
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana cara agar Tunjangan Hari Raya (THR) tidak hanya habis untuk kebutuhan sesaat, tetapi juga memberi manfaat bagi kondisi keuangan setelah Lebaran?
Setiap tahun, Tunjangan Hari Raya (THR) selalu datang membawa kegembiraan. Bagi banyak orang, momen ini menjadi penanda bahwa Lebaran semakin dekat. Namun, bagi sebagian keluarga, kebahagiaan tersebut terkadang berlangsung singkat.
Uang yang baru saja masuk ke rekening sering kali cepat menipis, bahkan sebelum hari raya tiba. Berbagai kebutuhan muncul hampir bersamaan—mulai dari membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas Lebaran, hingga memenuhi tradisi berbagi kepada keluarga dan kerabat. Tanpa disadari, pengeluaran meningkat dengan cepat.
Padahal, jika dikelola dengan strategi sederhana seperti Budget Map, THR sebenarnya dapat memberi manfaat yang lebih panjang. Tidak hanya untuk merayakan hari raya, tetapi juga membantu menjaga kondisi keuangan setelah Lebaran berlalu.
Fenomena THR Cepat Habis
Bagi banyak keluarga, THR kerap dipandang sebagai “uang tambahan” yang boleh digunakan secara lebih bebas. Euforia diskon Ramadan, berbagai promosi belanja, serta dorongan untuk memenuhi tradisi Lebaran sering membuat pengeluaran meningkat tajam.
Akibatnya, THR yang semula diharapkan menjadi penopang keuangan justru habis dalam waktu singkat.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada pengalaman individu. Data konsumsi rumah tangga dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa periode Ramadan hingga Lebaran hampir selalu diikuti peningkatan pengeluaran masyarakat, terutama pada sektor makanan, pakaian, dan transportasi.
Lonjakan konsumsi tersebut sebenarnya wajar, karena kebutuhan perayaan memang meningkat. Namun tanpa perencanaan yang matang, kondisi ini bisa berdampak pada stabilitas keuangan keluarga setelah Lebaran.
Mengenal Konsep “Budget Map”
Agar THR tidak sekadar lewat begitu saja, diperlukan strategi sederhana yang mudah diterapkan. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah Budget Map, yaitu peta anggaran yang membantu seseorang menentukan arah penggunaan uang sejak awal.
Prinsip dari Budget Map sebenarnya cukup sederhana: setiap rupiah memiliki tujuan. Dengan memetakan penggunaan THR sejak awal, seseorang tidak hanya membelanjakan uang, tetapi juga mengelolanya secara sadar dan terencana.
Dalam berbagai program literasi keuangan, Otoritas Jasa Keuangan juga kerap menekankan pentingnya perencanaan anggaran. Ketika seseorang menentukan prioritas pengeluaran sejak awal, risiko pengeluaran impulsif dapat ditekan dan pengelolaan keuangan menjadi lebih terkendali.
Membagi THR ke dalam Empat Pos Keuangan
Agar lebih mudah diterapkan, Budget Map dapat dimulai dengan membagi THR ke dalam empat pos utama.