
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Saat ini orang-orang masih banyak yang berpikir dan menimbang ulang sebelum akhirnya menggunakan mobil listrik.
Akan tetapi, bagaimana akhirnya menggunakan mobil listrik karena menang hadiah?
Itulah yang terjadi pada saya. Mobil listrik Wuling Air EV merupakan hasil yang saya dapatkan dari memenangkan sebuah kontes foto di Instagram.
Alhamdulillah dan saya bersyukur sekali bisa memiliki mobil listrik yang bahkan terbayang sebelumnya pun tidak. Mobilitas saya pun kian terbantu dengan adanya kendaraan ini.
Satu hal yang bikin saya lega adalah mobil ini memang terbukti irit seirit-iritnya. Bahkan, andai saya dapat hadiah mobil konvensional BBM, barangkali saya justru pusing dengan anggaran beli BBM, service, dan pajak tahunannya.
Jadi bagi brand yang mau mengadakan kompetisi berhadiah mobil, sebaiknya memang mobil listrik bukan BBM. Karena bisa jadi yang menang profilnya seperti saya, belum kuat dan siap menyisihkan anggaran untuk BBM, service dan pajak tahunan.
Tiga komponen itu bagi saya saat ini terbilang masih terjangkau sebagai pemilik mobil listrik.
Pertama, bahan bakar. Teman-teman saya mengatakan minimal harus keluar 100 ribu rupiah tiap kali keluar rumah menggunakan mobil hanya untuk biaya beli BBM.
Sedangkan saya hampir tak pernah risau ongkos bahan bakar ketika keluar rumah dengan menggunakan mobil listrik.
Bukan, bukan karena saya banyak duit. Tapi memang ongkos ngecas listrik jauh lebih hemat dibandingkan beli bensin.
Selama ini saya ngecas mobil di rumah. Minimal daya listrik untuk charging di rumah memang 2200 VA, tapi karena berbarengan dengan penggunaan listrik rumah maka saya memilih naik daya ke 5500 VA dari semula 1300 VA.
Biaya naik daya ini ternyata cukup terjangkau karena waktu itu ada diskon bagi pemilik kendaraan listrik dan oleh pihak dealer difasilitasi pemasangan MCB tersendiri, sehingga lebih aman terhadap risiko bahaya karena terpisah MCB dengan pemakaian peralatan listrik rumah tangga.
Meski demikian, konsumsi listrik di rumah masih gitu-gitu saja. Saya ngisi token sebulan rata-rata masih 500 ribu, termasuk untuk ngecas mobil listrik.
Ya, maklumlah, rumah kami tanpa AC, dan konsumsi peralatan elektronik lainnya masih terbilang normal.
Jika dihitung-hitung, biaya listrik untuk sebulan pemakaian ternyata lebih murah dibandingkan konsumsi bensin sepeda motor di rumah kami.
Meskipun saya menggunakannya hanya pada waktu weekend atau sesekali ke kantor, karena untuk pergi bekerja saya masih merasa nyaman naik KRL yang tidak kena macet di jalan.
Tetapi ketika melakukan perjalanan dengan mobil listrik dengan total jarak tempuh 200 kilometer, biaya konsumsi listriknya masih lebih murah dibandingkan makan berempat di warteg.
Kemudian biaya service rutin di bengkel resmi. Setidaknya sudah beberapa kali saya service rutin sesuai buku petunjuk dan biayanya masih terjangkau.
Mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen yang bergerak dan tidak membutuhkan pergantian oli mesin. Paling komponen yang dicek dan mesti dilakukan pergantian rutin seperti filter AC, cairan rem, dan cairan wiper.
Maka, bawa uang 500 ribu ke bengkel buat jaga-jaga biasanya masih sisa dan cukup untuk makan di mal atau nonton bioskop.
Nah, yang paling bikin lega untuk saat ini masih ada insentif pajak bagi mobil listrik sehingga pengalaman membayar pajak tahunan ke Samsat hanya bayar 0 rupiah. Saya hanya dikenakan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) sekitar Rp140 ribuan plus ongkos biaya beli gorengan dan air mineral saat menunggu antrean loket.
Lagi-lagi masih lebih murah dibandingkan pajak tahunan sepeda motor bensin keluaran baru.
Sebelumnya di tahun 2023 itu saya masih buta soal mobil listrik, dan waktu itu belum banyak beredar berbagai jenis dan merk mobil listrik seperti sekarang. Tapi begitu mulai mengemudi dengan mobil listrik, seolah mobil BBM tidak lagi menarik di mata saya.
