
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Jika hidup adalah “sekolah besar”, pelajaran apa yang paling berharga menurut Anda tentang ketabahan dan cinta?
Single bukan hanya sebuah status, Ia bisa menjadi kekuatan untuk tetap berdiri, meski separuh jiwa telah tiada.
Hidup kadang menghadirkan kejutan yang tak pernah kita duga. Saya adalah seorang perempuan yang dipaksa keadaan untuk memikul peran ganda: menjadi ibu sekaligus ayah bagi tiga anak yang masih belia.
Sejak suami saya berpulang tujuh tahun lalu, jalan hidup yang sebelumnya kami jalani bersama berubah menjadi perjalanan seorang diri.
Air mata tentu tak bisa ditahan, tetapi saya belajar untuk membiarkannya jatuh hanya dalam doa.
Selebihnya, hari-hari harus saya isi dengan kerja keras dan doa yang tak putus.
Anak-anak saya bukan hanya membutuhkan makanan di meja, tetapi juga hati yang hangat, kasih sayang, dan keyakinan bahwa hidup harus terus dilanjutkan.
Menjalani Peran Ganda
Menjadi orang tua tunggal berarti siap menanggung beban yang biasanya dibagi berdua.
Saya harus menenangkan tangis anak-anak, sekaligus membuat keputusan-keputusan besar yang biasanya menjadi peran seorang ayah.
Mengatur keuangan rumah tangga, memilih prioritas pendidikan, hingga memastikan kebutuhan harian terpenuhi—semua ada di pundak saya. Kadang saya harus bersuara lembut, kadang tegas.
Itu bukan hal yang mudah. Namun setiap kali rasa rapuh datang, anak-anaklah yang kembali menguatkan saya.
Hidup di Kelas Menengah yang Rawan Terperosok
Saat suami masih ada, kehidupan terasa lebih tenang. Dua gaji membuat kami cukup untuk membayar rumah, sekolah, bahkan sesekali berlibur. Namun setelah penyakit merenggut nyawanya, semua berubah drastis.
Sebagai guru swasta, ditambah sedikit penghasilan dari pensiunan janda, saya berusaha bertahan. Namun kebutuhan hidup yang kian naik tak sebanding dengan penghasilan.