Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sri Pujiati
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Sri Pujiati adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap

Kompas.com, 12 Maret 2026, 12:04 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah kita benar-benar memahami perjuangan seorang ibu sejak kecil, atau justru baru menyadarinya ketika kita sendiri mulai menjalani kehidupan berkeluarga?

Membicarakan sosok ibu seolah tidak pernah ada habisnya. Dalam banyak keluarga, ibu kerap menjadi figur yang selalu hadir menguatkan, menjaga, dan mengorbankan banyak hal demi kebahagiaan anak-anaknya.

Kasih sayangnya sering digambarkan begitu luas, bahkan tak jarang disamakan dengan ketulusan yang nyaris tanpa batas.

Tidak berlebihan jika banyak orang memandang ibu sebagai sosok yang begitu istimewa. Ia mungkin tidak selalu tampil sebagai pahlawan yang terlihat jelas, tetapi pengorbanannya sering kali menjadi fondasi yang membuat sebuah keluarga dapat bertahan.

Dalam ajaran Islam, kemuliaan seorang ibu bahkan digambarkan dengan sangat tinggi. Ungkapan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu menjadi pengingat betapa besar penghormatan yang diberikan kepada sosok yang telah mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh ketulusan.

Karena itulah, seorang anak diajarkan untuk selalu menghormati ibunya, tidak menyakitinya, bahkan tidak berkata kasar sekalipun.

Penghormatan tersebut tentu bukan tanpa alasan—melainkan lahir dari kesadaran akan betapa besar perjuangan seorang ibu dalam menjalani kehidupannya.

Sosok Ibu di Mata Saya

Seperti kebanyakan anak lainnya, saya pun memandang ibu sebagai sosok yang luar biasa. Di mata saya, beliau adalah orang yang sangat hebat.

Ibu mungkin tidak memiliki pekerjaan yang dianggap mentereng. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar.

Namun dari beliaulah saya belajar banyak hal tentang kehidupan pelajaran yang baru benar-benar saya pahami setelah tumbuh dewasa.

Ketika masih kecil, saya tidak benar-benar menyadari betapa besar pengorbanan ibu. Barangkali karena saat itu saya masih begitu polos dan belum memahami kerasnya kehidupan. Dalam pandangan saya saat itu, ibu selalu terlihat baik-baik saja.

Ibu bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Ia lebih sering menyimpan apa yang dirasakannya dalam diam. Ibu jarang mengeluh tentang beratnya hidup yang ia jalani. Di hadapan anak-anaknya, ia selalu tampak kuat dan tegar.

Bahkan ketika sedang sakit, ibu tetap berusaha melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, seolah semuanya berjalan baik-baik saja.

Di keluarga kami, ungkapan kasih sayang juga jarang diucapkan secara langsung. Ibu tidak pernah mengucapkan kata “sayang” atau merayakan ulang tahun saya. Namun saya tahu bahwa kasih sayangnya jauh melampaui hal-hal tersebut.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau