
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah bertambahnya usia selalu berarti semakin banyak yang kita miliki? Atau justru tiba saatnya kita belajar memilih, menyimpan yang paling bermakna dan dengan tenang melepaskan yang lain?
Perjalanan merampingkan hidup ini sebenarnya bermula dari kebiasaan berbenah di akhir tahun lalu. Saat itu, fokusku masih sederhana: melepas berbagai beban yang terasa menumpuk di rumah.
Namun kali ini tantangannya terasa jauh lebih personal.
Aku harus berhadapan dengan benda-benda yang tidak sekadar barang. Ada jejak emosi yang melekat di dalamnya. Yang paling kuat tentu saja kebaya dan kain batik milik almarhumah Ibu. Salah satu yang paling kusukai adalah kebaya berwarna magenta ini.
Jariku sempat tertahan di antara jalinan sulur brokat berwarna merah muda tua yang masih tampak tegas, meski seratnya mulai menua. Kebaya itu sudah belasan tahun terlipat di sudut lemari, membawa aroma kamper yang bercampur dengan kenangan berbagai hajatan keluarga di masa lalu.
Aku berdiri di depan lemari yang terasa sesak dan tiba-tiba memahami sesuatu yang selama ini kuhindari: menyimpan kebaya dan kain-kain itu tidak akan membuat Ibu kembali. Ia hanya memenuhi ruang yang sebenarnya bisa memberi hidupku sedikit kelonggaran.
Di titik itu aku menyadari bahwa merampingkan hidup menjelang usia enam puluh bukan sekadar urusan membuang barang. Ia lebih menyerupai sebuah seni memilah—mana cinta yang perlu terus disimpan dalam hati, dan mana benda yang cukup tinggal sebagai kenangan.
Seni Menjadi Kurator Kehidupan
Puluhan tahun hidup kita cenderung bergerak dalam satu arah: menumpuk dan menambah.
Perabot terus berdatangan mulai dari kursi kayu yang awalnya dibeli demi estetika, hingga sepasang barbel yang kini lebih banyak beristirahat di bawah tempat tidur, berdebu bersama niat olahraga yang sering tertunda.
Tanpa sadar kita seperti sedang membangun museum pribadi, bukan sekadar rumah tinggal. Seolah-olah semakin banyak barang berarti hidup semakin lengkap.
Namun memasuki fase jenampu, ada suara kecil yang semakin sering terdengar: cukup.
Minimalisme yang kini banyak dibicarakan bukan berarti hidup asketik yang serba kosong. Ia lebih merupakan perubahan peran dari seorang kolektor menjadi seorang kurator.
Seorang kolektor cenderung menyimpan semuanya.
Seorang kurator memilih dengan hati-hati apa yang benar-benar layak untuk tetap tinggal.
Aku baru benar-benar memahami perbedaan itu ketika berdiri di depan kebaya Ibu.
Menyimpan kebaya itu apa adanya mungkin adalah sikap seorang kolektor. Tetapi memotretnya sebagai kenangan lalu mendonasikannya agar tetap hidup bagi orang lain—itulah tindakan seorang kurator.
Perlahan aku menyadari bahwa beban fisik barang-barang di rumah sering kali berjalan seiring dengan beban di pikiran.