Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tutut Setyorinie
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi

Kompas.com, 12 Maret 2026, 16:04 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bisakah kita tetap menikmati tradisi berburu takjil di bulan Ramadan tanpa menambah tumpukan sampah plastik?

Mungkinkah kebiasaan sederhana seperti membawa wadah sendiri dari rumah menjadi langkah kecil yang berdampak bagi lingkungan?

Berburu takjil hampir selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana Ramadan. Pada bulan ini, pemandangan penjaja makanan dan minuman yang berderet di sepanjang bahu jalan menjadi hal yang akrab.

Beragam menu pembuka puasa ditawarkan: mulai dari kolak, es buah, es kelapa, gorengan, lontong, hingga berbagai jajanan modern seperti dimsum mentai dan dimsum keju. Tak jarang pula sayuran dan makanan berat turut melengkapi pilihan.

Saya termasuk orang yang tidak pernah melewatkan momen berburu takjil. Biasanya, pada akhir pekan saya bersama adik menyusuri kompleks dekat rumah, tempat para penjaja takjil berjejer hampir tanpa jeda.

Seperti pada Sabtu lalu, kami berangkat dengan sepeda untuk mencari takjil. Kami sengaja berangkat lebih awal, sebelum waktu berbuka terlalu dekat, agar bisa memilih dengan santai tanpa terburu-buru. Sepeda juga sengaja kami pilih alih-alih motor—sekadar membakar sedikit kalori sebelum nantinya kembali diisi dengan takjil yang menggugah selera.

Namun sebelum berangkat, ada satu kebiasaan kecil yang kini selalu saya lakukan. Saya menyiapkan beberapa wadah dari rumah: kotak makan, botol kosong, serta tas kain atau totebag untuk membawa semuanya. Tujuannya sederhana agar tidak perlu menggunakan kantong plastik sekali pakai.

Ramadan adalah bulan penuh berkah. Rasanya kurang tepat jika kebahagiaan itu justru diiringi dengan bertambahnya sampah yang mencemari lingkungan.

Takjil Tanpa Sampah? Tentu Bisa

Sebenarnya, menikmati takjil tanpa menambah sampah bukanlah hal yang sulit. Langkahnya cukup sederhana: membawa wadah sendiri dari rumah.

Coba periksa kembali lemari dapur kita. Mungkin ada thinwall, kotak makan bekal, atau bahkan wadah bekas es krim yang biasa digunakan ulang untuk menyimpan lauk. Semua itu bisa dimanfaatkan sebagai tempat membeli takjil.

Selain itu, membawa tumbler, botol minum kosong, atau gelas bertutup juga sangat membantu untuk menampung minuman dingin seperti es buah atau es kelapa. Jangan lupa membawa tas lipat atau totebag untuk menggantikan kantong plastik.

Dengan cara ini, kita tetap bisa menikmati tradisi berburu takjil tanpa harus menambah sampah plastik.

Namun sering kali muncul pertanyaan lain: bagaimana cara menyampaikan kepada penjual bahwa kita membawa wadah sendiri?

Sebagian orang mungkin merasa sedikit canggung atau malu. Hal itu wajar, terutama jika melakukannya untuk pertama kali. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa para penjual umumnya tetap melayani dengan ramah.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau