Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Listhia H. Rahman
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Listhia H. Rahman adalah seorang yang berprofesi sebagai Ahli Gizi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan

Kompas.com, 18 Januari 2026, 11:50 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah dominasi gorengan dan tren makanan kekinian yang serba ekstrem, mungkinkah makanan kukusan kembali menjadi pilihan utama karena dianggap lebih sehat dan bersahaja?

Makanan kukusan, atau makanan yang diolah melalui proses pengukusan, belakangan ini kembali mencuri perhatian.

Padahal, metode memasak ini bukan hal baru. Kukusan merujuk pada alat tradisional—umumnya terbuat dari anyaman bambu atau logam—yang digunakan untuk mematangkan makanan dengan uap panas dari air mendidih.

Meski tergolong cara memasak lama, makanan kukusan kini semakin mudah ditemui, terutama di pagi hari.

Nah, di tepi jalan, di pasar tradisional, hingga di sudut-sudut kota, aneka kukusan hadir sebagai pilihan sarapan yang sederhana namun mengenyangkan.

Di tengah maraknya tren makanan dengan rasa super pedas, sensasi “sugar rush”, atau saus berlapis-lapis rasa, kukusan hadir sebagai “pemain lama” yang kembali ikut meramaikan dunia jajanan.

Fenomena ini seolah menandai adanya pergeseran selera sekaligus kesadaran, bahwa makanan tidak selalu harus digoreng atau penuh minyak untuk bisa dinikmati.

Dari Makanan Orang Tua Menjadi Favorit Lintas Usia

Selama ini, makanan kukusan kerap dilekatkan dengan citra sebagai makanan orang tua. Namun anggapan tersebut perlahan memudar.

Kini, kukusan tak lagi mengenal batas usia. Semakin banyak orang, termasuk generasi muda, yang mulai memperhatikan pola makan dan mencari pilihan yang lebih sehat.

Kukusan identik dengan tekstur yang lembut dan mudah dicerna. Proses pengukusan membantu mempertahankan zat gizi sekaligus meminimalkan penggunaan minyak, sehingga makanan menjadi lebih ringan bagi sistem pencernaan.

Inilah alasan mengapa kukusan selama ini dianggap cocok bagi orang lanjut usia, tetapi justru keunggulan inilah yang kini diapresiasi oleh berbagai kalangan.

Pilihan bahan makanan yang bisa dikukus pun sangat beragam. Umbi-umbian seperti ubi, singkong, kentang, hingga talas, menjadi menu yang paling umum.

Jagung manis dan aneka kacang-kacangan, seperti kacang tanah dan edamame, juga sering dijumpai. Dengan harga yang relatif terjangkau, makanan kukusan perlahan membangun basis penggemar baru dan tak lagi dipandang sebagai makanan “jadul”.

Kandungan Gizi di Balik Proses Kukus

Dari sisi gizi, makanan yang diolah dengan cara dikukus cenderung memiliki kalori yang lebih rendah dibandingkan makanan yang digoreng. Minimnya penggunaan minyak membuat kukusan lebih rendah lemak, sementara kandungan gizinya relatif lebih terjaga.

Umbi-umbian kukus merupakan sumber karbohidrat kompleks yang baik sekaligus mendukung diversifikasi pangan lokal. Sementara itu, kacang-kacangan kukus dapat menjadi sumber protein nabati, vitamin, dan mineral yang penting bagi tubuh.

Dalam Ukuran Rumah Tangga (URT), sumber karbohidrat umumnya mengandung sekitar 175 kalori, 4 gram protein, dan 40 gram karbohidrat. Kandungan ini setara dengan satu gelas nasi (sekitar 100 gram). Jika diterjemahkan ke dalam bentuk kukusan, nilai gizi tersebut bisa diperoleh dari dua buah kentang ukuran sedang (210 gram), satu setengah potong singkong (120 gram), setengah buah talas ukuran sedang (125 gram), atau satu buah ubi jalar kuning ukuran sedang (135 gram).

Data tersebut menunjukkan bahwa rasa kenyang tidak selalu harus bergantung pada nasi. Pilihan pangan lokal yang dikukus pun mampu memberikan energi yang setara.

Untuk buah, pisang kukus—yang sering menggunakan pisang kepok—dalam satu buahnya mengandung sekitar 50 kalori dan 10 gram karbohidrat. Sementara itu, kacang tanah kupas sebanyak dua sendok makan mengandung sekitar 80 kalori, 6 gram protein, 3 gram lemak, dan 8 gram karbohidrat.

Tren Lama yang Kembali Relevan

Di tengah beragam tren makanan yang silih berganti, kemunculan kembali makanan kukusan ke permukaan bisa dipandang sebagai sinyal positif. Dibandingkan makanan yang diolah dengan cara digoreng, kukusan menawarkan pilihan yang lebih ramah bagi kesehatan.

Hal ini menjadi semakin relevan ketika berbagai masalah kesehatan—seperti obesitas, diabetes melitus, hipertensi, hingga kanker—kini tidak lagi mengenal usia. Pola makan yang lebih bijak menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.

Makanan kukusan mungkin bukan hal baru, tetapi justru di situlah kekuatannya. Sederhana, terjangkau, dan lebih bersahabat bagi tubuh. Tinggal bagaimana kita memadukannya dengan konsep gizi seimbang agar manfaatnya semakin optimal.

Lalu, apa makanan kukusan favoritmu hari ini?

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Makanan Kukusan, Pemain Lama yang Sekarang Mulai Dilirik Kembali"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau