
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bisakah kita tetap menikmati tradisi berburu takjil di bulan Ramadan tanpa menambah tumpukan sampah plastik?
Mungkinkah kebiasaan sederhana seperti membawa wadah sendiri dari rumah menjadi langkah kecil yang berdampak bagi lingkungan?
Berburu takjil hampir selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana Ramadan. Pada bulan ini, pemandangan penjaja makanan dan minuman yang berderet di sepanjang bahu jalan menjadi hal yang akrab.
Beragam menu pembuka puasa ditawarkan: mulai dari kolak, es buah, es kelapa, gorengan, lontong, hingga berbagai jajanan modern seperti dimsum mentai dan dimsum keju. Tak jarang pula sayuran dan makanan berat turut melengkapi pilihan.
Saya termasuk orang yang tidak pernah melewatkan momen berburu takjil. Biasanya, pada akhir pekan saya bersama adik menyusuri kompleks dekat rumah, tempat para penjaja takjil berjejer hampir tanpa jeda.
Seperti pada Sabtu lalu, kami berangkat dengan sepeda untuk mencari takjil. Kami sengaja berangkat lebih awal, sebelum waktu berbuka terlalu dekat, agar bisa memilih dengan santai tanpa terburu-buru. Sepeda juga sengaja kami pilih alih-alih motor—sekadar membakar sedikit kalori sebelum nantinya kembali diisi dengan takjil yang menggugah selera.
Namun sebelum berangkat, ada satu kebiasaan kecil yang kini selalu saya lakukan. Saya menyiapkan beberapa wadah dari rumah: kotak makan, botol kosong, serta tas kain atau totebag untuk membawa semuanya. Tujuannya sederhana agar tidak perlu menggunakan kantong plastik sekali pakai.
Ramadan adalah bulan penuh berkah. Rasanya kurang tepat jika kebahagiaan itu justru diiringi dengan bertambahnya sampah yang mencemari lingkungan.
Takjil Tanpa Sampah? Tentu Bisa
Sebenarnya, menikmati takjil tanpa menambah sampah bukanlah hal yang sulit. Langkahnya cukup sederhana: membawa wadah sendiri dari rumah.
Coba periksa kembali lemari dapur kita. Mungkin ada thinwall, kotak makan bekal, atau bahkan wadah bekas es krim yang biasa digunakan ulang untuk menyimpan lauk. Semua itu bisa dimanfaatkan sebagai tempat membeli takjil.
Selain itu, membawa tumbler, botol minum kosong, atau gelas bertutup juga sangat membantu untuk menampung minuman dingin seperti es buah atau es kelapa. Jangan lupa membawa tas lipat atau totebag untuk menggantikan kantong plastik.
Dengan cara ini, kita tetap bisa menikmati tradisi berburu takjil tanpa harus menambah sampah plastik.
Namun sering kali muncul pertanyaan lain: bagaimana cara menyampaikan kepada penjual bahwa kita membawa wadah sendiri?
Sebagian orang mungkin merasa sedikit canggung atau malu. Hal itu wajar, terutama jika melakukannya untuk pertama kali. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa para penjual umumnya tetap melayani dengan ramah.