
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ternyata bisa lho ketika kita mencicip sesuatu mengingatkan kita pada sebuah momen masa lalu dan kenangan yang terbawa bersamanya.
Begitulah sensasi yang muncul ketika tanpa sengaja saya menemukan kedai es krim legendaris di tengah hiruk pikuk Jakarta.
Siang itu, terik matahari Jakarta membuat dahaga datang cepat. Seusai menjelajah toko-toko buku di kawasan Kwitang, langkah saya terhenti oleh papan kecil bertuliskan “Es Krim Baltic — Sejak 1939”.
Seketika rasa ingin tahu muncul. Bagaimana bisa sebuah kedai es krim bertahan selama lebih dari delapan dekade di tengah arus modernitas yang begitu cepat berubah?
Tanpa pikir panjang, saya pun masuk. Kedainya sederhana dengan sentuhan modern: kursi merah, kaca besar di sisi dinding, dan lampu gantung bergaya klasik yang memberi nuansa nostalgia.
Begitu duduk, saya langsung memesan beberapa rasa — Durian Montong yang katanya paling populer, Strawberry, dan Kopyor. Teman saya, Kak Rere, memilih rasa terakhir itu.
Suapan pertama es krim Durian Montong langsung membawa saya pada kesan yang sulit dilupakan. Teksturnya lembut, rasa manisnya tidak berlebihan, dan aroma duriannya kuat tapi tidak menyengat.
Ada keseimbangan rasa antara susu dan buah, ringan namun memuaskan. Selesai satu cup, saya meneguk air putih sejenak sebelum melanjutkan ke rasa Strawberry yang ternyata sama memikatnya — segar, manisnya pas, dan lembut di lidah.
Sembari menikmati es krim, saya sempat berbincang dengan staf kedai. “Dulu disajikannya dalam mangkuk atau gelas es krim, Kak,” ujarnya ramah.
Bayangan masa lalu pun hadir di kepala saya — orang-orang Belanda yang dulu menikmati semangkuk es krim dingin di tahun 1939, lalu berganti menjadi mahasiswa-mahasiswa Jakarta yang menjadikan kedai ini tempat nongkrong pada masanya.
Kini, pelanggan yang datang pun beragam. Ada mahasiswa, pekerja kantoran, hingga ibu-ibu yang sibuk memandangi ponsel sambil menikmati es krim. Menariknya, Baltic tetap setia pada prinsip lama: tanpa bahan pengawet.
Itu sebabnya es krim mereka tak bisa dibawa bepergian jauh tanpa mesin pendingin. Namun untuk warga Jabodetabek, mereka menyediakan layanan pesan antar dan bahkan menjual versi literan untuk acara keluarga.
Saya dan Kak Rere sempat menambah pesanan — kali ini versi stick, rasa Avocado dan Ketan Hitam.
“Aku lebih suka yang stick, ada sensasi krenyes-nya,” kata Kak Rere sambil tersenyum. Kami menghabiskan lima es krim dalam satu duduk, sambil berbagi obrolan ringan di tengah suasana yang tenang.
Soal harga, es krim Baltic ini masih terjangkau, bahkan terasa seperti luxury treat yang sederhana.