Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Akbar Pitopang
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Akbar Pitopang adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sudahi Buang Sampah di Laci Meja Sekolah, Ya!

Kompas.com, 7 Agustus 2025, 17:33 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah benar setiap yang kita lakukan di sekolah adalah cerminan bagaimana kita kelak di lingkungan luar?

Jika kamu ingat, apakah dulu kamu termasuk orang yang membuang sampah di laci meja sekolah?

Ya, laci sekolah bukan tempat sampah. Itu tempat menyimpan buku, tetapi kenapa kita masih suka melakukannya?

Selanjutnya, apakah kita sampai sekarang masih suka menyimpang dan/atau membuang sampah sembarang saja? Kalau memang, iya, sepertinya benar ada kaitannya, ya?

Sekolah, sebagai tempat pendidikan karakter ternyata masih ada siswa yang belum memiliki kesadaran lingkungan yang memadai, terutama dalam hal sederhana mengelola sampah pribadi.

Kebiasaan ini bukan hanya jorok tapi juga membahayakan. Sampah yang menumpuk selama berhari-hari dapat membusuk dan mengundang bau tak sedap. Akibatnya, proses belajar terganggu karena suasana kelas yang tidak nyaman.

Bayangkan saja, seorang guru sedang menjelaskan pelajaran penting tetapi konsentrasi siswa buyar karena aroma tak sedap menyelinap dari dalam laci meja.

Fenomena ini bukan cerita fiktif. Banyak guru mengeluhkan soal ini. terutama ketika aroma misterius memenuhi kelas dan tidak segera diketahui asalnya.

Setelah dicari ke pojok-pojok kelas bahkan hingga keluar kelas, akhirnya ketahuan laci siswa yang menyimpan "harta karun" busuk.

Masalahnya, ini bukan kejadian satu-dua kali. Ini berulang dan menjadi "budaya diam-diam" yang terjadi di berbagai sekolah di Indonesia.

Padahal, kebersihan adalah bagian dari iman dan pendidikan karakter peduli lingkungan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. 

Mengapa Siswa Menyimpan Sampah di Laci?

Jawabannya bisa beragam. Bisa karena malas buang ke tempat sampah, tidak ada tempat sampah di kelas, atau bahkan karena tidak terbiasa atau belum tumbuh kesadaran untuk peduli.

Inilah pentingnya peran guru dan sekolah dalam membentuk kebiasaan dan karakter siswa. Pendidikan karakter bukan hanya soal kejujuran dan kedisiplinan. tapi juga soal kesadaran lingkungan.

Setiap laci siswa sejatinya mencerminkan cara berpikir dan kepedulian mereka terhadap lingkungan.

Jika lacinya bersih, bisa jadi pikirannya juga jernih. Tapi jika penuh dengan sampah, jangan-jangan ada karakter buruk yang sedang tumbuh diam-diam. 

Apa yang Perlu Dilakukan Guru?

Sebagai langkah awal, para guru perlu secara rutin menginspeksi laci-laci siswa. Tidak untuk mencari kesalahan tapi untuk membangun kebiasaan positif.

Inspeksi ini bisa dikemas sebagai "gerakan cek laci" yang mengajak siswa untuk mengecek isi lacinya sekaligus merenungi apakah mereka sudah cukup peduli terhadap lingkungan atau belum.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau