
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Jika kembali mengingat bagaimana novel pertama saya "Sialang dan Tualang" yang terbit tahun 2023 rasanya seru juga.
Bagaimana mungkin novel yang mulai ditulis sejak tahun 2011 tersebut baru rampiung 12 tahun kemudian berkat musik-musik di kafe dan latte.
Bayangkan sebuah naskah yang lama mengendap di laptop, seakan menjadi “fosil digital”. Berulang kali saya memberi nama file dengan judul optimistis—“REV_NOVEL_FINAL_FINAL_BENERAN.docx”—tapi tak pernah benar-benar final.
Apa yang akhirnya membuat saya bisa menyelesaikannya? Ternyata bukan seminar menulis, bukan pula tantangan 30 hari menulis novel.
Salah satu kuncinya justru sederhana: kafe, lebih tepatnya musik yang mengalun di dalamnya.
Kafe, Musik, dan Produktivitas
Saya sempat tinggal di Bali antara 2014 hingga 2020. Pulau ini bukan hanya terkenal dengan pantainya, tapi juga dengan kafe-kafenya.
Setiap tempat punya aroma kopi khas, atmosfer berbeda, dan tentu saja, playlist yang menjadi identitasnya.
Dari sanalah saya belajar bahwa musik di kafe bisa menjadi teman produktivitas, tapi kadang juga jadi pengganggu.
Ada kafe yang setia memutar lo-fi beats atau jazz ringan, membuat pikiran saya masuk ke “mode fokus”. Dalam suasana itu, menulis tiga bab seolah hanya butuh satu kali duduk.
Namun, ada juga kafe dengan musik terlalu keras atau genre yang campur aduk. Pernah saya sedang menulis adegan sendu, tiba-tiba disela lirik lagu viral yang riang. Seketika suasana hati buyar.
Bali dan Kafe Penyelamat Naskah
Beberapa kafe menjadi “markas” saya. Di Sanur, ada satu kafe dengan playlist yang dreamy—Bon Iver, Angus & Julia Stone, hingga musik instrumental klasik.
Duduk di sana sambil menghadap laut membuat saya bisa menuntaskan revisi satu bab hanya dalam sejam. Rasanya seperti sedang menulis di film indie.
Sebaliknya, kafe di kawasan Canggu yang ramai wisatawan lebih sering memutar musik upbeat, cocok untuk nongkrong atau networking, tapi kurang pas untuk menulis adegan penuh renungan.
Dari sini saya belajar: musik dan suasana kafe benar-benar bisa mengubah mood menulis.
Kenapa Musik Bisa Mempengaruhi Mood?
Ilmu saraf memberi jawabannya. Musik memengaruhi sistem limbik—bagian otak yang mengatur emosi—dan juga ritme gelombang otak.
Menulis di Kafe Tanpa Musik
Ada pula pengalaman unik saat menulis di kafe yang tiba-tiba hening karena musik berhenti.
Awalnya terasa janggal, tapi lama-kelamaan bunyi sendok, mesin kopi, dan percakapan samar-samar menjadi ambient sound tersendiri.
Justru dalam suasana sunyi itu saya bisa lebih “mendengar” suara karakter-karakter dalam naskah saya.
Playlist yang Mengiringi Perjalanan Naskah
Sejak awal menulis novel hingga akhirnya rampung, setiap bab seakan punya playlist sendiri.
Bab nostalgia lahir di kafe dengan lantunan The Beatles, bab penuh ketegangan saya tulis di tempat dengan musik elektronik ringan, dan adegan klimaks justru tercipta di kafe tepi pantai dengan latar musik instrumental berpadu suara ombak.
Tentu, ada juga momen kurang menyenangkan. Misalnya saat lagu yang sama diputar berkali-kali, atau volume terlalu keras hingga sulit mendengar pikiran sendiri.
Akan tetapi di situlah tantangan menulis di ruang publik: kadang produktif, kadang buyar.
Polemik Royalti Musik di Kafe
Belakangan, atmosfer kafe di kota-kota besar seperti Jakarta ikut berubah karena aturan pembayaran royalti musik.
Berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta, kafe atau restoran yang memutar musik komersial wajib membayar biaya lisensi kepada Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).
Tujuannya tentu baik, agar musisi mendapatkan haknya. Namun, bagi sebagian pelaku usaha, biaya tambahan ini menjadi beban.
Ada kafe yang akhirnya memilih mematikan musik, sementara yang lain berkreasi dengan memutar karya musisi indie lokal atau menggunakan platform musik berlisensi khusus untuk bisnis.
Bagi saya pribadi, kafe tanpa musik rasanya ada yang kurang. Musik di kafe bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari ekosistem kreatif kota.
Ia bisa memengaruhi mood, menghidupkan suasana, bahkan menjadi inspirasi untuk menyelesaikan naskah yang lama terbengkalai.
Penutup
Akhirnya, naskah yang sempat jadi fosil digital itu rampung juga. Dan saya sadar, perjalanan menyelesaikan novel tidak hanya soal disiplin menulis, tapi juga soal suasana.
Musik di kafe, secangkir latte, dan keberagaman atmosfer tempat nongkrong ternyata menjadi bagian penting dalam proses kreatif.
Tanpa itu semua, mungkin cerita yang saya tulis tak akan pernah selesai.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Novel Mandek 12 Tahun Terselamatkan oleh Latte dan Musik di Kafe"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang