Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Siska Fajarrany
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Siska Fajarrany adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Anak Mental Strawberry Generation, Apakah Karena Terlalu Dimanjakan?

Kompas.com, 30 November 2024, 20:55 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Dikutip dalam kompas.com, menurut Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, strawberry generation adalah istilah yang mencerminkan generasi muda yang memiliki kemiripan dengan buah stroberi. 

Buah strawberry yang asam dengan warna mencolok yang menarik perhatian menjadi gambaran generasi yang selunak buah strawberry. Terlihat menarik dan memikat. Namun saat ditekan atau bahkan dipijak mudah sekali hancur.

Meminjam istilah anak zaman now, generasi strawberry terbilang gampang baper (bawa perasaan) sehingga sensitif sekali menerima kritik. Bahkan terbilang tidak menerima atau alergi terhadap kritikan orang lain. Tidak hanya kritikan, generasi ini juga tidak mau menerima pendapat orang lain. Merasa pendapatnya yang paling benar dan tidak mau kalah saing.

Karakter generasi strawberry menumbuhkan mental yang lemah. Sulit untuk menerima kegagalan dan kekalahan, membuat generasi strawberry mudah putus asa dan berujung rentan terkena stres.

Alhasil, generasi strawberry kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang tidak ia sukai. Perubahan-perubahan yang terjadi sekaligus masalah-masalah dalam kehidupan yang harus dihadapi.

Mungkin bagi sebagian orangtua, menjadi strawberry parents merupakan upaya menjaga dan melindungi anak dari segala hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Namun ternyata pola asuh seperti ini akan membuat anak tumbuh dengan mental strawberry.

Memang tidak semuanya buruk. Mengingat generasi strawberry adalah generasi yang memiliki ide-ide kreatif.

Namun anak yang bermental strawberry akan mengalami banyak kesulitan saat berada dalam lingkungan.

Khususnya ketika tanpa peranan orangtua yang menyertainya. Ia akan ketergantungan pada orangtua, sulit mandiri, emosional, tak terima perbedaan, sampai berujung rentan terkena stres.

Nasi sudah menjadi bubur. Yang berlalu biarkan berlalu. Sudah saatnya memulai untuk mencegah anak memiliki mental selembek strawberry. Anak harus tumbuh menjadi pribadi pemberani, berjiwa sosial tinggi, dan bisa mengendalikan dirinya dalam situasi apapun.

Kuncinya adalah dengan memberikan kepercayaan kepada anak. Dengan memberikan anak kepercayaan, keberaniaan akan tumbuh sedikit demi sedikip.

Meski mulanya anak adalah pribadi yang cengeng, tetapi lambat laun ia akan merasa bisa karena orangtuanya sendiri percaya bahwa dirinya adalah anak yang pemberani.

Dengan begitu, anak akan belajar untuk memecahkan masalahnya sendiri. Mulai dari hal-hal sederhana yang bisa terjangkau olehnya. Seperti menemukan mainan di rumah, membereskan mainannya sendiri, sampai tiba saatnya ia berada dalam lingkungan pertemanan seusianya yang tidak menutup kemungkinan terjadi konflik-konflik ringan.

Tanamkan selalu nilai-nilai positif kepada anak. Beri kalimat-kalimat positif yang dapat memotivasi anak untuk menjalankan aktivitasnya. Mengutarakan kalimat penyemangat sembari memberikan sentuhan hangat kepada si kecil.

Berikan batasan-batasan yang dapat diminta anak. Jangan biasakan anak bisa bebas sesuka hati meminta apapun kepada orangtua meski orangtua sanggup untuk memberikan segalanya. Kompromikan dengan si kecil apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak boleh.

Begitu pun ketika anak melakukan kesalahan. Menasehatinya bahwa perbuatannya itu tidak benar. Meluruskun yang salah agar tidak terjadi lagi. Jika dirasa sudah melewati batas, tak apa untuk memberikan hukuman yang membuat anak tersadar bahwa perilakunya salah.

Termasuk ketika anak mencapai sesuatu. Beri apresiasi dengan penuh kebanggaan. Apresiasi tidak hanya sekadar soal materi saja. Biasakan memberikan ucapan positif dengan sentuhan hangat yang membuat anak merasa dicintai. 

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Terlalu Memanjakan Membuat Anak Bermental Strawberry Generation"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Kata Netizen
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Kata Netizen
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Kata Netizen
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau