Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Perjalanan karier kemudian memperlihatkan bahwa jawabannya tidak harus salah satu.
Saya menjalani berbagai peran sekaligus sebagai penulis, penyunting, jurnalis, dan pernah menjadi guru Bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta di Bandung. Di bidang pendidikan tinggi, saya juga pernah menjadi dosen luar biasa pada tiga perguruan tinggi negeri vokasi dengan mata kuliah yang berhubungan dengan dunia penerbitan.
Ketertarikan terhadap sastra anak yang telah saya tekuni sejak 1995 pun berkembang menjadi profesi yang lebih luas. Selain menulis dan menyunting buku anak, saya juga menjadi penyusun regulasi, kurator buku anak, hingga mendirikan usaha book packager.
Tanpa disadari, seluruh perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi Sasindo dapat berkembang menjadi bentuk kewirausahaan berbasis literasi.
Saya meyakini pengalaman tersebut tidak lepas dari fondasi pendidikan vokasi D-3 Editing yang saya tempuh sebelum melanjutkan ke Program Ekstensi S-1 Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan industri memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai peluang karier di dunia penerbitan.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa Prodi Sasindo memiliki peluang besar untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja di sektor literasi.
Wirausaha Literasi sebagai Bidang Kajian
Gagasan mengenai kewirausahaan literasi mulai memperoleh ruang akademik yang lebih jelas. Salah satunya terlihat pada Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) yang menawarkan empat bidang kajian, yakni:
Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Bahasa Indonesia;
Kehadiran bidang kajian terakhir merupakan langkah menarik karena memperluas orientasi pendidikan bahasa dan sastra, tidak hanya pada pengajaran, tetapi juga pada pengembangan industri kreatif berbasis literasi.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, praktik kewirausahaan literasi sebenarnya telah hadir sejak berabad-abad lalu.
Di Eropa, Johannes Gutenberg membuka jalan melalui pengembangan mesin cetak pada abad ke-15. Tidak lama kemudian, Aldus Manutius mendirikan Aldine Press di Italia yang memadukan teknologi percetakan, penerbitan, dan standardisasi mutu buku. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan buku berukuran saku serta penggunaan huruf italik.
Warisan Manutius bahkan masih dikenang melalui perangkat lunak Aldus PageMaker, yang kemudian berkembang menjadi Adobe InDesign.
Di Nusantara, sejarah kewirausahaan literasi berkembang melalui usaha percetakan dan penerbitan yang dikelola pemerintah Hindia Belanda, swasta Belanda, Tionghoa peranakan, hingga penerbit bumiputra.
Dalam sejarah pers nasional, nama Tirto Adhi Soerjo menempati posisi penting sebagai pelopor pers vernakular yang dikelola sepenuhnya oleh pribumi. Di bidang penerbitan buku, tokoh seperti Sutan Takdir Alisjahbana melalui Dian Rakyat serta Ajip Rosidi melalui Pustaka Jaya memperlihatkan bahwa sastrawan pun dapat menjadi pelaku industri penerbitan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya