Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Herry Mardianto
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Herry Mardianto adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 15:57 WIB

Di tengah perubahan tersebut, mereka yang sebelumnya sempat menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kota hingga kecamatan di pedesaan mulai kehilangan ruang. Mereka tidak selalu kalah dalam hal keterampilan. Namun, mereka berhadapan dengan perubahan ekspektasi pelanggan terhadap tempat, fasilitas, kenyamanan, dan layanan.

Tukang cukur tradisional akhirnya semakin sering ditemukan di ruang-ruang yang lebih sederhana, seolah berjalan menuju garis sunyi. Padahal, masa kejayaan mereka dahulu justru lahir dari kesederhanaan.

Tempat bekerja tidak membutuhkan persyaratan khusus. Beranda rumah di tepi jalan bisa menjadi tempat mencukur. Lapak kecil di bawah pohon yang teduh pun cukup. Bahkan, ada yang hanya bermodalkan kursi kayu, cermin yang digantung pada batang pohon di kawasan alun-alun, serta sebuah kotak berisi peralatan cukur.

Ada pula tukang cukur keliling. Mereka berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya dengan membawa kotak kayu berisi gunting, sisir, pisau cukur, handuk, dan semprotan air. Kehadiran mereka menjadi penting, terutama di desa atau kawasan yang belum memiliki tempat cukur permanen.

Profesi itu sederhana, tetapi kedekatannya dengan masyarakat begitu nyata.

Udin dan Pakde Sis

Sosok Aminuddin, atau Udin, merupakan salah satu contoh tukang cukur tradisional yang masih bertahan. Ia setia menjalani profesinya di Alun-alun Utara Yogyakarta.

Dalam wawancara dengan detik.com pada 18 Agustus 2025, Udin mengaku sudah mangkal sejak 2002. Ia biasanya bekerja dari pukul 08.00 hingga 17.00.

Ketika hujan datang tiba-tiba, tubuh sedang sakit, atau kondisi mengharuskannya berhenti bekerja, ia pun buru-buru menutup lapaknya. Tentu saja, zaman tetap harus diikuti. Udin kini sudah menggunakan hair clipper untuk membantu pekerjaannya.

Di Desa Jamblangan, Seyegan, Sleman, tepatnya di sebuah jalan kecil menuju pemakaman umum di sebelah barat SMKN 1 Seyegan, ada pula seorang tukang cukur tradisional yang menempati kios kecil di sisi utara jalan.

Sebut saja namanya Pakde Sis. Sesekali terlihat seorang bapak sedang dicukur di sana. Menariknya, setelah rambut selesai dipotong, pelanggan tidak selalu langsung pulang.

Mereka masih duduk sebentar, ngobrol, bercerita, hingga menuggu pelanggan berikutnya datang.

Percakapan bisa bergerak ke mana-mana. Dari kabar keluarga, pekerjaan, harga kebutuhan sehari-hari, hingga persoalan sosial yang sedang terjadi di desa.

Pada titik ini tukang cukur tradisional memiliki peran yang mungkin tidak tercatat dalam daftar layanan sebuah tempat cukur, bukan sekadar penyedia jasa sampai bagian dari ruang perjumpaan masyarakat.

Pakde Sis bekerja sendiri dengan peralatan sederhana, seperti gunting, pisau cukur manual, dan cermin kecil. Pelanggannya rata-rata berusia di atas 30 tahun.

Hubungan antara tukang cukur dan pelanggan pun tidak semata-mata profesional. Ada kedekatan yang tumbuh dari pertemuan berulang, cerita yang disampaikan sambil rambut dipotong.

Ada pula obrolan ngalor-ngidul yang mungkin tidak pernah terjadi jika seseorang hanya datang, duduk, dicukur, membayar, lalu pergi.

Ketika Tukang Cukur Madura Datang

Namun, keberadaan tukang cukur tradisional di pedesaan juga menghadapi perubahan berikutnya.

Sekitar awal 2000an, tukang potong rambut Madura mulai banyak dijumpai. Mereka membuka kios-kios kecil di pinggir jalan dengan peralatan yang relatif lebih modern.

Hair clipper listrik membantu mempercepat proses pemotongan rambut sekaligus membuat berbagai model rambut lebih mudah dikerjakan.

Kios-kios tersebut umumnya dilengkapi cermin besar, kipas angin, dan penerangan yang memadai. Harganya pun relatif terjangkau sehingga mampu bersaing dengan tukang cukur tradisional.

Pertumbuhannya terasa cepat, seperti cendawan di musim hujan, tetapi perubahan belum berhenti sampai di sana.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Kata Netizen
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Kata Netizen
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Kata Netizen
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Kata Netizen
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Kata Netizen
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Kata Netizen
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Kata Netizen
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau