Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Anditya Wiganingrum
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Anditya Wiganingrum adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri

Kompas.com, 17 Mei 2026, 11:28 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana jika di sebuah wilayah pedalaman seperti Wonogiri, sejarah akulturasi Tionghoa dan Jawa justru hadir lewat ladang kering, pasar tradisional, hingga kisah-kisah sederhana tentang kepercayaan dan kehidupan sehari-hari?

Inilah yang terjadi pada jejak Pecinan di Indonesia tidak selalu tumbuh di kota-kota pelabuhan besar.

Ketika berbicara tentang kawasan Pecinan di Indonesia, pikiran kita sering kali langsung tertuju pada kota-kota pesisir utara Jawa seperti Semarang, Lasem, atau Jakarta. Kawasan-kawasan tersebut tumbuh bersama sejarah perdagangan besar, pelabuhan kolonial, dan arus migrasi lintas bangsa yang begitu dinamis.

Namun, jika kita menepi jauh ke pedalaman Jawa Tengah, membelah kawasan Pegunungan Seribu yang kering dan berbatu, kita akan menemukan jejak sejarah yang hadir dengan cara berbeda.

Salah satunya dapat ditemukan di Wonogiri, sebuah wilayah yang menyimpan fragmen akulturasi Tionghoa dan Jawa dengan nuansa yang lebih sunyi, tetapi terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Di wilayah yang dikelilingi perbukitan kapur ini, keberadaan masyarakat Tionghoa tidak tumbuh sebagai kawasan pelabuhan yang terbuka terhadap dunia luar, melainkan menyatu perlahan dengan lanskap pedalaman.

Bagi para imigran Cina Totok pada awal abad ke-20, Wonogiri tampaknya bukan sekadar tempat singgah.

Ada semacam kedekatan emosional yang lahir dari bentang alamnya. Ladang-ladang kering, bebatuan karang, serta kontur perbukitan yang keras rupanya mengingatkan mereka pada kampung halaman di daratan Tiongkok.

Di sela-sela batu dan pategalan itulah, masyarakat Tionghoa tidak hanya membangun usaha dagang di sekitar Pasar Kota, tetapi juga menanam rasa rindu pada tanah leluhur yang jauh.

Wonogiri pun berkembang dengan karakter Pecinan yang berbeda. Di sini, kita tidak menemukan bangunan kolonial megah atau deretan arsitektur barok yang mencolok. Yang hadir justru deretan rumah-toko sederhana dengan atap melengkung khas Tionghoa yang berdiri di tengah permukiman masyarakat lokal.

Sejarah di kawasan ini tidak hadir lewat monumen besar, melainkan melalui denyut kehidupan pasar, aroma Kimlo yang mengepul dari pikulan pedagang, hingga perjumpaan budaya yang berlangsung secara alami dalam keseharian masyarakat.

Replikasi Alam yang Mengobati Rindu

Bagi para imigran seperti keluarga Oei Wang Mien, perjalanan menuju Nusantara bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga perjalanan emosional yang panjang. Mereka meninggalkan tanah kelahiran sekaligus identitas yang selama ini melekat dalam hidup mereka.

Namun, ketika tiba di wilayah Wonogiri yang kala itu berada dalam kekuasaan Mangkunegaran, mereka menemukan sesuatu yang terasa akrab: lanskap yang menyerupai kampung halaman.

Wonogiri dikenal sebagai “Kota Gaplek”, wilayah dengan tanah keras dan ladang kering yang luas. Akan tetapi, di mata para perantau yang dilanda kerinduan pada rumah, bebatuan dan perbukitan kapur itu justru menghadirkan rasa kedekatan.

Mereka mungkin tidak menemukan kemewahan, tetapi menemukan kemiripan.

Lanskap Wonogiri menjadi semacam penghibur rindu. Tanah yang keras tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan ruang baru yang memungkinkan mereka bertahan hidup sambil tetap merasa dekat dengan memori masa lalu.

Komunitas Tionghoa di Wonogiri pun menunjukkan kemampuan adaptasi yang menarik. Mereka tidak berusaha mengubah lanskap agar sesuai dengan kebiasaan asalnya. Sebaliknya, mereka menerima dan hidup berdampingan dengan alam yang ada.

Setiap ladang yang diolah, setiap batu yang dilewati, perlahan menjadi jembatan emosional antara masa lalu di Tiongkok dan kehidupan baru di tanah Jawa.

Melalui sudut pandang seperti yang pernah disampaikan sejarawan lokal Mas Heri Priyatmoko dari Komunitas Solo Societeit, keberadaan masyarakat Tionghoa di Wonogiri menunjukkan bahwa manusia selalu mencari rasa “rumah”, di mana pun mereka berada.

Dan bagi sebagian perantau itu, Wonogiri akhirnya menjadi rumah yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Anatomi Pecinan Wonogiri

Pada awal abad ke-20, kawasan Pasar Kota Wonogiri tumbuh sebagai pusat perdagangan yang hidup. Di kawasan inilah Pecinan Wonogiri berkembang, membentuk ruang ekonomi sekaligus ruang budaya.

Bangunan-bangunan di kawasan tersebut umumnya berupa rumah toko atau shophouse dengan karakter khas Tionghoa. Namun menariknya, arsitektur itu telah beradaptasi dengan kondisi iklim Wonogiri yang panas dan kering.

Plafon bangunan dibuat tinggi agar sirkulasi udara tetap lancar. Jendela-jendela kayu besar dibuka lebar setiap pagi untuk mengurangi hawa panas.

Lantai bawah digunakan sebagai ruang usaha dan perdagangan, sementara bagian atas menjadi ruang tinggal keluarga sekaligus tempat menjaga tradisi leluhur.

Di tengah dominasi rumah-rumah warga lokal, bangunan Pecinan tampil dengan identitas yang khas. Atap melengkung menyerupai kipas atau ekor walet menjadi penanda budaya yang tetap dijaga meskipun jauh dari tanah asal.

Tata ruang kawasan ini juga memperlihatkan efisiensi yang menarik. Rumah-rumah dibangun rapat dan langsung menghadap jalan, menciptakan hubungan dekat antara aktivitas perdagangan dan ruang publik.

Gang-gang sempit yang saling terhubung menjadi jalur distribusi barang sekaligus ruang interaksi sosial masyarakat.

Di balik kepadatan tersebut, tersimpan filosofi keseimbangan yang kuat. Aktivitas ekonomi yang sibuk berjalan berdampingan dengan kehidupan spiritual dan keluarga yang dijaga dalam ruang-ruang privat di bagian dalam rumah.

Karena itu, Pecinan Wonogiri bukan sekadar kawasan perdagangan. Ia juga merupakan benteng budaya yang memperlihatkan bagaimana identitas Tionghoa dan kehidupan Jawa bertemu secara alami dalam keseharian.

Akulturasi yang Tumbuh dari Kehidupan Sehari-hari

Kisah keluarga Oei Wang Mien menjadi salah satu potret menarik dari perjalanan masyarakat Tionghoa di Wonogiri.

Mereka tidak sekadar tinggal sementara, tetapi benar-benar membangun kehidupan di sana. Anak-anak lahir dan tumbuh di tengah suasana Wonogiri, ditemani aroma Kimlo yang dijajakan sang ayah dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, seiring waktu, keluarga ini melihat peluang yang lebih besar di Solo, tepatnya di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro yang sejak lama menjadi pusat perdagangan lintas etnis.

Di kota itu, Oei Wang Mien mulai menjual Kimlo dengan cara sederhana namun penuh ketekunan. Ia memikul dagangannya setiap hari, berjalan dari sekolah ke sekolah hingga kawasan Warung Pelem.

Dari perjalanan itulah kemudian lahir nama “Mien Satu”, yang hingga kini masih dikenal dalam sejarah kuliner Solo.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa akulturasi tidak selalu lahir dari peristiwa besar atau kebijakan resmi. Kadang, ia tumbuh dari makanan, perdagangan, dan interaksi sehari-hari yang berlangsung perlahan.

Seporsi Kimlo yang dinikmati masyarakat hari ini sejatinya menyimpan perjalanan panjang tentang migrasi, kerinduan, dan kemampuan beradaptasi.

Gema yang Masih Tersisa di Sudut Pasar

Ketika kembali menyusuri kawasan Pasar Kota Wonogiri hari ini, ada suasana yang berbeda dibanding masa lalu.

Pada dekade 1990-an, kawasan tersebut masih dipenuhi pertokoan milik etnis Tionghoa. Pintu-pintu kayu besar dan rolling door besi yang dibuka setiap pagi menjadi bagian dari denyut ekonomi kota kecil itu.

Kini, banyak bangunan telah berganti fungsi dan kepemilikan. Spanduk modern menggantikan papan nama lama. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, jejak Pecinan itu sebenarnya belum sepenuhnya hilang.

Atap-atap melengkung, jendela kayu tinggi, hingga detail ornamen lama masih bertahan di beberapa sudut bangunan tua.

Di balik semua itu, tersimpan pula kenangan-kenangan personal yang sederhana namun membekas.

Salah satunya tentang sebuah toko mainan bernama Toko Sanur. Di masa ketika ATM belum mudah ditemukan dan transaksi masih mengandalkan uang tunai, hubungan antara pedagang dan pelanggan dibangun lewat kepercayaan.

Pemilik toko yang akrab dipanggil “Cik” pernah mengizinkan seorang nenek membawa pulang mainan untuk cucunya terlebih dahulu, dengan janji pembayaran dilakukan keesokan harinya saat kembali ke pasar.

“Gowonen sik wae, bayare sesuk pas ning pasar meneh.”

Kalimat sederhana itu menjadi gambaran tentang hubungan sosial yang hangat antara masyarakat lokal dan komunitas Tionghoa di Wonogiri.

Tidak ada sekat yang kaku. Yang ada justru rasa saling percaya dan penghargaan satu sama lain.

Mungkin toko itu kini sudah berubah, atau sang pemilik sudah lama tiada. Namun, kenangan tentang kebaikan tersebut tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Bukan hanya tentang bangunan tua, perdagangan, atau jejak migrasi, tetapi tentang bagaimana manusia dari latar belakang berbeda pernah hidup berdampingan, berbagi ruang, dan saling memberi tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Wonogiri mungkin terus berubah. Namun, jejak sejarah yang tertanam di sela batu karang, gang sempit, dan toko-toko tua itu tampaknya akan selalu menemukan caranya sendiri untuk tetap dikenang.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menelusuri Fragmen Akulturasi Pecinan di Kota Gaplek Abad XX"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau