Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Totok Siswantara
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Totok Siswantara adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah

Kompas.com, 20 Juli 2026, 21:17 WIB

Seperti apa lingkungan sekolah yang ideal bagi anak? Apakah cukup menghadirkan ruang kelas yang nyaman dan aturan yang tertib, atau justru perlu menjadi tempat yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kegemaran berkarya sejak hari pertama mereka belajar?

Memasuki tahun ajaran baru, ribuan sekolah di berbagai daerah kembali menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Para kepala sekolah dan guru memperkenalkan diri kepada peserta didik baru, mengenalkan fasilitas sekolah, memaparkan berbagai prestasi yang pernah diraih, sekaligus menjelaskan tata tertib yang akan menjadi pedoman selama mereka belajar.

Semua itu merupakan bagian penting dari proses adaptasi.

Namun, bagi anak-anak—terutama mereka yang baru memasuki jenjang taman kanak-kanak atau sekolah dasar, lingkungan sekolah sering kali dimaknai dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa.

Bagi mereka, sekolah bukan sekadar ruang belajar. Sekolah adalah tempat baru yang penuh rasa penasaran, tempat menemukan teman, bermain, mencoba berbagai hal, dan membangun pengalaman pertama yang akan terus mereka kenang.

Karena itu, lingkungan sekolah idealnya tidak hanya dipenuhi aturan dan rutinitas seperti apel pagi atau upacara. Ia juga perlu menjadi ruang yang mampu merangsang imajinasi serta memberi kesempatan anak untuk berkreasi.

Lingkungan Sekolah dan Ruang Bermain

Bagi banyak orang tua, aktivitas mengantar anak ke sekolah sudah menjadi rutinitas sehari-hari.

Saat mengantar, perhatian mereka sering tertuju pada suasana di sekitar gerbang sekolah. Dahulu, kawasan ini hampir selalu diramaikan pedagang kaki lima yang menjual aneka jajanan dan mainan sederhana.

Keberadaan para pedagang tersebut secara tidak langsung ikut membentuk pengalaman masa kecil banyak orang.

Kini situasinya mulai berubah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, sedikit banyak mengubah pola penggunaan uang saku anak.

Jika sebelumnya sebagian besar uang jajan digunakan membeli makanan ringan, kini muncul peluang agar uang tersebut lebih diarahkan untuk kebutuhan lain yang memiliki nilai edukatif, termasuk membeli mainan yang dapat merangsang kreativitas.

Uang jajan sejatinya memang memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia mengajarkan anak mengelola keuangan dan menentukan prioritas. Di sisi lain, ia juga dapat menjadi sarana mengenalkan pilihan-pilihan yang mendorong proses belajar melalui permainan.

Ketika Mainan Menjadi Sarana Berkarya

Banyak dari kita mungkin masih mengingat masa kecil ketika halaman sekolah dipenuhi penjual mainan tradisional.

Mainan-mainan tersebut umumnya dibuat dari bahan sederhana seperti kayu, bambu, atau limbah pertanian. Meski tampilannya jauh dari kata modern, justru di situlah letak daya tariknya.

Salah satunya adalah mainan yang dibuat dari glonggong atau glagah, yakni batang bunga tanaman tebu yang ringan dan mudah dibentuk.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau