
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Hubungan pertemanan, misalnya, dapat menjadi sumber dukungan emosional yang tidak kalah hangat. Keterlibatan dalam komunitas atau organisasi juga memberikan rasa memiliki (sense of belonging) yang penting bagi kesejahteraan psikologis.
Dalam beberapa kasus, kedekatan dengan keluarga besar justru menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Ada yang merasakan peran sebagai “orang tua kedua” bagi keponakan, bahkan turut membiayai pendidikan mereka.
Relasi semacam ini menghadirkan makna yang tidak kalah dalam dibandingkan hubungan dalam rumah tangga.
Tanpa struktur kehidupan yang biasanya hadir dalam pernikahan, seseorang memiliki ruang yang lebih luas untuk merancang tujuan hidupnya sendiri. Ibarat kanvas kosong, setiap individu bebas menentukan arah dan warna kehidupan yang ingin dijalani.
Meski demikian, tantangan terbesar dari pilihan ini sering kali bukan berasal dari dalam diri, melainkan dari lingkungan sekitar. Pertanyaan seperti “kapan menikah?” atau candaan seputar status lajang masih kerap muncul dalam berbagai kesempatan.
Seorang rekan yang kini memasuki usia menjelang 50 tahun, misalnya, memiliki cara tersendiri dalam menyikapi hal tersebut.
Nah, dengan penuh percaya diri, ia menjelaskan bahwa pilihannya didasarkan pada pertimbangan yang matang. Ia juga secara perlahan mengedukasi lingkungan sekitarnya agar memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.
Alih-alih terpengaruh, ia justru membangun lingkaran pertemanan yang suportif—orang-orang yang menghargai pilihannya tanpa menghakimi. Dalam berbagai acara, termasuk pernikahan, ia tetap hadir dengan sikap santai dan penuh penghargaan.
Di sisi lain, kemandirian finansial dan kesiapan menghadapi masa depan menjadi aspek penting dalam pilihan hidup ini. Tanpa pasangan, seseorang perlu merencanakan masa tua secara lebih mandiri, mulai dari tabungan pensiun, asuransi kesehatan, hingga kepemilikan tempat tinggal.
Saya juga melihat hal ini pada seorang rekan guru yang memilih tetap melajang. Ia menjalani hidup dengan terencana: menabung secara konsisten, menjaga kesehatan, serta memastikan memiliki hunian yang nyaman. Ia juga menikmati perjalanan sendiri sebagai bentuk apresiasi terhadap hidup yang dijalaninya.
Menikah atau tidak menikah adalah pilihan yang sama-sama valid. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh status sipil, melainkan oleh kedamaian hati, rasa syukur, dan kemampuan seseorang dalam menjalani hidup yang selaras dengan dirinya.
Menjadi lajang bukanlah kekurangan. Bagi sebagian orang, itu justru merupakan bentuk kebebasan untuk merancang kehidupan yang paling autentik—sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kebahagiaan yang mereka yakini.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Defenisi Bahagia Tanpa Menikah"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang