Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Dengan demikian, kewirausahaan literasi bukanlah gagasan baru. Yang berubah adalah bentuk dan ekosistemnya.
Memaknai Kewirausahaan Literasi
Ulya (2023) mendefinisikan kewirausahaan literasi sebagai cabang kewirausahaan yang mengembangkan produk dan layanan berbasis bahasa serta sastra untuk memperkuat budaya literasi masyarakat.
Sementara itu, Suwandi (2019) melihatnya sebagai kegiatan kewirausahaan yang meliputi penerbitan buku, pembuatan konten pendidikan, pengembangan platform digital, hingga berbagai layanan yang berkaitan dengan bahasa dan sastra.
Dalam konteks saat ini, kewirausahaan literasi dapat dipahami sebagai proses menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial melalui pemanfaatan kompetensi literasi untuk menghasilkan produk, jasa, maupun platform digital yang berdampak bagi masyarakat.
Berdasarkan perkembangan industri kreatif, sedikitnya terdapat enam bidang utama kewirausahaan literasi yang dapat dikembangkan oleh lulusan Sasindo, yaitu:
Khusus pada era digital, ruang kewirausahaan semakin luas. Kehadiran platform seperti Wattpad, Storial, blog pribadi, hingga platform jurnalisme warga seperti Kompasiana dan Indonesiana menunjukkan bahwa literasi kini tidak lagi terbatas pada penerbitan konvensional.
Ekosistem digital membuka peluang baru bagi penulis, editor, penerjemah, maupun pelaku industri kreatif untuk membangun bisnis berbasis pengetahuan.
Dalam praktiknya, wirausahawan literasi dapat hadir sebagai karyawan profesional (employee), pekerja lepas (self-employed), maupun pemilik usaha (business owner). Ketiganya memiliki peluang berkembang sesuai kompetensi dan pilihan karier masing-masing.
Relevansi Kurikulum Sasindo
Peluang tersebut tentu memerlukan dukungan kurikulum yang relevan. Kompetensi lulusan Sasindo idealnya dibangun di atas lima pilar utama, yaitu:
Mata kuliah kepenulisan, penyuntingan, dan penerjemahan sudah cukup banyak diajarkan di berbagai perguruan tinggi.
Namun, mata kuliah kewirausahaan sebaiknya tidak lagi hanya membahas teori bisnis secara umum, melainkan diarahkan secara spesifik pada manajemen industri kreatif berbasis literasi.
Kehadiran dosen praktisi yang memiliki pengalaman membangun usaha di bidang literasi juga menjadi penting agar mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai dunia industri.
Selain itu, mata kuliah Industri Literasi Digital layak dipertimbangkan sebagai bagian dari kurikulum. Mata kuliah ini dapat membahas perkembangan penerbitan digital, platform berbasis literasi, monetisasi konten, pemanfaatan media sosial, hingga penggunaan kecerdasan artifisial (AI) sebagai alat akselerasi dalam industri kreatif.
Pada akhirnya, kewirausahaan literasi tidak cukup berhenti sebagai slogan yang menjanjikan peluang kerja baru bagi lulusan Sasindo. Gagasan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kurikulum, kompetensi, dan pengalaman belajar yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.
Dengan bekal tersebut, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia tidak hanya akan melahirkan guru, penulis, atau penyunting, tetapi juga generasi baru wirausahawan literasi yang mampu menciptakan inovasi, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat ekosistem literasi Indonesia di masa depan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ikhtiar Melahirkan Wirausahawan Literasi dari Lulusan Sasindo"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya