Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
kaekaha
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama kaekaha adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa

Kompas.com, 22 Desember 2025, 12:07 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Mengapa rangkaian kata sederhana bernama pantun mampu bertahan lintas generasi, bahkan hingga diakui dunia sebagai warisan budaya?

Sejak tahun 2020, tanggal 17 Desember memiliki arti tersendiri dalam lanskap kebudayaan Indonesia, khususnya bagi masyarakat Melayu yang jejak budayanya tersebar di berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara.

Pada tanggal inilah, seni pantun ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Penetapan tersebut dilakukan dalam Sidang ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO yang digelar secara daring dari Paris, Prancis.

Pengakuan ini merupakan hasil perjalanan panjang sejak 2017, melalui mekanisme joint nomination antara Indonesia dan Malaysia, yang disertai kajian akademik serta dokumentasi praktik hidup pantun di tengah masyarakat.

Lima tahun berselang, pengakuan itu memperoleh makna baru. Pemerintah Indonesia menetapkan 17 Desember sebagai Hari Pantun Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 163/M/2025.

Momentum ini bukan sekadar penanda seremonial, melainkan ajakan untuk kembali menengok satu tradisi lisan yang sederhana, namun sarat makna.

Pantun: Lebih dari Sekadar Rima

Dalam tradisi Melayu, pantun dengan empat barisnya—dua sampiran dan dua isi—bukanlah sekadar permainan bunyi atau hiasan kata. Di dalam strukturnya yang ringkas, pantun menyimpan nilai etika, kecerdasan kolektif, dan cara berpikir masyarakat Nusantara.

Sampiran bukan pengantar kosong. Ia memberi ruang jeda bagi imajinasi sebelum makna disampaikan.

Di sanalah pantun mengajarkan keseimbangan antara keindahan bahasa dan kedalaman pesan. Nasihat disampaikan tanpa menggurui, kritik dilontarkan tanpa melukai, dan rasa cinta dirayu tanpa kehilangan kesantunan.

Pantun menjadi medium komunikasi sosial yang halus sekaligus efektif. Ia melatih kepekaan berbahasa, penalaran simbolik, dan kemampuan menyampaikan pesan secara berlapis—kecakapan literasi yang justru terasa relevan di masa kini.

Relevansi Pantun di Zaman Serba Cepat

Hari ini, kita hidup di tengah arus kata-kata yang bergerak sangat cepat. Ujaran diproduksi, dibagikan, lalu dilupakan dalam hitungan detik. Dalam situasi ini, pantun hadir sebagai pengingat bahwa berbicara pun memiliki etika.

Pantun menuntut kesabaran dalam memilih kata, ketelitian menjaga rima, dan kecermatan menyusun makna. Ia menawarkan konsep perlambatan—sebuah jeda yang membuat komunikasi lebih bermakna.

Bukan hanya sebagai warisan budaya, pantun juga menjadi penanda peradaban yang menjunjung kecerdasan dan kesantunan berbahasa.

Pemikiran ini sejalan dengan warisan intelektual Raja Ali Haji, tokoh besar sastra Melayu abad ke-19.

Melalui karya seperti Gurindam Dua Belas, ia menempatkan sastra sebagai sarana pendidikan moral, pembentuk budi pekerti, sekaligus penjaga akal dan bahasa. Pantun, dalam kerangka itu, bukan hiburan semata, melainkan instrumen pembentukan karakter.

Tantangan Merawat Warisan

Pengakuan UNESCO membawa pantun melampaui batas geografisnya. Negara-negara serumpun di Asia Tenggara—Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Thailand—memahami betul bagaimana pantun hidup dalam denyut keseharian masyarakat.

Namun pengakuan global saja tidak cukup. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pantun tetap digunakan, bukan sekadar dikenang. Jangan sampai pantun hanya hadir sebentar di buku pelajaran, lalu menghilang dari praktik sehari-hari.

Hari Pantun Nasional seharusnya menjadi momen refleksi berkelanjutan: sejauh mana kita memberi ruang bagi bahasa dan sastra tradisional dalam kehidupan modern?

Pantun tidak membutuhkan panggung megah. Ia hanya membutuhkan ruang untuk diucapkan—di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan kini, di ruang digital.

Bagi generasi muda, media sosial justru membuka peluang baru. Pantun dapat hidup kembali dalam balutan humor, kritik sosial, atau ekspresi kreatif lain yang sesuai zamannya. Bukan mengubah jiwanya, melainkan memperpanjang napasnya.

Merawat Kata, Merawat Peradaban

Pada akhirnya, perayaan pantun mengingatkan kita pada satu hal sederhana: peradaban tidak hanya dibangun oleh teknologi dan kemajuan material, tetapi juga oleh cara kita memperlakukan kata-kata.

Selama pantun masih diucapkan dan dimaknai, selama ia tetap menjadi cara kita berpikir dan bersikap, pantun akan terus hidup—menjadi bagian dari ingatan kolektif yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Akhir pekan mendaki Gamalama,
Persiapannya bisa berhari-hari
Pantun bukan sekadar kata lama,
Ia ingatan yang menjaga diri.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pantun dalam Ingatan Kolektif Kita"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau