Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agung Han
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Agung Han adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pernikahan dan Alasan-alasan Kecil untuk Bertahan

Kompas.com, 21 Desember 2025, 14:57 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah rutinitas, konflik kecil, dan perubahan hidup yang tak terelakkan, apa yang sebenarnya membuat suami-istri memilih tetap berjalan bersama, tahun demi tahun?

Melihat pasangan pengantin baru selalu menghadirkan rasa hangat. Ke mana-mana berdua, saling menunggu, saling menggenggam.

Perhatian tercurah penuh, seolah dunia hanya berisi mereka berdua. Kebersamaan terasa ringan, mesra, dan nyaris tanpa jeda.

Banyak pasangan yang pernah berada di fase itu tentu mengenalnya dengan baik. Fase ketika menjadi prioritas satu sama lain terasa begitu nyata. Fase ketika cinta terasa sederhana dan membahagiakan.

Namun seperti halnya musim, fase itu tidak berlangsung selamanya.

Seiring bertambahnya usia pernikahan, kehidupan mulai menampilkan wajahnya yang lebih utuh.

Tagihan datang setiap bulan, kebutuhan rumah tangga menunggu dipenuhi, dan anak-anak tumbuh dengan kebutuhan yang semakin besar. Di titik inilah, romantisme perlahan bertransformasi menjadi tanggung jawab.

Bukan berarti cinta menghilang, melainkan berganti bentuk.

Ketika Pernikahan Masuk Fase Nyata

Pada fase ini, suami dan istri belajar bersikap lebih realistis. Suami bergelut dengan tuntutan pekerjaan, istri berjibaku dengan ritme rumah tangga. Keduanya sama-sama lelah, sama-sama belajar menyesuaikan diri.

Ujian datang silih berganti. Kesabaran, kesetiaan, dan komitmen yang dulu diucapkan dalam janji pernikahan perlahan diuji dalam keseharian. Perbedaan pendapat tak terelakkan, gesekan emosional pun kadang muncul.

Namun justru di sanalah makna pernikahan diuji. Bukan pada seberapa sering bahagia, melainkan seberapa besar kesediaan untuk bertahan dan saling memahami.

Pernikahan bukan sekadar perjalanan romantis, melainkan proses panjang mengelola ego, belajar mengalah, dan terus menumbuhkan empati. Ia adalah ruang belajar yang tidak pernah benar-benar selesai.

Fase-Fase yang Membentuk Kebersamaan

Bagi pasangan yang telah lama menikah, kenangan masa awal pernikahan kerap menghadirkan senyum kecil. Masa ketika menabung bersama untuk membeli perabot rumah tangga, memilih kontrakan sederhana, hingga perlahan membangun kehidupan dari nol.

Lalu hadir fase kehadiran anak. Kabar kehamilan membawa kebahagiaan sekaligus tanggung jawab baru. Suami dan istri belajar bekerja sama, bergantian terjaga di malam hari, saling menguatkan saat anak sakit, dan merasakan betapa cinta bisa tumbuh semakin luas.

Pada fase inilah kebersamaan diuji dengan cara yang paling sunyi. Bukan lewat kata-kata manis, tetapi lewat tindakan sederhana: menemani, menjaga, dan bertahan.

Semua itu membentuk ikatan yang tidak selalu terlihat dari luar, tetapi terasa kuat di dalam.

Mengapa Tetap Bersama?

Selama apa pun kebersamaan, suami dan istri tetaplah dua pribadi yang berbeda. Perbedaan karakter tidak serta-merta hilang hanya karena sering bertemu. Namun manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi, belajar, dan bertumbuh.

Ketika konflik muncul, tidak semua harus dibesarkan. Ada hal-hal kecil yang bisa ditoleransi demi menjaga ketenangan bersama, terutama ketika ada anak-anak yang ikut belajar dari cara orang tuanya menyelesaikan masalah.

Mengingat kembali masa-masa sulit yang pernah dilalui—dari awal membangun rumah tangga, menghadapi keterbatasan, hingga melihat anak tumbuh dan mandiri—sering kali menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak dibangun dalam satu hari.

Ada tangis, ada lelah, tetapi juga ada tawa dan rasa syukur.

Konflik adalah bagian dari relasi manusia. Selama kadarnya wajar dan disikapi dengan kedewasaan, konflik justru bisa menjadi ruang belajar untuk saling mengenal lebih dalam.

***

Bagi pasangan yang telah menempuh perjalanan panjang, menoleh ke belakang kerap menghadirkan rasa haru.

Mengingat masa kehamilan, persalinan, begadang bersama, hingga menyaksikan anak belajar melangkah—semua itu menyisakan jejak emosional yang mendalam.

Pengalaman-pengalaman itulah yang sering kali melunakkan hati saat perbedaan kembali muncul. Menyadarkan bahwa hubungan ini pernah diperjuangkan bersama, dan masih layak untuk terus dijaga.

Ya, sebenarnya ada banyak alasan suami istri untuk tetap bersama.

Bukan karena segalanya mudah, melainkan karena kebersamaan itu telah dibangun dengan usaha, pengorbanan, dan cinta yang tumbuh dari waktu ke waktu.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sebenarnya Ada Banyak Alasan Suami Istri untuk Tetap Bersama"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau