
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana jika di sebuah wilayah pedalaman seperti Wonogiri, sejarah akulturasi Tionghoa dan Jawa justru hadir lewat ladang kering, pasar tradisional, hingga kisah-kisah sederhana tentang kepercayaan dan kehidupan sehari-hari?
Inilah yang terjadi pada jejak Pecinan di Indonesia tidak selalu tumbuh di kota-kota pelabuhan besar.
Ketika berbicara tentang kawasan Pecinan di Indonesia, pikiran kita sering kali langsung tertuju pada kota-kota pesisir utara Jawa seperti Semarang, Lasem, atau Jakarta. Kawasan-kawasan tersebut tumbuh bersama sejarah perdagangan besar, pelabuhan kolonial, dan arus migrasi lintas bangsa yang begitu dinamis.
Namun, jika kita menepi jauh ke pedalaman Jawa Tengah, membelah kawasan Pegunungan Seribu yang kering dan berbatu, kita akan menemukan jejak sejarah yang hadir dengan cara berbeda.
Salah satunya dapat ditemukan di Wonogiri, sebuah wilayah yang menyimpan fragmen akulturasi Tionghoa dan Jawa dengan nuansa yang lebih sunyi, tetapi terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Di wilayah yang dikelilingi perbukitan kapur ini, keberadaan masyarakat Tionghoa tidak tumbuh sebagai kawasan pelabuhan yang terbuka terhadap dunia luar, melainkan menyatu perlahan dengan lanskap pedalaman.
Bagi para imigran Cina Totok pada awal abad ke-20, Wonogiri tampaknya bukan sekadar tempat singgah.
Ada semacam kedekatan emosional yang lahir dari bentang alamnya. Ladang-ladang kering, bebatuan karang, serta kontur perbukitan yang keras rupanya mengingatkan mereka pada kampung halaman di daratan Tiongkok.
Di sela-sela batu dan pategalan itulah, masyarakat Tionghoa tidak hanya membangun usaha dagang di sekitar Pasar Kota, tetapi juga menanam rasa rindu pada tanah leluhur yang jauh.
Wonogiri pun berkembang dengan karakter Pecinan yang berbeda. Di sini, kita tidak menemukan bangunan kolonial megah atau deretan arsitektur barok yang mencolok. Yang hadir justru deretan rumah-toko sederhana dengan atap melengkung khas Tionghoa yang berdiri di tengah permukiman masyarakat lokal.
Sejarah di kawasan ini tidak hadir lewat monumen besar, melainkan melalui denyut kehidupan pasar, aroma Kimlo yang mengepul dari pikulan pedagang, hingga perjumpaan budaya yang berlangsung secara alami dalam keseharian masyarakat.
Replikasi Alam yang Mengobati Rindu
Bagi para imigran seperti keluarga Oei Wang Mien, perjalanan menuju Nusantara bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga perjalanan emosional yang panjang. Mereka meninggalkan tanah kelahiran sekaligus identitas yang selama ini melekat dalam hidup mereka.
Namun, ketika tiba di wilayah Wonogiri yang kala itu berada dalam kekuasaan Mangkunegaran, mereka menemukan sesuatu yang terasa akrab: lanskap yang menyerupai kampung halaman.
Wonogiri dikenal sebagai “Kota Gaplek”, wilayah dengan tanah keras dan ladang kering yang luas. Akan tetapi, di mata para perantau yang dilanda kerinduan pada rumah, bebatuan dan perbukitan kapur itu justru menghadirkan rasa kedekatan.
Mereka mungkin tidak menemukan kemewahan, tetapi menemukan kemiripan.
Lanskap Wonogiri menjadi semacam penghibur rindu. Tanah yang keras tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan ruang baru yang memungkinkan mereka bertahan hidup sambil tetap merasa dekat dengan memori masa lalu.
Komunitas Tionghoa di Wonogiri pun menunjukkan kemampuan adaptasi yang menarik. Mereka tidak berusaha mengubah lanskap agar sesuai dengan kebiasaan asalnya. Sebaliknya, mereka menerima dan hidup berdampingan dengan alam yang ada.
Setiap ladang yang diolah, setiap batu yang dilewati, perlahan menjadi jembatan emosional antara masa lalu di Tiongkok dan kehidupan baru di tanah Jawa.