Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Irmina Gultom
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Irmina Gultom adalah seorang yang berprofesi sebagai Apoteker. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Resistensi Antimikroba, Ancaman Sunyi yang Semakin Nyata

Kompas.com, 23 November 2025, 22:52 WIB

Jika kita membayangkan hari ini ketika antibiotik tidak lagi mampu menyembuhkan infeksi sederhana hingga luka kecil, apakah ini akan jadi suatu hal yang serius di masa depan?

Ya, seperti itulah gambaran masa depan jika resistensi antimikroba terus berkembang tanpa kendali.

Topik resistensi antimikroba (AMR) mungkin terasa berulang, tetapi urgensinya tidak pernah berkurang.

Setiap tahun, WHO mengadakan World Antimicrobial Resistance Awareness Week (WAAW) pada 18–24 November sebagai pengingat bahwa ancaman AMR tidak pernah benar-benar surut.

Jika penggunaan antimikroba masih sering dilakukan secara sembarangan, risiko kesehatan masyarakat global akan semakin besar.

Apa Itu Resistensi Antimikroba?

Antimikroba—seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit—adalah obat yang bekerja melawan infeksi yang disebabkan mikroorganisme.

Ada pula antiseptik dan disinfektan yang digunakan untuk menghambat atau membunuh kuman di permukaan tubuh dan lingkungan.

Namun, resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme berubah dan tidak lagi merespons obat. Akibatnya, pengobatan menjadi lebih sulit, infeksi menyebar lebih cepat, biaya perawatan meningkat, hingga risiko kematian bertambah.

Laporan The Lancet menunjukkan bahwa AMR berkontribusi pada 1,27 juta kematian global pada 2019. Data IHME pada 2021 juga mencatat lebih dari 36.000 kematian terkait AMR. Angka ini menjadi sinyal bahwa penanganannya tidak boleh stagnan.

Contoh mikroba yang mulai menunjukkan resistensi antara lain Staphylococcus aureus (MRSA), Enterococcus (VRE), Mycobacterium tuberculosis (MDR-TB), dan E. coli pada beberapa strain tertentu.

Mengapa Resistensi Bisa Terjadi?

Beberapa faktor utama yang memicu AMR di masyarakat antara lain:

1. Penggunaan Obat yang Tidak Tepat

Antibiotik digunakan untuk bakteri, bukan virus. Namun praktik misuse dan overuse masih sering terjadi—mulai dari membeli antibiotik tanpa resep, mengonsumsi obat yang tidak sesuai dosis, hingga mencampur beberapa antibiotik tanpa indikasi jelas.

Swamedikasi seharusnya hanya untuk kondisi ringan dengan obat bebas atau obat bebas terbatas, bukan antimikroba yang termasuk obat keras.

2. Ketidakpatuhan Pasien

Tidak menghabiskan antibiotik sesuai resep, menggunakan sisa obat milik orang lain, hingga menyimpan obat dengan cara yang keliru dapat membuat obat tidak bekerja optimal dan memberi peluang bagi mikroba untuk bermutasi.

3. Penggunaan Antimikroba pada Hewan Ternak

Antibiotik yang pernah digunakan sebagai campuran pakan ternak dapat meninggalkan residu pada daging. Ketika residu ini masuk ke tubuh manusia, risiko resistensi ikut meningkat.

4. Higiene dan Sanitasi yang Kurang Memadai

Akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi meningkatkan penyebaran mikroba resisten.

Lingkungan yang tidak higienis memudahkan infeksi menyebar, dan pada akhirnya mempercepat perkembangan resistensi.

Risiko di Masa Depan Jika AMR Tidak Terkendali

Kemajuan pengobatan modern sangat bergantung pada ketersediaan obat antimikroba yang efektif.

Ketika laju resistensi lebih cepat daripada penemuan obat baru, berbagai prosedur medis—dari operasi, rawat inap, hingga kemoterapi—menjadi lebih berbahaya. Risiko yang mungkin terjadi antara lain:

  • Penyembuhan lebih lama dan biaya perawatan lebih tinggi
  • Infeksi semakin sulit ditangani
  • Meningkatnya angka kematian akibat sepsis atau komplikasi infeksi
  • Munculnya “superbug” yang kebal terhadap hampir seluruh obat

Peran Semua Pihak dalam Mencegah AMR

Pencegahan resistensi antimikroba tidak bisa dipikul satu pihak saja. Pemerintah, tenaga medis, pelaku usaha, hingga masyarakat memiliki peran penting.

Pemerintah

Menyusun kebijakan, memperkuat fasilitas kesehatan, serta memastikan edukasi dan sosialisasi berjalan berkelanjutan.

Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan

Mengutamakan prinsip penggunaan obat yang rasional serta mengikuti pedoman WHO, termasuk AWaRe Classification—membedakan antibiotik kelompok Access, Watch, dan Reserve sesuai tingkat risiko resistensi.

Pelaku Usaha Bidang Farmasi

Memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan, mutu, dan khasiat produk. Bisnis farmasi tidak boleh berdiri semata-mata di atas keuntungan.

Masyarakat

Menggunakan antimikroba sesuai petunjuk dokter, membeli obat di tempat resmi, tidak berbagi antibiotik, serta membuang obat kedaluwarsa dengan benar agar tidak mencemari lingkungan.

Lindungi Hari Ini, Amankan Masa Depan

Resistensi antimikroba memang tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata. Tema WAAW 2025 kembali mengingatkan kita: “Act now: protect our present, secure our future.”

Menggunakan antimikroba secara bijak bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga generasi mendatang.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Yuk Lindungi Masa Kini dan Masa Depan dari Resistensi Antimikroba"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau