Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Herry Mardianto
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Herry Mardianto adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 15:57 WIB

Sekitar tiga tahun kemudian, barbershop mulai bermunculan di berbagai sudut Kota Yogyakarta.

Kali ini, yang ditawarkan bukan sekadar potongan rambut. Ada ruangan berpendingin udara, interior yang menarik, tenaga muda yang berpengalaman, free Wi-Fi, hingga sistem pembayaran menggunakan QRIS dan aplikasi pembayaran lainnya.

Peralatannya pun semakin beragam. Ada hair clipper cordless, trimmer detail, foil shaver, hingga straight razor.

Model rambut yang dapat dibuat pun semakin beragam: undercut, low fade, buzz cut, mohawk, pompadour, french crop, mullet, taper, dan berbagai gaya lainnya. Bahkan pengalaman mencukur pun dibuat semakin lengkap.

Ada shaving brush dan shaving cream untuk menghasilkan busa tebal agar proses mencukur terasa lebih nyaman. Ada hot towel untuk membantu membuka pori-pori sebelum mencukur. Ada pula pomade, clay, atau wax untuk menata rambut setelah selesai.

Jika sedang ramai, nomor antrean digital membantu mengatur giliran pelanggan. Semua itu menunjukkan bahwa industri potong rambut telah berkembang menjadi sebuah pengalaman.

Lebih dari Sekadar Memotong Rambut

Jika ditarik lebih jauh, perjalanan dari tukang cukur tradisional, tukang potong rambut Madura, salon, hingga barbershop modern sebenarnya merupakan bagian dari perjalanan budaya masyarakat.

Cara kita memotong rambut berubah seiring dengan perubahan cara kita bekerja, bersosialisasi, membelanjakan uang, hingga memandang penampilan.

Dulu, seseorang mungkin cukup duduk di kursi kayu di depan rumah atau di bawah pohon rindang.

Kini, sebagian orang mungkin memilih ruangan berpendingin udara dengan interior yang dirancang khusus, sambil menikmati kopi dan mengakses internet.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dari perubahan itu. Setiap generasi memiliki kebutuhan dan pilihannya sendiri. Yang menarik justru adalah apa yang tertinggal di belakang setiap perubahan tersebut.

Sebab, ketika sebuah profesi tradisional perlahan menghilang, yang mungkin ikut berkurang bukan hanya pilihan tempat mencukur rambut.

Ada ruang-ruang interaksi sosial yang ikut beruban, kebiasaan yang perlahan ditinggalkan. Pun ada pula percakapan antargenerasi yang mungkin tidak lagi berlangsung dalam bentuk yang sama.

Ingatan tentang bagaimana masyarakat pernah menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tukang cukur tradisional layak dilihat bukan semata-mata sebagai profesi lama yang kalah bersaing dengan zaman.

Di balik kursi kayu, cermin kecil, gunting, dan pisau cukur manual, pernah tumbuh hubungan sosial yang sederhana tetapi bermakna.

Namun, selama masih ada tukang cukur tradisional yang membuka lapaknya, menyapa pelanggan, lalu mendengarkan cerita sambil menggerakkan gunting, di sanalah sebagian kecil kehidupan lama masih menemukan tempatnya.

Memotong rambut pada akhirnya memang bukan sekadar memendekkan rambut. Kebiasaan sederhana yang terus mengikuti perubahan zaman.

Dan dari kebiasaan sederhana itulah, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat perlahan berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tukang Cukur Tradisional di Garis Sunyi"

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Evaluasi Keuangan Bukan Sekadar Menghitung Saldo
Kata Netizen
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Beluntas, Tanaman Pagar yang Memiliki Banyak Khasiat
Kata Netizen
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Dari Pasar Comboran, Sepiring Orem-orem Menyimpan Cerita
Kata Netizen
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Meski Tukang Cukur, Ada Cerita yang Tak Ikut Terpotong
Kata Netizen
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Apa Arti Merdeka bagi Nakes?
Kata Netizen
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Dari Sumba ke Flores, Menunggu Kabar di Tengah Gempa
Kata Netizen
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Jejak Guru yang Membentuk Seorang Guru
Kata Netizen
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Musim Panen Cengkeh Kini Tak Lagi Serentak
Kata Netizen
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Faktanya, Tak Semua Buku Impor Orisinal
Kata Netizen
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau