Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Uli Hartati
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Uli Hartati adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

5 Cara Menikmati Macet a la "Working Mom"

Kompas.com, 31 Agustus 2025, 14:28 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana cara menjaga emosi agar tidak mudah tersulut saat berjam-jam terjebak di jalan? Apakah perjalanan pulang-pergi yang jauh membuat Anda sering kehilangan waktu untuk keluarga atau me time?

Setiap kali saya bercerita bahwa setiap hari harus pulang-pergi Tangerang–Jakarta sejauh 43 kilometer dengan motor, reaksi orang yang mendengarnya hampir selalu sama: kaget.

“Ya ampun, nggak capek?”
Macet begitu nggak bikin stres?”

Saya hanya tersenyum. Jawaban saya sederhana: bisa karena biasa. Saya menjalaninya dengan kesadaran penuh, bukan keterpaksaan.

Kemudian, ketika sesuatu dijalani dengan ikhlas, bahkan dengan cinta, maka beban itu bisa terasa lebih ringan.

Apa Itu Commuting Stress?

Dalam dunia kerja, commuting stress adalah istilah untuk menggambarkan stres yang muncul akibat perjalanan harian dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Penyebabnya beragam:

  • waktu tempuh yang lama, bisa 2–3 jam di jalan,
  • kemacetan yang menguras energi,
  • transportasi umum yang penuh sesak,
  • biaya perjalanan yang terus bertambah,
  • hingga berkurangnya waktu pribadi bersama keluarga.

Tak heran, banyak orang menjadi lebih cepat lelah, mudah marah, bahkan kehilangan semangat kerja.

Saya pun termasuk dalam kategori rawan, karena perjalanan saya bisa memakan waktu hingga dua jam lebih sekali jalan. Namun sejauh ini, saya memilih untuk menikmatinya.

Bagi saya, stres itu bukan semata datang dari situasi, melainkan dari cara kita memandangnya. Sama-sama terjebak macet, ada yang marah-marah, ada yang pasrah, ada pula yang tenang. Saya memilih yang terakhir.

5 Cara Mengatasi Commuting Stress Versi Saya

1. Mengubah Macet Jadi Ruang Doa

Daripada kesal karena jalanan penuh sesak, saya memilih melantunkan doa, membaca ayat pendek, atau mendoakan orang-orang yang saya temui di jalan. Perjalanan pun terasa lebih ringan.

2. Mengamati Hal-Hal Kecil di Jalan

Di tengah lalu lintas, saya sering memperhatikan pedagang, sopir, atau pengendara lain. Dari mereka saya belajar banyak tentang kesabaran dan perjuangan hidup. Perjalanan jadi lebih bermakna.

3. Menjadikan Macet “Sekolah Kesabaran”

Alih-alih menganggap macet sebagai penderitaan, saya menjadikannya latihan melatih emosi. Kalau bisa melewati dua jam perjalanan tanpa marah, rasanya mental jadi lebih kuat.

4. Istirahat Sejenak di Tengah Jalan

Ketika lelah atau kantuk menyerang, saya memilih berhenti sejenak. Kadang sekadar menikmati semangkuk bakso pinggir jalan. Momen sederhana ini justru memberi energi baru.

5. Mensyukuri Perjalanan Panjang

Daripada mengeluh soal jarak, saya lebih memilih bersyukur masih diberi kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan untuk pulang pergi dengan selamat. Rasa syukur inilah yang menjadi kunci terpenting.

Bagi banyak orang, commuting adalah sumber stres. Namun bagi saya, perjalanan jauh setiap hari justru menjadi ruang belajar—tentang sabar, ikhlas, dan rasa syukur.

Di balik jalanan yang macet, ternyata selalu ada ruang untuk refleksi, untuk doa, bahkan untuk menikmati semangkuk bakso hangat di pinggir jalan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bisa Karena Biasa: 5 Caraku Mengatasi Commuting Stress"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau