Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Stevan Manihuruk
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Stevan Manihuruk adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kasus eFishery dan Pembelajaran untuk Investor Saham

Kompas.com, 11 Agustus 2025, 11:08 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Kira-kira, apa yang akan terjadi pada dunia start-up pasca kasus eFishery ini terkuak? Apakah akan semakin minim investasi yang mau masuk?

Selain itu, apa pembelajaran ke depan bagi (calon) investor saham?

Kondisi seperti ini diperkuat dengan kabar Gibran Huzaifah, mantan CEO eFishery akhir Juli lalu akhirnya resmi ditahan pihak kepolisian.

Dakwaan yang membuat Gibran terlibat adalah manipulasi data finansial dalam proses akuisisi perusahaan teknologi oleh eFishery pada 2024.

Perjalanan hidup Gibran bak kisah dongeng yang perubahannya terjadi begitu drastis pasca berdirinya eFishery tahun 2013.

Pria jenius ini merupakan lulusan kampus Institut Tekonologi Bandung (ITB). Kariernya terbilang cukup pesat melejit.

Nama Gibran kian melambung pasca masuk dalam daftar Forbes 30 under 30 Asia tahun 2017.

Cerita belum selesai. Pada tahun 2023, eFishery memperoleh pendanaan Seri D senilai USD 200 juta dan menandai perusahaan tersebut resmi menjadi unicorn.

Kisah hidup Gibran berubah drastis pasca munculnya dugaan manipulasi laporan keuangan perusahaan. Investor menemukan sekaligus melaporkan dugaan pemalsuan laporan keuangan dimana laporan tersebut dianggap tidak sesuai realita.

Aparat penegak hukum langsung bertindak cepat. Hasil investigasi menemukan fakta-fakta yang membenarkan tudingan dan laporan para investor tersebut. Beberapa data penting perusahaan diduga telah dimanipulasi sedemikian rupa agar membuat kinerja perusahaan tersebut semakin menarik di mata investor.

Seperti dilansir situs kompas.com (5/8), perusahaan melaporkan laba sebesar 16 juta dollar AS (sekitar Rp 230 miliar) pada September 2024, tetapi hasil investigasi menyatakan justru mengalami kerugian USD 35,4 juta (sekitar Rp 575 miliar).

Selain itu, eFishery mengklaim memiliki 400.000 smart feeder, padahal penyelidikan hanya menemukan 24.000 unit.

Perjalanan hidup Gibran layaknya from hero to zero. Reputasi yang dibangun bersusah payah dan sudah diapresiasi publik begitu tinggi, tiba-tiba harus menukik tajam sampai ke titik terendah.

Bukan hanya karier dan reputasinya yang hancur, kini ia juga harus menanggung malu dan wajib mempertanggung jawabkan kesalahannya tersebut melalui prosedur hukum.

Gibran sempat dianggap salah satu hero yang membawa nama harum bangsa sekaligus menjadi inspirasi bagi anak-anak muda agar berani melakukan inovasi dan berwirausaha.

Namun saat ini, Gibran berbalik dicemooh sebagai perusak citra dunia investasi dalam negeri. Ia dituding telah mencoreng bisnis start up yang sempat dianggap sebagai salah satu sektor paling menjanjikan saat ini dan di masa mendatang.     

Dunia investasi saham

Dalam dunia investasi saham, praktik manipulasi laporan keuangan perusahaan seperti kasus Gibran dan eFishery juga sering terjadi. Ada dikenal istilah praktik financial engineer yang intinya sama saja; berusaha mengutak-atik laporan keuangan perusahaan agar terlihat bagus di mata publik.

Ini butuh keahlian khusus karena harus bisa mengelabui tim auditor publik yang akan melakukan audit. Meskipun pada praktiknya, mungkin ada juga auditor yang bisa diajak "main mata".

Sebenarnya untuk apa manipulasi laporan keuangan itu dilakukan? Mengapa tidak melaporkan kinerja perusahaan dengan apa adanya?

Pada kasus eFishery tujuannya jelas untuk menggaet sebanyak-banyaknya investor potensial agar tertarik menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.

Andai eFishery benar-benar melaporkan kondisi perusahaan yang menurut hasil investigasi rugi hampir setengah triliun rupiah dalam kurun waktu kurang dari setahun, coba bayangkan, investor mana yang bersedia menggelontorkan dananya ke perusahaan yang jelas-jelas merugi?

Sama halnya dengan pasar saham. Saat ini ada sekitar 900 perusahaan publik yang sudah tercatat di bursa saham yang artinya kita selaku investor publik (minoritas) juga bisa ikut membeli sahamnya.

Apa alasan para investor mau membeli saham perusahaan? Tentu saja prospek kinerja perusahaan ke depannya yang diyakini akan lebih cemerlang. Darimana keyakinan itu akan muncul? Jelas salah satunya dari laporan keuangan yang diumumkan perusahaan.

Bila perusahaan secara rutin melaporkan kondisi kinerja keuangan yang selalu merugi dari tahun ke tahun, rasa-rasanya investor normal yang memang berniat investasi bukan berspekulasi tentu tak akan mau membeli sahamnya.   

Sebaliknya, bila ada perusahaan yang rutin melaporkan perusahaannya mencatatkan keuntungan dan laba bersih, pasti para investor akan berlomba membeli saham perusahaan tersebut. Alhasil valuasi perusahaan tersebut akan melonjak tajam seiring meningkatnya harga saham.

Bila mengikuti petuah para investor saham yang sukses, tugas kita selaku investor adalah mencari perusahaan yang benar-benar berkinerja bagus pada harga yang wajar atau murah. Kinerja yang bagus harus tercermin jelas dalam laporan keuangan perusahaan.

Namun jangan buru-buru menilai kinerja perusahaan hanya berdasarkan sekilas membaca laporan keuangan yang ditampilkan. Jika meminjam istilah penegak hukum, maka kita bisa menerapkan azas praduga bersalah saat membaca laporan keuangan suatu perusahaan.

Kita harus kritis dan patut menduga bahwa laporan keuangan tersebut mungkin saja sudah dipoles sedemikian rupa agar kelihatan bagus.

Faktanya bahwa tidak sedikit perusahaan yang melaporkan bahwa kinerja perusahaan selalu mencatat keuntungan dari tahun ke tahun, namun ternyata itu cuma catatan di atas kertas alias tidak pernah nyata dalam wujud arus kas.

Keuntungan yang diklaim perusahaan semestinya harus jelas dan transparan serta bisa ditelusuri penggunaannya.

Sungguh patut menjadi pertanyaan ketika perusahaan membuat laporan keuntungan, namun itu tak pernah disalurkan entah untuk mengembangkan lini bisnis perusahaan atau dibagikan ke para investor dalam bentuk dividen.

Ada lagi contoh lain, meskipun ini tak bisa dikategorikan sebagai praktik manipulasi, ada juga perusahaan yang di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kinerja biasa-biasa saja bahkan cenderung merugi.

Namun, tiba-tiba ada satu momen perusahaan melaporkan perusahaan memperoleh keuntungan yang signifikan dalam jumlah sangat besar.

Investor saham yang mungkin cuma membaca sekilas laporan tersebut, tentu akan bersemangat untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Ternyata setelah ditelaah lebih dalam, keuntungan yang dilaporkan tersebut ternyata merupakan hasil dari jualan aset perusahaan.

Ini jelas bukan sinyal yang baik untuk kinerja perusahaan ke depannya. Sangat mungkin kinerjanya di tahun-tahun berikutnya akan kian menurun seiring jumlah aset yang berkurang.

Sudah jelas juga bahwa "keuntungan" yang dicatatkan pada periode tersebut takkan muncul lagi di masa mendatang, kecuali perusahaan berniat menjual lagi aset-aset yang lain.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kasus Gibran Eks CEO eFishery dan Pembelajaran untuk Investor Saham"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau