memutuskan untuk menikah.

Keempat, faktor trauma. Banyak dari kita, baik yang termasuk generasi Milenial ataupun Gen Z yang memiliki trauma. Seringnya trauma ini membuat seseorang, terutama perempuan, merasa sulit kembali untuk menjalani kehidupan normal dan membuatnya takut untuk memulai sebuah hubungan, khususnya percintaan.

Waithood, Sebuah Fenomena Sosial-Global

Fenomena waithood tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara seperti Jepang, Jerman, Yordania, China, Amerika Serikat, Rwanda, dan Guatemala. Perempuan Jepang melihat pernikahan sebagai beban yang dapat menghambat langkah mereka dalam meraih pendidikan lebih tinggi.

Hal ini pada akhirnya menyebabkan penurunan populasi manusia secara signifikan. Jerman mengalami peningkatan jumlah perempuan yang merasa lebih bahagia tanpa pasangan, menunjukkan tren yang meningkat sejak tahun 2005.

Peningkatan jumlah kelompok muda yang memilih untuk berstatus lajang juga terjadi di Indonesia. Pada tahun 2021, persentase lajang dewasa mencapai 61,09%. Angka ini meningkat jika dibandingkan pada tahun 2011 yang jumlahnya sekitar 51,98% (Kompas.id, 2022).

Berdasarkan data ini, menurut Marcia C. Inhorn dan Nancy J. Smith-Hefner dalam bukunya yang berjudul Waithood: Gender, Education, and Global Delays in Marriage and Childbearing mengatakan bahwa waithood pada akhirnya mendorong kaum muda untuk menunda pernikahan hingga childfree.

Jika ditilik secara konstruksi sosial, waithood terjadi tak hanya disebabkan karena adanya transformasi praktis dari berbagai pengaruh, seperti sosial, lingkungan, hingga kehidupan/aktivitas digial, melainkan juga disebabkan oleh terbentuknya karakter individu, terutama perempuan, yang lebih percaya diri, mandiri secara ekonomi, lebih punya nilai, dan lain-lain.

Meski begitu alasan mengapa seseorang memutuskan untuk waithood tentu akan berbeda-beda tergantung bagaimana ia menempatkan dirinya. Sebab, fenomena ini merupakan dinamika sosial dan perubahan ini tentu harus dimengerti sebagai perjalanan hidup seseorang. Artinya, ketika seseorang memutuskan untuk menunda pernikahan, maka sudah tentu itu menjadi urusan pribadi yang justru harus didukung oleh lingkungan di sekitarnya.

Pilihan untuk menunda pernikahan atau menjalani waithood tentu harus diimbangi dengan peningkatan nilai diri serta pemahaman dan pengetahuan dari diri seorang perempuan. Sebab, hal itu akan bisa menciptakan ruang dan tatanan yang lebih mendukung pengembangan diri dalam meraih kebahagiaan.

Pada akhirnya, pilihan untuk waithood layaknya lampu merah di persimpangan jalan, yang pada akhirnya akan segera berganti menjadi hijau dan itu berarti kita sebagai manusia harus melanjutkan perjalanan hidup kita hingga generasi berikutnya. Dengan memiliki bekal ilmu serta nilai diri yang cukup, maka niscaya kita semua akan siap baik secara mental maupun fisik untuk menghadapi berbagai fenomena sosial dan lingkungan sekitar kita yang terus bergerak secara dinamis.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Perempuan Memilih Berhenti di "Lampu Merah" atau Waithood, Fenomena Sosial-Global?"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Kata Netizen
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Kata Netizen
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau