
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah benar setiap yang kita lakukan di sekolah adalah cerminan bagaimana kita kelak di lingkungan luar?
Jika kamu ingat, apakah dulu kamu termasuk orang yang membuang sampah di laci meja sekolah?
Ya, laci sekolah bukan tempat sampah. Itu tempat menyimpan buku, tetapi kenapa kita masih suka melakukannya?
Selanjutnya, apakah kita sampai sekarang masih suka menyimpang dan/atau membuang sampah sembarang saja? Kalau memang, iya, sepertinya benar ada kaitannya, ya?
Sekolah, sebagai tempat pendidikan karakter ternyata masih ada siswa yang belum memiliki kesadaran lingkungan yang memadai, terutama dalam hal sederhana mengelola sampah pribadi.
Kebiasaan ini bukan hanya jorok tapi juga membahayakan. Sampah yang menumpuk selama berhari-hari dapat membusuk dan mengundang bau tak sedap. Akibatnya, proses belajar terganggu karena suasana kelas yang tidak nyaman.
Bayangkan saja, seorang guru sedang menjelaskan pelajaran penting tetapi konsentrasi siswa buyar karena aroma tak sedap menyelinap dari dalam laci meja.
Fenomena ini bukan cerita fiktif. Banyak guru mengeluhkan soal ini. terutama ketika aroma misterius memenuhi kelas dan tidak segera diketahui asalnya.
Setelah dicari ke pojok-pojok kelas bahkan hingga keluar kelas, akhirnya ketahuan laci siswa yang menyimpan "harta karun" busuk.
Masalahnya, ini bukan kejadian satu-dua kali. Ini berulang dan menjadi "budaya diam-diam" yang terjadi di berbagai sekolah di Indonesia.
Padahal, kebersihan adalah bagian dari iman dan pendidikan karakter peduli lingkungan yang seharusnya ditanamkan sejak dini.
Mengapa Siswa Menyimpan Sampah di Laci?
Jawabannya bisa beragam. Bisa karena malas buang ke tempat sampah, tidak ada tempat sampah di kelas, atau bahkan karena tidak terbiasa atau belum tumbuh kesadaran untuk peduli.
Inilah pentingnya peran guru dan sekolah dalam membentuk kebiasaan dan karakter siswa. Pendidikan karakter bukan hanya soal kejujuran dan kedisiplinan. tapi juga soal kesadaran lingkungan.
Setiap laci siswa sejatinya mencerminkan cara berpikir dan kepedulian mereka terhadap lingkungan.
Jika lacinya bersih, bisa jadi pikirannya juga jernih. Tapi jika penuh dengan sampah, jangan-jangan ada karakter buruk yang sedang tumbuh diam-diam.
Apa yang Perlu Dilakukan Guru?
Sebagai langkah awal, para guru perlu secara rutin menginspeksi laci-laci siswa. Tidak untuk mencari kesalahan tapi untuk membangun kebiasaan positif.
Inspeksi ini bisa dikemas sebagai "gerakan cek laci" yang mengajak siswa untuk mengecek isi lacinya sekaligus merenungi apakah mereka sudah cukup peduli terhadap lingkungan atau belum.