Meskipun berukuran kecil, mobil saya masih mampu mengangkut lima orang penumpang dewasa. Masih bisa pula melaju sampai 200 kilometer dalam sekali ngecas.
Kelebihan lainnya soal nyari parkiran yang relatif lebih mudah dan gampang dicarikan Kang Parkir lokasi nyempil di pojokan jika parkiran terlihat penuh.
Soal masuk jalanan kecil juga lebih enak karena lebih mudah manuver jika ketemu kendaraan lain di jalanan yang hanya muat satu mobil. Benar-benar cocok bagi saya yang tinggal di lingkungan jalanan sempit khas pinggiran Jabodetabek.
Nah, gara-gara sejak 2023 sudah punya mobil listrik (alhamdulillah), sampai sekarang saya banyak menerima pertanyaan dan bahkan diajak debat soal mobil listrik ini.
Bak narasumber dadakan (dan nggak dibayar) saya mesti menjawab pengalaman saya menggunakan mobil listrik dari sisi pengguna.
Pertanyaan soal ngecas dan SPKLU termasuk yang sering ditanyakan. Mereka khawatir jika menggunakan mobil listrik sewaktu-waktu daya habis dan nggak nemu SPKLU terus bagaimana?
Menjawab pertanyaan ini tentu saya perlu memberi gambaran bahwa habit pengguna mobil listrik tentu saja harus berbeda dengan mobil BBM.
Mobilitas saya biasanya hanya seputar Jabodetabek, dan itu kalau dari rumah dalam kondisi baterai 100%, pulangnya masih sisa 50% lebih.
Jadi saya tak perlu pusing mencari SPKLU, karena saya sudah perkirakan mau ke mana, mampir ke mana, dan lewat mana saja.
Jika totalnya masih di bawah 200 kilometer ya ngapain nyari SPKLU. Balik ke rumah dan ngecas dari malam, ditinggal tidur, paginya sudah full lagi.
Pertanyaan selanjutnya soal nilai jual kembali, apakah worth it? Terlepas dari saya yang modalnya gratisan, tapi seharusnya dengan segala efisiensi mobil listrik, pemilik mobil listrik sudah nggak mikirin lagi soal mau nilai jualnya jatuh.
Misal saja, beli baru mobil kelas LCGC seharga 200 juta dan selama 5 tahun masih bisa dijual 150 juta. Dibandingkan beli mobil listrik mini dengan harga barunya sekitar 200 juta dan setelah 5 tahun pemakaian mungkin hanya laku 40-50 juta saja.
Harusnya perbandingan itu diikuti efisiensi biaya operasional, termasuk biaya service dan pajak yang jauh lebih tinggi mobil LCGC. Bayangkan saja, dari sisi bahan bakar, jika mobil konvensional kurang lebih butuh biaya BBM minimal 2 juta rupiah per bulannya, tentu lebih boros dibandingkan mobil listrik yang rata-rata butuh 300 ribu per bulan untuk ngecas (untuk pemakaian setiap hari).
Pertanyaan demikian biasanya juga diikuti dengan ketakutan soal harga baterai jika rusak yang bisa seharga mobilnya. Lah, ngapain takut, kan mobil saya punya garansi delapan tahun, termasuk garansi baterai. Bahkan, untuk mobil keluaran terbaru sudah digaransi seumur hidup.
Bahkan, tanpa garansi pun seharusnya nggak perlu paranoid soal baterai cepat soak atau rusak. Sampai dengan service rutin bulan lalu, baterai health mobil saya masih 100% alias baik-baik saja.
Pertanyaan-pertanyaan lain pun kadang hanya ketakutan tak berdasar yang timbul karena perang konten di media sosial. Termasuk soal isu lingkungan.
"Ah, gara-gara mobil listrik banyak tambang nikel merusak lingkungan," ucap mereka pengguna kendaraan BBM yang bikin polusi udara.
Padahal yang salah bukan mobil listriknya. Tapi pengelolaan tambangnya.
Toh, kalau anti mobil listrik gara-gara tambang nikel merusak lingkungan, bukannya mereka juga pakai smartphone hingga laptop yang pakai unsur nikel juga?
Pada akhirnya soal memilih mobil listrik atau konvensional itu pilihan masing-masing. Tetapi tak elok juga menghakimi sesuatu hal tanpa pernah mencobanya langsung.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pengalaman Menggunakan Mobil Listrik Setelah 20 Bulan Pemakaian"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang