
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah dominasi gorengan dan tren makanan kekinian yang serba ekstrem, mungkinkah makanan kukusan kembali menjadi pilihan utama karena dianggap lebih sehat dan bersahaja?
Makanan kukusan, atau makanan yang diolah melalui proses pengukusan, belakangan ini kembali mencuri perhatian.
Padahal, metode memasak ini bukan hal baru. Kukusan merujuk pada alat tradisional—umumnya terbuat dari anyaman bambu atau logam—yang digunakan untuk mematangkan makanan dengan uap panas dari air mendidih.
Meski tergolong cara memasak lama, makanan kukusan kini semakin mudah ditemui, terutama di pagi hari.
Nah, di tepi jalan, di pasar tradisional, hingga di sudut-sudut kota, aneka kukusan hadir sebagai pilihan sarapan yang sederhana namun mengenyangkan.
Di tengah maraknya tren makanan dengan rasa super pedas, sensasi “sugar rush”, atau saus berlapis-lapis rasa, kukusan hadir sebagai “pemain lama” yang kembali ikut meramaikan dunia jajanan.
Fenomena ini seolah menandai adanya pergeseran selera sekaligus kesadaran, bahwa makanan tidak selalu harus digoreng atau penuh minyak untuk bisa dinikmati.
Dari Makanan Orang Tua Menjadi Favorit Lintas Usia
Selama ini, makanan kukusan kerap dilekatkan dengan citra sebagai makanan orang tua. Namun anggapan tersebut perlahan memudar.
Kini, kukusan tak lagi mengenal batas usia. Semakin banyak orang, termasuk generasi muda, yang mulai memperhatikan pola makan dan mencari pilihan yang lebih sehat.
Kukusan identik dengan tekstur yang lembut dan mudah dicerna. Proses pengukusan membantu mempertahankan zat gizi sekaligus meminimalkan penggunaan minyak, sehingga makanan menjadi lebih ringan bagi sistem pencernaan.
Inilah alasan mengapa kukusan selama ini dianggap cocok bagi orang lanjut usia, tetapi justru keunggulan inilah yang kini diapresiasi oleh berbagai kalangan.
Pilihan bahan makanan yang bisa dikukus pun sangat beragam. Umbi-umbian seperti ubi, singkong, kentang, hingga talas, menjadi menu yang paling umum.
Jagung manis dan aneka kacang-kacangan, seperti kacang tanah dan edamame, juga sering dijumpai. Dengan harga yang relatif terjangkau, makanan kukusan perlahan membangun basis penggemar baru dan tak lagi dipandang sebagai makanan “jadul”.
Kandungan Gizi di Balik Proses Kukus
Dari sisi gizi, makanan yang diolah dengan cara dikukus cenderung memiliki kalori yang lebih rendah dibandingkan makanan yang digoreng. Minimnya penggunaan minyak membuat kukusan lebih rendah lemak, sementara kandungan gizinya relatif lebih terjaga.
Umbi-umbian kukus merupakan sumber karbohidrat kompleks yang baik sekaligus mendukung diversifikasi pangan lokal. Sementara itu, kacang-kacangan kukus dapat menjadi sumber protein nabati, vitamin, dan mineral yang penting bagi tubuh.
Dalam Ukuran Rumah Tangga (URT), sumber karbohidrat umumnya mengandung sekitar 175 kalori, 4 gram protein, dan 40 gram karbohidrat. Kandungan ini setara dengan satu gelas nasi (sekitar 100 gram). Jika diterjemahkan ke dalam bentuk kukusan, nilai gizi tersebut bisa diperoleh dari dua buah kentang ukuran sedang (210 gram), satu setengah potong singkong (120 gram), setengah buah talas ukuran sedang (125 gram), atau satu buah ubi jalar kuning ukuran sedang (135 gram).
Data tersebut menunjukkan bahwa rasa kenyang tidak selalu harus bergantung pada nasi. Pilihan pangan lokal yang dikukus pun mampu memberikan energi yang setara.
Untuk buah, pisang kukus—yang sering menggunakan pisang kepok—dalam satu buahnya mengandung sekitar 50 kalori dan 10 gram karbohidrat. Sementara itu, kacang tanah kupas sebanyak dua sendok makan mengandung sekitar 80 kalori, 6 gram protein, 3 gram lemak, dan 8 gram karbohidrat.
Tren Lama yang Kembali Relevan
Di tengah beragam tren makanan yang silih berganti, kemunculan kembali makanan kukusan ke permukaan bisa dipandang sebagai sinyal positif. Dibandingkan makanan yang diolah dengan cara digoreng, kukusan menawarkan pilihan yang lebih ramah bagi kesehatan.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika berbagai masalah kesehatan—seperti obesitas, diabetes melitus, hipertensi, hingga kanker—kini tidak lagi mengenal usia. Pola makan yang lebih bijak menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.
Makanan kukusan mungkin bukan hal baru, tetapi justru di situlah kekuatannya. Sederhana, terjangkau, dan lebih bersahabat bagi tubuh. Tinggal bagaimana kita memadukannya dengan konsep gizi seimbang agar manfaatnya semakin optimal.
Lalu, apa makanan kukusan favoritmu hari ini?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Makanan Kukusan, Pemain Lama yang Sekarang Mulai Dilirik Kembali"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang