
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana cara menjaga emosi agar tidak mudah tersulut saat berjam-jam terjebak di jalan? Apakah perjalanan pulang-pergi yang jauh membuat Anda sering kehilangan waktu untuk keluarga atau me time?
Setiap kali saya bercerita bahwa setiap hari harus pulang-pergi Tangerang–Jakarta sejauh 43 kilometer dengan motor, reaksi orang yang mendengarnya hampir selalu sama: kaget.
“Ya ampun, nggak capek?”
“Macet begitu nggak bikin stres?”
Saya hanya tersenyum. Jawaban saya sederhana: bisa karena biasa. Saya menjalaninya dengan kesadaran penuh, bukan keterpaksaan.
Kemudian, ketika sesuatu dijalani dengan ikhlas, bahkan dengan cinta, maka beban itu bisa terasa lebih ringan.
Apa Itu Commuting Stress?
Dalam dunia kerja, commuting stress adalah istilah untuk menggambarkan stres yang muncul akibat perjalanan harian dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Penyebabnya beragam:
Tak heran, banyak orang menjadi lebih cepat lelah, mudah marah, bahkan kehilangan semangat kerja.
Saya pun termasuk dalam kategori rawan, karena perjalanan saya bisa memakan waktu hingga dua jam lebih sekali jalan. Namun sejauh ini, saya memilih untuk menikmatinya.
Bagi saya, stres itu bukan semata datang dari situasi, melainkan dari cara kita memandangnya. Sama-sama terjebak macet, ada yang marah-marah, ada yang pasrah, ada pula yang tenang. Saya memilih yang terakhir.
5 Cara Mengatasi Commuting Stress Versi Saya
1. Mengubah Macet Jadi Ruang Doa
Daripada kesal karena jalanan penuh sesak, saya memilih melantunkan doa, membaca ayat pendek, atau mendoakan orang-orang yang saya temui di jalan. Perjalanan pun terasa lebih ringan.
2. Mengamati Hal-Hal Kecil di Jalan
Di tengah lalu lintas, saya sering memperhatikan pedagang, sopir, atau pengendara lain. Dari mereka saya belajar banyak tentang kesabaran dan perjuangan hidup. Perjalanan jadi lebih bermakna.
3. Menjadikan Macet “Sekolah Kesabaran”
Alih-alih menganggap macet sebagai penderitaan, saya menjadikannya latihan melatih emosi. Kalau bisa melewati dua jam perjalanan tanpa marah, rasanya mental jadi lebih kuat.
4. Istirahat Sejenak di Tengah Jalan
Ketika lelah atau kantuk menyerang, saya memilih berhenti sejenak. Kadang sekadar menikmati semangkuk bakso pinggir jalan. Momen sederhana ini justru memberi energi baru.
5. Mensyukuri Perjalanan Panjang
Daripada mengeluh soal jarak, saya lebih memilih bersyukur masih diberi kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan untuk pulang pergi dengan selamat. Rasa syukur inilah yang menjadi kunci terpenting.
Bagi banyak orang, commuting adalah sumber stres. Namun bagi saya, perjalanan jauh setiap hari justru menjadi ruang belajar—tentang sabar, ikhlas, dan rasa syukur.
Di balik jalanan yang macet, ternyata selalu ada ruang untuk refleksi, untuk doa, bahkan untuk menikmati semangkuk bakso hangat di pinggir jalan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bisa Karena Biasa: 5 Caraku Mengatasi Commuting Stress"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang