
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ingatkah kamu ketika menonton film awal 2000-an, tetapi mendapati tokohnya sudah menggunakan gawai canggih yang jelas belum ada di era tersebut?
Apakah detail kostum dan dialog yang terasa “tidak pada tempatnya”? Sejauh apa sebenarnya riset berperan dalam menjaga keutuhan sebuah film?
Ketidaksesuaian detail semacam itu mungkin terlihat sepele, namun kerap mengganggu pengalaman menonton.
Lebih jauh lagi, hal tersebut bisa memengaruhi kredibilitas pembuat film di mata penonton.
Kesadaran inilah yang mendorong pentingnya riset sebagai fondasi dalam proses produksi film—sebuah topik yang dibahas dalam Kelas Riset Film yang diselenggarakan oleh Kineforum bekerja sama dengan DoResearch.
Bertempat di Ruang Seni Rupa Gedung Trisno Soemardjo, kegiatan yang berlangsung pada 5 Desember ini diikuti sekitar 30 peserta.
Selama sehari penuh, peserta mendapatkan pembekalan dari dua narasumber, Dodit Wijanarko dan Barly J. Fibriady.
Tak hanya pemaparan materi, kelas ini juga diisi dengan praktik menentukan tema dan metode riset film, lengkap dengan sesi presentasi serta umpan balik langsung dari para pemateri.
Riset sebagai Penjaga Akurasi Cerita
Dodit Wijanarko membagikan pengalamannya saat terlibat dalam riset karakter untuk sebuah film. Ia mencontohkan bagaimana seorang penulis skenario meminta bantuan riset untuk tokoh berlatar tahun 1990-an di sebuah daerah tertentu, dengan keseharian berdagang di kawasan lokalisasi.
Detail-detail seperti jenis pakaian, pilihan dialog, hingga barang dagangan di warung menjadi krusial untuk ditelusuri.
Kesalahan kecil, seperti menghadirkan produk yang belum beredar pada era tersebut, dapat merusak soliditas cerita.
Begitu pula kostum yang tidak sesuai zaman bisa membuat penonton merasa “terlepas” dari dunia yang sedang dibangun film.
Menurut Dodit, riset film adalah proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan sebelum dan selama produksi untuk memastikan akurasi, kedalaman cerita, serta kekuatan elemen visual.
Aspek yang diriset mencakup latar sejarah, budaya, karakter, lokasi, hingga kostum, agar film terasa otentik dan kredibel.
Tujuan riset pun beragam, mulai dari menjaga akurasi cerita, memperkaya pengembangan karakter, membangun suasana yang tepat, hingga menghormati penonton dengan menyajikan karya yang digarap secara sungguh-sungguh.
Mengenal Karakter Lebih Dalam
Selain observasi dan wawancara, riset film juga kerap menggunakan pendekatan seperti mind mapping untuk memetakan elemen yang perlu digali.
Latar waktu dan tempat, misalnya, tidak hanya soal visual, tetapi juga mencakup kebiasaan masyarakat, teknologi yang tersedia, hingga tren yang berkembang pada masa itu.
Barly J. Fibriady kemudian memperluas pembahasan dengan menyoroti pentingnya riset karakter.
Menurutnya, riset karakter tidak berhenti pada data fisik semata—usia, jenis kelamin, postur, atau cara berbicara.
Lebih dari itu, karakter perlu dipahami secara sosiologis dan psikologis: latar pendidikan, pekerjaan, keluarga, nilai hidup, hingga konflik batin yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia.
Pendalaman semacam ini membantu aktor, sutradara, dan tim produksi menghadirkan karakter yang terasa hidup dan meyakinkan di layar.
Pentingnya Riset Visual dan Recce Lokasi
Riset dalam film juga mencakup aspek visual. Barly menjelaskan bahwa riset visual adalah proses mengumpulkan dan menganalisis referensi visual sebagai dasar perancangan desain film.
Proses ini meliputi pengumpulan data, pembuatan moodboard, perancangan elemen visual, hingga evaluasi untuk menjaga konsistensi.
Ia memberi contoh bagaimana sebuah skenario menggambarkan tokoh yang tinggal di desa terpencil.
Namun ketika tim melakukan recce atau survei lokasi, kondisi lapangan ternyata sangat menantang—akses sulit, listrik terbatas, dan berisiko bagi logistik produksi.
Dalam situasi seperti ini, riset visual menjadi landasan penting untuk pengambilan keputusan kreatif sekaligus teknis.
Pilihan shot, penataan cahaya, hingga warna dominan dalam film turut dipengaruhi oleh riset visual.
Film dengan long shot akan menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan close up, begitu pula pilihan warna sepia atau palet futuristik akan membentuk pengalaman emosional penonton yang berbeda.
Barly juga berbagi pengalamannya melakukan recce hampir untuk setiap adegan. Jika sebuah film memiliki 120 adegan, maka akan ada 120 catatan perlakuan visual. Proses riset visual ini, menurutnya, bahkan bisa memakan waktu hingga satu tahun tersendiri.
Riset sebagai Investasi Jangka Panjang
Kelas Riset Film ditutup dengan presentasi ide riset dari para peserta, yang kemudian mendapatkan masukan langsung dari pemateri.
Diskusi ini menegaskan bahwa riset bukan sekadar tahapan tambahan, melainkan investasi penting dalam proses produksi film.
Bagi penulis, sutradara, maupun kru produksi, riset membantu memastikan bahwa cerita yang disampaikan tidak hanya menarik, tetapi juga bertanggung jawab secara detail dan konteks.
Pengalaman mengikuti kelas ini pun menjadi bekal berharga, khususnya bagi penulis, untuk proses produksi film Komik berikutnya.
Pada akhirnya, riset adalah upaya menjaga kepercayaan penonton—bahwa setiap adegan yang hadir di layar telah melalui proses pemikiran dan penggalian yang matang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seperti Apa Peranan Riset dalam Produksi Film?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang