
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana semestinya penerima beasiswa berkontribusi bagi Indonesia setelah menyelesaikan studi? Apakah dengan cara yang sama atau justru melalui jalan yang beragam sesuai bidang keahlian masing-masing?
Pertanyaan ini sering muncul ketika membicarakan beasiswa, terutama beasiswa yang memberikan kesempatan bagi putra-putri Indonesia untuk menempuh pendidikan di luar negeri.
Sedangkan di Indonesia sendiri, salah satu program yang cukup dikenal adalah beasiswa LPDP. Banyak orang melihat beasiswa bukan hanya sebagai kesempatan belajar, tetapi juga sebagai amanah untuk memberi kembali kepada masyarakat.
Izinkan saya berbagi sudut pandang mengenai bagaimana kontribusi itu dapat diwujudkan.
Saya pernah melamar lebih dari 20 beasiswa ke luar negeri. Dari pengalaman tersebut, saya belajar banyak tentang bagaimana menulis esai yang baik, terutama esai mengenai rencana kontribusi setelah studi selesai.
Hampir semua program beasiswa meminta pelamar menjelaskan secara rinci bagaimana mereka akan memberikan dampak bagi masyarakat atau negara setelah menempuh pendidikan.
Namun, pertanyaan yang menarik untuk direnungkan adalah: sejauh mana para penerima beasiswa benar-benar menjalankan kontribusi tersebut ketika kembali ke Indonesia?
Saya sendiri memiliki latar belakang sebagai pengajar bahasa Inggris. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan memperoleh beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk memperdalam kemampuan bahasa Inggris di salah satu universitas di sana.
Setelah program studi selesai, saya memutuskan untuk langsung kembali ke Indonesia. Saya kemudian mengajar di beberapa lembaga pendidikan dan juga di kampus.
Ilmu dan pengalaman yang saya peroleh selama belajar di Amerika saya coba terapkan dalam proses pembelajaran, baik melalui metode pengajaran maupun materi ajar yang saya gunakan.
Ada banyak teknik mengajar yang saya pelajari dari para pengajar di sana. Saya mencoba memodifikasinya agar sesuai dengan konteks pembelajaran di tempat saya mengajar.
Misalnya, dalam mata kuliah Cross Cultural Understanding, saya tidak hanya meminta mahasiswa mempelajari teori tentang budaya.
Saya mendorong mereka untuk turun langsung ke lapangan dan membuat video tentang kekhasan budaya lokal. Mahasiswa terlihat sangat antusias, dan melalui kegiatan tersebut mereka belajar lebih dalam mengenai budaya Aceh.
Dalam mata kuliah Grammar and Communication, saya memiliki kebiasaan memberikan tugas menulis jurnal berbahasa Inggris setiap minggu kepada mahasiswa. Tugas ini membuat saya harus memeriksa ratusan tulisan dan memperbaiki berbagai kesalahan tata bahasa.
Puluhan jam waktu saya habiskan untuk membaca dan memberikan umpan balik terhadap tulisan-tulisan tersebut. Di akhir semester, saya mengajak mahasiswa berdiskusi di sebuah warung kopi.
Selama lebih dari empat jam, saya membimbing mereka satu per satu untuk merefleksikan kesalahan yang pernah mereka buat serta hal-hal yang telah mereka pelajari selama menulis jurnal.
Hasilnya cukup menggembirakan. Mereka memahami grammar dengan cara yang lebih praktis dan reflektif, bukan sekadar menghafal teori di dalam kelas.
Lantas, apakah bentuk kontribusi harus selalu sama? Tentu tidak.
Saya juga pernah memperoleh beasiswa dari sebuah universitas di Taiwan. Berbeda dengan beberapa program beasiswa lainnya, program tersebut tidak mensyaratkan penerima beasiswa untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi. Artinya, saya memiliki kesempatan untuk tetap tinggal dan bekerja di sana jika menginginkannya.
Namun, saya memilih untuk kembali ke kampung halaman.
Meskipun dana studi saya tidak berasal dari pemerintah Indonesia, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berbagi ilmu yang telah saya dapatkan. Saya kembali mengajar di salah satu perguruan tinggi dan membimbing ratusan mahasiswa.
Ilmu yang saya pelajari di Taiwan saya gunakan secara langsung, terutama ketika membimbing mahasiswa dalam penulisan skripsi. Saya mengarahkan mereka untuk memahami metodologi penelitian dengan baik serta menulis karya ilmiah secara sistematis.
Mahasiswa saya ajak untuk belajar menganalisis jurnal akademik, mencari referensi yang relevan, serta mengolah data penelitian sesuai kebutuhan studi mereka.
Selain mengajar di kampus, saya juga memimpin sebuah lembaga bahasa Inggris. Di sana, saya merancang berbagai program pembelajaran serta menginisiasi kerja sama pelatihan bagi guru bahasa Inggris.
Pelatihan tersebut menghadirkan penutur asli dari Amerika Serikat sebagai pemateri. Mereka berkunjung ke berbagai sekolah untuk berbagi pengalaman dan teknik mengajar bahasa Inggris. Para guru mendapatkan banyak wawasan baru dari sesi pelatihan tersebut.
Bentuk kontribusi lain yang kami lakukan adalah membuka kelas TOEFL gratis bagi mahasiswa yang kurang mampu. Pada saat itu, saya mengajar langsung tanpa menerima bayaran.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya semakin yakin bahwa setiap penerima beasiswa dapat berkontribusi dengan cara yang berbeda.
Kontribusi tidak harus selalu terlihat besar atau spektakuler. Yang terpenting adalah melakukan sesuatu yang mungkin dilakukan, sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Seorang guru dapat berkontribusi melalui pendidikan. Dokter dapat menyelenggarakan pelatihan kesehatan bagi masyarakat. Arsitek dapat membantu merancang rumah yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Semua itu bisa dilakukan secara individu maupun kolektif.
Kontribusi juga tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Justru sering kali langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak yang berarti.
Bahkan ketika seseorang masih berada di luar negeri, kontribusi tetap dapat diberikan. Misalnya melalui penelitian yang berfokus pada isu-isu di Indonesia atau melalui gagasan yang dapat membantu memecahkan berbagai persoalan di tanah air.
Bagi para pelamar beasiswa LPDP, salah satu hal yang penting untuk diingat adalah menjaga komitmen terhadap esai kontribusi yang pernah dituliskan saat proses seleksi. Janji tersebut bukan sekadar syarat administrasi, melainkan refleksi dari niat untuk memberikan manfaat setelah menyelesaikan studi.
Ilmu yang diperoleh selama belajar sebaiknya tidak berhenti pada diri sendiri. Ia dapat dibagikan melalui berbagai cara, mulai dari kegiatan mengajar, menulis, hingga mengembangkan gagasan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sebagai pengajar bahasa Inggris, saya juga aktif menulis tentang strategi belajar bahasa asing. Kadang saya menuliskan refleksi pengalaman mengajar di kelas atau berbagi metode pembelajaran yang baru saya coba.
Mungkin bagi saya tulisan-tulisan tersebut terlihat sederhana. Namun saya berharap, setidaknya tulisan itu dapat membantu guru atau pembelajar lain yang ingin mengembangkan cara belajar dan mengajar bahasa Inggris.
Pada akhirnya, kontribusi tidak selalu berarti harus kembali dan tinggal di Indonesia. Yang paling penting adalah bagaimana seseorang tetap memberikan sumbangsih bagi negeri, baik melalui tenaga, pemikiran, gagasan, penelitian, maupun bentuk dukungan lainnya.
Kontribusi bisa lahir dari banyak jalan. Selama ada niat untuk memberi manfaat, sekecil apa pun langkah yang dilakukan tetap memiliki arti bagi kemajuan bersama.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Beasiswa dan Bagaimana Cara Berkontribusi sesuai Bidang Keahlian"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang