
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah kita benar-benar memahami perjuangan seorang ibu sejak kecil, atau justru baru menyadarinya ketika kita sendiri mulai menjalani kehidupan berkeluarga?
Membicarakan sosok ibu seolah tidak pernah ada habisnya. Dalam banyak keluarga, ibu kerap menjadi figur yang selalu hadir menguatkan, menjaga, dan mengorbankan banyak hal demi kebahagiaan anak-anaknya.
Kasih sayangnya sering digambarkan begitu luas, bahkan tak jarang disamakan dengan ketulusan yang nyaris tanpa batas.
Tidak berlebihan jika banyak orang memandang ibu sebagai sosok yang begitu istimewa. Ia mungkin tidak selalu tampil sebagai pahlawan yang terlihat jelas, tetapi pengorbanannya sering kali menjadi fondasi yang membuat sebuah keluarga dapat bertahan.
Dalam ajaran Islam, kemuliaan seorang ibu bahkan digambarkan dengan sangat tinggi. Ungkapan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu menjadi pengingat betapa besar penghormatan yang diberikan kepada sosok yang telah mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh ketulusan.
Karena itulah, seorang anak diajarkan untuk selalu menghormati ibunya, tidak menyakitinya, bahkan tidak berkata kasar sekalipun.
Penghormatan tersebut tentu bukan tanpa alasan—melainkan lahir dari kesadaran akan betapa besar perjuangan seorang ibu dalam menjalani kehidupannya.
Sosok Ibu di Mata Saya
Seperti kebanyakan anak lainnya, saya pun memandang ibu sebagai sosok yang luar biasa. Di mata saya, beliau adalah orang yang sangat hebat.
Ibu mungkin tidak memiliki pekerjaan yang dianggap mentereng. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar.
Namun dari beliaulah saya belajar banyak hal tentang kehidupan pelajaran yang baru benar-benar saya pahami setelah tumbuh dewasa.
Ketika masih kecil, saya tidak benar-benar menyadari betapa besar pengorbanan ibu. Barangkali karena saat itu saya masih begitu polos dan belum memahami kerasnya kehidupan. Dalam pandangan saya saat itu, ibu selalu terlihat baik-baik saja.
Ibu bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Ia lebih sering menyimpan apa yang dirasakannya dalam diam. Ibu jarang mengeluh tentang beratnya hidup yang ia jalani. Di hadapan anak-anaknya, ia selalu tampak kuat dan tegar.
Bahkan ketika sedang sakit, ibu tetap berusaha melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, seolah semuanya berjalan baik-baik saja.
Di keluarga kami, ungkapan kasih sayang juga jarang diucapkan secara langsung. Ibu tidak pernah mengucapkan kata “sayang” atau merayakan ulang tahun saya. Namun saya tahu bahwa kasih sayangnya jauh melampaui hal-hal tersebut.