
Di tengah perubahan tersebut, mereka yang sebelumnya sempat menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kota hingga kecamatan di pedesaan mulai kehilangan ruang. Mereka tidak selalu kalah dalam hal keterampilan. Namun, mereka berhadapan dengan perubahan ekspektasi pelanggan terhadap tempat, fasilitas, kenyamanan, dan layanan.
Tukang cukur tradisional akhirnya semakin sering ditemukan di ruang-ruang yang lebih sederhana, seolah berjalan menuju garis sunyi. Padahal, masa kejayaan mereka dahulu justru lahir dari kesederhanaan.
Tempat bekerja tidak membutuhkan persyaratan khusus. Beranda rumah di tepi jalan bisa menjadi tempat mencukur. Lapak kecil di bawah pohon yang teduh pun cukup. Bahkan, ada yang hanya bermodalkan kursi kayu, cermin yang digantung pada batang pohon di kawasan alun-alun, serta sebuah kotak berisi peralatan cukur.
Ada pula tukang cukur keliling. Mereka berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya dengan membawa kotak kayu berisi gunting, sisir, pisau cukur, handuk, dan semprotan air. Kehadiran mereka menjadi penting, terutama di desa atau kawasan yang belum memiliki tempat cukur permanen.
Profesi itu sederhana, tetapi kedekatannya dengan masyarakat begitu nyata.
Udin dan Pakde Sis
Sosok Aminuddin, atau Udin, merupakan salah satu contoh tukang cukur tradisional yang masih bertahan. Ia setia menjalani profesinya di Alun-alun Utara Yogyakarta.
Dalam wawancara dengan detik.com pada 18 Agustus 2025, Udin mengaku sudah mangkal sejak 2002. Ia biasanya bekerja dari pukul 08.00 hingga 17.00.
Ketika hujan datang tiba-tiba, tubuh sedang sakit, atau kondisi mengharuskannya berhenti bekerja, ia pun buru-buru menutup lapaknya. Tentu saja, zaman tetap harus diikuti. Udin kini sudah menggunakan hair clipper untuk membantu pekerjaannya.
Di Desa Jamblangan, Seyegan, Sleman, tepatnya di sebuah jalan kecil menuju pemakaman umum di sebelah barat SMKN 1 Seyegan, ada pula seorang tukang cukur tradisional yang menempati kios kecil di sisi utara jalan.
Sebut saja namanya Pakde Sis. Sesekali terlihat seorang bapak sedang dicukur di sana. Menariknya, setelah rambut selesai dipotong, pelanggan tidak selalu langsung pulang.
Mereka masih duduk sebentar, ngobrol, bercerita, hingga menuggu pelanggan berikutnya datang.
Percakapan bisa bergerak ke mana-mana. Dari kabar keluarga, pekerjaan, harga kebutuhan sehari-hari, hingga persoalan sosial yang sedang terjadi di desa.
Pada titik ini tukang cukur tradisional memiliki peran yang mungkin tidak tercatat dalam daftar layanan sebuah tempat cukur, bukan sekadar penyedia jasa sampai bagian dari ruang perjumpaan masyarakat.
Pakde Sis bekerja sendiri dengan peralatan sederhana, seperti gunting, pisau cukur manual, dan cermin kecil. Pelanggannya rata-rata berusia di atas 30 tahun.
Hubungan antara tukang cukur dan pelanggan pun tidak semata-mata profesional. Ada kedekatan yang tumbuh dari pertemuan berulang, cerita yang disampaikan sambil rambut dipotong.
Ada pula obrolan ngalor-ngidul yang mungkin tidak pernah terjadi jika seseorang hanya datang, duduk, dicukur, membayar, lalu pergi.
Ketika Tukang Cukur Madura Datang
Namun, keberadaan tukang cukur tradisional di pedesaan juga menghadapi perubahan berikutnya.
Sekitar awal 2000an, tukang potong rambut Madura mulai banyak dijumpai. Mereka membuka kios-kios kecil di pinggir jalan dengan peralatan yang relatif lebih modern.
Hair clipper listrik membantu mempercepat proses pemotongan rambut sekaligus membuat berbagai model rambut lebih mudah dikerjakan.
Kios-kios tersebut umumnya dilengkapi cermin besar, kipas angin, dan penerangan yang memadai. Harganya pun relatif terjangkau sehingga mampu bersaing dengan tukang cukur tradisional.
Pertumbuhannya terasa cepat, seperti cendawan di musim hujan, tetapi perubahan belum berhenti sampai di sana.