
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kira-kira, apa yang akan terjadi pada dunia start-up pasca kasus eFishery ini terkuak? Apakah akan semakin minim investasi yang mau masuk?
Selain itu, apa pembelajaran ke depan bagi (calon) investor saham?
Kondisi seperti ini diperkuat dengan kabar Gibran Huzaifah, mantan CEO eFishery akhir Juli lalu akhirnya resmi ditahan pihak kepolisian.
Dakwaan yang membuat Gibran terlibat adalah manipulasi data finansial dalam proses akuisisi perusahaan teknologi oleh eFishery pada 2024.
Perjalanan hidup Gibran bak kisah dongeng yang perubahannya terjadi begitu drastis pasca berdirinya eFishery tahun 2013.
Pria jenius ini merupakan lulusan kampus Institut Tekonologi Bandung (ITB). Kariernya terbilang cukup pesat melejit.
Nama Gibran kian melambung pasca masuk dalam daftar Forbes 30 under 30 Asia tahun 2017.
Cerita belum selesai. Pada tahun 2023, eFishery memperoleh pendanaan Seri D senilai USD 200 juta dan menandai perusahaan tersebut resmi menjadi unicorn.
Kisah hidup Gibran berubah drastis pasca munculnya dugaan manipulasi laporan keuangan perusahaan. Investor menemukan sekaligus melaporkan dugaan pemalsuan laporan keuangan dimana laporan tersebut dianggap tidak sesuai realita.
Aparat penegak hukum langsung bertindak cepat. Hasil investigasi menemukan fakta-fakta yang membenarkan tudingan dan laporan para investor tersebut. Beberapa data penting perusahaan diduga telah dimanipulasi sedemikian rupa agar membuat kinerja perusahaan tersebut semakin menarik di mata investor.
Seperti dilansir situs kompas.com (5/8), perusahaan melaporkan laba sebesar 16 juta dollar AS (sekitar Rp 230 miliar) pada September 2024, tetapi hasil investigasi menyatakan justru mengalami kerugian USD 35,4 juta (sekitar Rp 575 miliar).
Selain itu, eFishery mengklaim memiliki 400.000 smart feeder, padahal penyelidikan hanya menemukan 24.000 unit.
Perjalanan hidup Gibran layaknya from hero to zero. Reputasi yang dibangun bersusah payah dan sudah diapresiasi publik begitu tinggi, tiba-tiba harus menukik tajam sampai ke titik terendah.
Bukan hanya karier dan reputasinya yang hancur, kini ia juga harus menanggung malu dan wajib mempertanggung jawabkan kesalahannya tersebut melalui prosedur hukum.
Gibran sempat dianggap salah satu hero yang membawa nama harum bangsa sekaligus menjadi inspirasi bagi anak-anak muda agar berani melakukan inovasi dan berwirausaha.
Namun saat ini, Gibran berbalik dicemooh sebagai perusak citra dunia investasi dalam negeri. Ia dituding telah mencoreng bisnis start up yang sempat dianggap sebagai salah satu sektor paling menjanjikan saat ini dan di masa mendatang.
Dunia investasi saham
Dalam dunia investasi saham, praktik manipulasi laporan keuangan perusahaan seperti kasus Gibran dan eFishery juga sering terjadi. Ada dikenal istilah praktik financial engineer yang intinya sama saja; berusaha mengutak-atik laporan keuangan perusahaan agar terlihat bagus di mata publik.
Ini butuh keahlian khusus karena harus bisa mengelabui tim auditor publik yang akan melakukan audit. Meskipun pada praktiknya, mungkin ada juga auditor yang bisa diajak "main mata".
Sebenarnya untuk apa manipulasi laporan keuangan itu dilakukan? Mengapa tidak melaporkan kinerja perusahaan dengan apa adanya?
Pada kasus eFishery tujuannya jelas untuk menggaet sebanyak-banyaknya investor potensial agar tertarik menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.
