Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Berkat Musik di Kafe dan Latte, Akhirnya Novelku Rampung Juga

Kompas.com, 27 Agustus 2025, 15:36 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Jika kembali mengingat bagaimana novel pertama saya "Sialang dan Tualang" yang terbit tahun 2023 rasanya seru juga.

Bagaimana mungkin novel yang mulai ditulis sejak tahun 2011 tersebut baru rampiung 12 tahun kemudian berkat musik-musik di kafe dan latte.

Bayangkan sebuah naskah yang lama mengendap di laptop, seakan menjadi “fosil digital”. Berulang kali saya memberi nama file dengan judul optimistis—“REV_NOVEL_FINAL_FINAL_BENERAN.docx”—tapi tak pernah benar-benar final.

Apa yang akhirnya membuat saya bisa menyelesaikannya? Ternyata bukan seminar menulis, bukan pula tantangan 30 hari menulis novel.

Salah satu kuncinya justru sederhana: kafe, lebih tepatnya musik yang mengalun di dalamnya.

Kafe, Musik, dan Produktivitas

Saya sempat tinggal di Bali antara 2014 hingga 2020. Pulau ini bukan hanya terkenal dengan pantainya, tapi juga dengan kafe-kafenya.

Setiap tempat punya aroma kopi khas, atmosfer berbeda, dan tentu saja, playlist yang menjadi identitasnya.

Dari sanalah saya belajar bahwa musik di kafe bisa menjadi teman produktivitas, tapi kadang juga jadi pengganggu.

Ada kafe yang setia memutar lo-fi beats atau jazz ringan, membuat pikiran saya masuk ke “mode fokus”. Dalam suasana itu, menulis tiga bab seolah hanya butuh satu kali duduk.

Namun, ada juga kafe dengan musik terlalu keras atau genre yang campur aduk. Pernah saya sedang menulis adegan sendu, tiba-tiba disela lirik lagu viral yang riang. Seketika suasana hati buyar.

Bali dan Kafe Penyelamat Naskah

Beberapa kafe menjadi “markas” saya. Di Sanur, ada satu kafe dengan playlist yang dreamy—Bon Iver, Angus & Julia Stone, hingga musik instrumental klasik.

Duduk di sana sambil menghadap laut membuat saya bisa menuntaskan revisi satu bab hanya dalam sejam. Rasanya seperti sedang menulis di film indie.

Sebaliknya, kafe di kawasan Canggu yang ramai wisatawan lebih sering memutar musik upbeat, cocok untuk nongkrong atau networking, tapi kurang pas untuk menulis adegan penuh renungan.

Dari sini saya belajar: musik dan suasana kafe benar-benar bisa mengubah mood menulis.

Kenapa Musik Bisa Mempengaruhi Mood?

Ilmu saraf memberi jawabannya. Musik memengaruhi sistem limbik—bagian otak yang mengatur emosi—dan juga ritme gelombang otak.

  • Musik tempo cepat (120 BPM ke atas) biasanya memicu energi dan semangat. Cocok untuk olahraga, tapi kadang terlalu “berisik” untuk pekerjaan kreatif yang butuh konsentrasi.
  • Musik tempo sedang (60–90 BPM) sering menjadi “zona emas” untuk fokus. Banyak kafe sengaja memilih tempo ini untuk menciptakan suasana hangat dan produktif.
  • Musik tanpa lirik banyak dipilih penulis, mahasiswa, atau desainer karena kata-kata dalam lagu bisa mengganggu alur pikiran. Instrumental, white noise, atau bahkan suara hujan bisa jadi alternatif.
  • Playlist yang konsisten juga membantu otak membentuk asosiasi. Setiap kali mendengar jenis musik tertentu, otak seperti diberi sinyal bahwa saatnya fokus.

Menulis di Kafe Tanpa Musik

Ada pula pengalaman unik saat menulis di kafe yang tiba-tiba hening karena musik berhenti.

Awalnya terasa janggal, tapi lama-kelamaan bunyi sendok, mesin kopi, dan percakapan samar-samar menjadi ambient sound tersendiri.

Justru dalam suasana sunyi itu saya bisa lebih “mendengar” suara karakter-karakter dalam naskah saya.

Playlist yang Mengiringi Perjalanan Naskah

Sejak awal menulis novel hingga akhirnya rampung, setiap bab seakan punya playlist sendiri.

Bab nostalgia lahir di kafe dengan lantunan The Beatles, bab penuh ketegangan saya tulis di tempat dengan musik elektronik ringan, dan adegan klimaks justru tercipta di kafe tepi pantai dengan latar musik instrumental berpadu suara ombak.

Tentu, ada juga momen kurang menyenangkan. Misalnya saat lagu yang sama diputar berkali-kali, atau volume terlalu keras hingga sulit mendengar pikiran sendiri.

Akan tetapi di situlah tantangan menulis di ruang publik: kadang produktif, kadang buyar.

Polemik Royalti Musik di Kafe

Belakangan, atmosfer kafe di kota-kota besar seperti Jakarta ikut berubah karena aturan pembayaran royalti musik.

Berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta, kafe atau restoran yang memutar musik komersial wajib membayar biaya lisensi kepada Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).

Tujuannya tentu baik, agar musisi mendapatkan haknya. Namun, bagi sebagian pelaku usaha, biaya tambahan ini menjadi beban.

Ada kafe yang akhirnya memilih mematikan musik, sementara yang lain berkreasi dengan memutar karya musisi indie lokal atau menggunakan platform musik berlisensi khusus untuk bisnis.

Bagi saya pribadi, kafe tanpa musik rasanya ada yang kurang. Musik di kafe bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari ekosistem kreatif kota.

Ia bisa memengaruhi mood, menghidupkan suasana, bahkan menjadi inspirasi untuk menyelesaikan naskah yang lama terbengkalai.

Penutup

Akhirnya, naskah yang sempat jadi fosil digital itu rampung juga. Dan saya sadar, perjalanan menyelesaikan novel tidak hanya soal disiplin menulis, tapi juga soal suasana.

Musik di kafe, secangkir latte, dan keberagaman atmosfer tempat nongkrong ternyata menjadi bagian penting dalam proses kreatif.

Tanpa itu semua, mungkin cerita yang saya tulis tak akan pernah selesai.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Novel Mandek 12 Tahun Terselamatkan oleh Latte dan Musik di Kafe"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau