
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seberapa besar pengaruh senyum seorang guru terhadap suasana belajar murid di kelas? Mungkinkah senyum sederhana justru menjadi kunci yang menghadirkan kenyamanan, semangat belajar, bahkan perubahan emosi pada diri murid?
Senyum adalah ekspresi yang paling mudah dikenali. Ia hadir melalui wajah, terutama melalui mulut, yang posisinya berada di bagian paling mudah tertangkap oleh pandangan.
Apa pun profesinya, terlebih bagi seorang guru yang hampir setiap hari berhadapan dengan murid, senyum menjadi salah satu hal yang paling cepat diperhatikan. Murid, sadar atau tidak, sering menyimpan kesan tertentu tentang gurunya: ada guru yang dikenal murah senyum, dan ada pula yang dianggap lebih jarang menampakkan senyum.
Dalam kehidupan sekolah, kita memang dapat menemukan kedua tipe tersebut. Ada guru yang setiap kali bertemu murid atau siapa pun di lingkungan sekolah selalu menampilkan senyum yang ramah. Kehadiran mereka terasa hangat dan bersahabat.
Sebaliknya, ada pula guru yang tampak lebih jarang tersenyum. Senyumnya mungkin hanya muncul pada situasi tertentu atau kepada orang-orang tertentu saja. Bagi sebagian murid, perbedaan ini mudah sekali tertangkap dan kemudian tersimpan dalam ingatan mereka.
Tentu saja, pada dasarnya senyum adalah ekspresi personal. Tidak ada orang lain yang dapat sepenuhnya mengendalikan kapan seseorang harus tersenyum. Terlebih bagi seorang guru yang sudah dewasa dan tentu memahami makna dari setiap ekspresi yang ia tampilkan.
Namun secara umum, senyum sering dipahami sebagai cerminan dari perasaan bahagia, nyaman, atau damai dalam diri seseorang. Senyum yang tulus biasanya lahir dari kondisi batin yang ringan dan terbuka.
Karena itu, tidak mengherankan jika senyum juga memiliki pengaruh terhadap orang lain.
Seorang murid yang semula datang ke sekolah dengan wajah murung atau hati yang sedang tidak baik, misalnya, bisa saja berubah ketika bertemu guru yang menyapanya dengan senyum. Mungkin perubahan itu hanya terjadi sesaat.
Namun tidak menutup kemungkinan, perasaan nyaman yang muncul dapat bertahan lebih lama, meskipun tidak selalu diwujudkan dengan senyuman yang sama.
Justru perubahan emosi seperti inilah yang memiliki nilai penting. Senyum guru dapat menjadi pemantik yang menggeser suasana hati murid—dari sedih menjadi lebih ringan, dari murung menjadi lebih bersemangat.
Tentu saja, senyum yang tulus biasanya muncul ketika seseorang tidak sedang dibebani oleh banyak persoalan. Lalu muncul pertanyaan: apakah mungkin seorang guru tetap tersenyum tulus ketika dirinya sedang menghadapi berbagai tekanan?
Barangkali tidak mudah. Namun mungkin saja hal itu terjadi. Jika ada guru yang mampu melakukannya, ia bisa dikatakan memiliki kemampuan yang luar biasa.
Dalam falsafah Jawa dikenal istilah empan papan, yakni kemampuan menempatkan diri secara tepat sesuai konteks situasi.
Guru yang tetap mampu menampilkan ketenangan dan senyum di hadapan murid, meskipun sedang memikul persoalan pribadi, mungkin sedang menjalankan nilai kebijaksanaan ini.