Andai eFishery benar-benar melaporkan kondisi perusahaan yang menurut hasil investigasi rugi hampir setengah triliun rupiah dalam kurun waktu kurang dari setahun, coba bayangkan, investor mana yang bersedia menggelontorkan dananya ke perusahaan yang jelas-jelas merugi?
Sama halnya dengan pasar saham. Saat ini ada sekitar 900 perusahaan publik yang sudah tercatat di bursa saham yang artinya kita selaku investor publik (minoritas) juga bisa ikut membeli sahamnya.
Apa alasan para investor mau membeli saham perusahaan? Tentu saja prospek kinerja perusahaan ke depannya yang diyakini akan lebih cemerlang. Darimana keyakinan itu akan muncul? Jelas salah satunya dari laporan keuangan yang diumumkan perusahaan.
Bila perusahaan secara rutin melaporkan kondisi kinerja keuangan yang selalu merugi dari tahun ke tahun, rasa-rasanya investor normal yang memang berniat investasi bukan berspekulasi tentu tak akan mau membeli sahamnya.
Sebaliknya, bila ada perusahaan yang rutin melaporkan perusahaannya mencatatkan keuntungan dan laba bersih, pasti para investor akan berlomba membeli saham perusahaan tersebut. Alhasil valuasi perusahaan tersebut akan melonjak tajam seiring meningkatnya harga saham.
Bila mengikuti petuah para investor saham yang sukses, tugas kita selaku investor adalah mencari perusahaan yang benar-benar berkinerja bagus pada harga yang wajar atau murah. Kinerja yang bagus harus tercermin jelas dalam laporan keuangan perusahaan.
Namun jangan buru-buru menilai kinerja perusahaan hanya berdasarkan sekilas membaca laporan keuangan yang ditampilkan. Jika meminjam istilah penegak hukum, maka kita bisa menerapkan azas praduga bersalah saat membaca laporan keuangan suatu perusahaan.
Kita harus kritis dan patut menduga bahwa laporan keuangan tersebut mungkin saja sudah dipoles sedemikian rupa agar kelihatan bagus.
Faktanya bahwa tidak sedikit perusahaan yang melaporkan bahwa kinerja perusahaan selalu mencatat keuntungan dari tahun ke tahun, namun ternyata itu cuma catatan di atas kertas alias tidak pernah nyata dalam wujud arus kas.
Keuntungan yang diklaim perusahaan semestinya harus jelas dan transparan serta bisa ditelusuri penggunaannya.
Sungguh patut menjadi pertanyaan ketika perusahaan membuat laporan keuntungan, namun itu tak pernah disalurkan entah untuk mengembangkan lini bisnis perusahaan atau dibagikan ke para investor dalam bentuk dividen.
Ada lagi contoh lain, meskipun ini tak bisa dikategorikan sebagai praktik manipulasi, ada juga perusahaan yang di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kinerja biasa-biasa saja bahkan cenderung merugi.
Namun, tiba-tiba ada satu momen perusahaan melaporkan perusahaan memperoleh keuntungan yang signifikan dalam jumlah sangat besar.
Investor saham yang mungkin cuma membaca sekilas laporan tersebut, tentu akan bersemangat untuk membeli saham perusahaan tersebut.
Ternyata setelah ditelaah lebih dalam, keuntungan yang dilaporkan tersebut ternyata merupakan hasil dari jualan aset perusahaan.
Ini jelas bukan sinyal yang baik untuk kinerja perusahaan ke depannya. Sangat mungkin kinerjanya di tahun-tahun berikutnya akan kian menurun seiring jumlah aset yang berkurang.
Sudah jelas juga bahwa "keuntungan" yang dicatatkan pada periode tersebut takkan muncul lagi di masa mendatang, kecuali perusahaan berniat menjual lagi aset-aset yang lain.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kasus Gibran Eks CEO eFishery dan Pembelajaran untuk Investor Saham"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang