
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Jika kita membayangkan hari ini ketika antibiotik tidak lagi mampu menyembuhkan infeksi sederhana hingga luka kecil, apakah ini akan jadi suatu hal yang serius di masa depan?
Ya, seperti itulah gambaran masa depan jika resistensi antimikroba terus berkembang tanpa kendali.
Topik resistensi antimikroba (AMR) mungkin terasa berulang, tetapi urgensinya tidak pernah berkurang.
Setiap tahun, WHO mengadakan World Antimicrobial Resistance Awareness Week (WAAW) pada 18–24 November sebagai pengingat bahwa ancaman AMR tidak pernah benar-benar surut.
Jika penggunaan antimikroba masih sering dilakukan secara sembarangan, risiko kesehatan masyarakat global akan semakin besar.
Apa Itu Resistensi Antimikroba?
Antimikroba—seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit—adalah obat yang bekerja melawan infeksi yang disebabkan mikroorganisme.
Ada pula antiseptik dan disinfektan yang digunakan untuk menghambat atau membunuh kuman di permukaan tubuh dan lingkungan.
Namun, resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme berubah dan tidak lagi merespons obat. Akibatnya, pengobatan menjadi lebih sulit, infeksi menyebar lebih cepat, biaya perawatan meningkat, hingga risiko kematian bertambah.
Laporan The Lancet menunjukkan bahwa AMR berkontribusi pada 1,27 juta kematian global pada 2019. Data IHME pada 2021 juga mencatat lebih dari 36.000 kematian terkait AMR. Angka ini menjadi sinyal bahwa penanganannya tidak boleh stagnan.
Contoh mikroba yang mulai menunjukkan resistensi antara lain Staphylococcus aureus (MRSA), Enterococcus (VRE), Mycobacterium tuberculosis (MDR-TB), dan E. coli pada beberapa strain tertentu.
Mengapa Resistensi Bisa Terjadi?
Beberapa faktor utama yang memicu AMR di masyarakat antara lain:
1. Penggunaan Obat yang Tidak Tepat
Antibiotik digunakan untuk bakteri, bukan virus. Namun praktik misuse dan overuse masih sering terjadi—mulai dari membeli antibiotik tanpa resep, mengonsumsi obat yang tidak sesuai dosis, hingga mencampur beberapa antibiotik tanpa indikasi jelas.
Swamedikasi seharusnya hanya untuk kondisi ringan dengan obat bebas atau obat bebas terbatas, bukan antimikroba yang termasuk obat keras.
2. Ketidakpatuhan Pasien
Tidak menghabiskan antibiotik sesuai resep, menggunakan sisa obat milik orang lain, hingga menyimpan obat dengan cara yang keliru dapat membuat obat tidak bekerja optimal dan memberi peluang bagi mikroba untuk bermutasi.
3. Penggunaan Antimikroba pada Hewan Ternak
Antibiotik yang pernah digunakan sebagai campuran pakan ternak dapat meninggalkan residu pada daging. Ketika residu ini masuk ke tubuh manusia, risiko resistensi ikut meningkat.
4. Higiene dan Sanitasi yang Kurang Memadai
Akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi meningkatkan penyebaran mikroba resisten.
Lingkungan yang tidak higienis memudahkan infeksi menyebar, dan pada akhirnya mempercepat perkembangan resistensi.
Risiko di Masa Depan Jika AMR Tidak Terkendali
Kemajuan pengobatan modern sangat bergantung pada ketersediaan obat antimikroba yang efektif.
Ketika laju resistensi lebih cepat daripada penemuan obat baru, berbagai prosedur medis—dari operasi, rawat inap, hingga kemoterapi—menjadi lebih berbahaya. Risiko yang mungkin terjadi antara lain:
Peran Semua Pihak dalam Mencegah AMR
Pencegahan resistensi antimikroba tidak bisa dipikul satu pihak saja. Pemerintah, tenaga medis, pelaku usaha, hingga masyarakat memiliki peran penting.
Pemerintah
Menyusun kebijakan, memperkuat fasilitas kesehatan, serta memastikan edukasi dan sosialisasi berjalan berkelanjutan.
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Mengutamakan prinsip penggunaan obat yang rasional serta mengikuti pedoman WHO, termasuk AWaRe Classification—membedakan antibiotik kelompok Access, Watch, dan Reserve sesuai tingkat risiko resistensi.
Pelaku Usaha Bidang Farmasi
Memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan, mutu, dan khasiat produk. Bisnis farmasi tidak boleh berdiri semata-mata di atas keuntungan.
Masyarakat
Menggunakan antimikroba sesuai petunjuk dokter, membeli obat di tempat resmi, tidak berbagi antibiotik, serta membuang obat kedaluwarsa dengan benar agar tidak mencemari lingkungan.
Lindungi Hari Ini, Amankan Masa Depan
Resistensi antimikroba memang tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata. Tema WAAW 2025 kembali mengingatkan kita: “Act now: protect our present, secure our future.”
Menggunakan antimikroba secara bijak bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga generasi mendatang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Yuk Lindungi Masa Kini dan Masa Depan dari Resistensi Antimikroba"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang