
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana rasanya berdiri di atas jejak lava yang pernah mengalir panas dari perut gunung, lalu menyadari bahwa seluruh kehidupan di sekitarnya tumbuh dari peristiwa alam yang dahsyat itu?
Di Ternate, ada sebuah tempat dengan nama yang terdengar sederhana, namun menyimpan daya tarik yang kuat: Batu Angus. Dari kejauhan, kawasan ini tampak seperti hamparan tanah gelap yang membentang luas.
Namun ketika berdiri tepat di hadapannya, saya merasa seolah sedang membuka halaman awal sebuah kisah panjang tentang gunung api, kobaran lava, dan perjalanan waktu.
Batu Angus terletak di Kelurahan Kulaba, tepat di kaki Gunung Gamalama. Kawasan ini merupakan lapisan batu vulkanik yang terbentuk dari aliran lava panas Gamalama pada masa lampau.
Warna hitam pekat mendominasi pemandangan, dengan bentuk batu yang tidak beraturan dan tersebar luas, seakan memperlihatkan jalur lava yang dahulu mengalir dengan kekuatan penuh.
Kunjungan saya ke Batu Angus bermula dari sebuah perjalanan dinas. Setelah menyelesaikan agenda pekerjaan bersama beberapa rekan, masih tersisa waktu sebelum kegiatan berikutnya dimulai.
Kesempatan itu kami manfaatkan untuk singgah sejenak, melihat langsung bentukan alam yang selama ini hanya saya kenal lewat cerita dan foto.
Akses menuju Batu Angus relatif mudah. Dari pusat kota Ternate, kami menyusuri jalan yang perlahan menanjak menuju kaki Gamalama.
Rumah-rumah penduduk berjajar rapi di sepanjang jalan, sementara udara terasa semakin sejuk seiring bertambahnya ketinggian.
Sesampainya di area parkir, hamparan Batu Angus langsung menyambut kami—padang batu hitam yang tampak seperti lautan yang membeku.
Saat mulai melangkah masuk ke kawasan ini, setiap pijakan terasa berbeda. Permukaan batu keras dan kasar, rapuh di beberapa bagian, dengan tekstur yang beragam. Ada batu yang tajam, ada pula yang halus dan mengilap.
Semuanya merupakan sisa aliran lava yang pernah mengalir dengan suhu ekstrem, melahap hutan dan tumbuhan di jalurnya, sebelum akhirnya membeku menjadi batu.
Nama “Batu Angus” terasa sangat tepat. Seluruh area tampak seperti tanah yang pernah dilalap api. Pohon besar hampir tidak dijumpai; hanya semak-semak kecil yang tumbuh bertahan di sela bebatuan.
Pemandangan ini membuat saya sejenak lupa bahwa hamparan sunyi tersebut lahir dari peristiwa alam yang pada masanya begitu menakutkan.
Seorang pemandu lokal kemudian menjelaskan bahwa kawasan ini merupakan peninggalan letusan Gunung Gamalama ratusan tahun silam.