
Sekitar tiga tahun kemudian, barbershop mulai bermunculan di berbagai sudut Kota Yogyakarta.
Kali ini, yang ditawarkan bukan sekadar potongan rambut. Ada ruangan berpendingin udara, interior yang menarik, tenaga muda yang berpengalaman, free Wi-Fi, hingga sistem pembayaran menggunakan QRIS dan aplikasi pembayaran lainnya.
Peralatannya pun semakin beragam. Ada hair clipper cordless, trimmer detail, foil shaver, hingga straight razor.
Model rambut yang dapat dibuat pun semakin beragam: undercut, low fade, buzz cut, mohawk, pompadour, french crop, mullet, taper, dan berbagai gaya lainnya. Bahkan pengalaman mencukur pun dibuat semakin lengkap.
Ada shaving brush dan shaving cream untuk menghasilkan busa tebal agar proses mencukur terasa lebih nyaman. Ada hot towel untuk membantu membuka pori-pori sebelum mencukur. Ada pula pomade, clay, atau wax untuk menata rambut setelah selesai.
Jika sedang ramai, nomor antrean digital membantu mengatur giliran pelanggan. Semua itu menunjukkan bahwa industri potong rambut telah berkembang menjadi sebuah pengalaman.
Lebih dari Sekadar Memotong Rambut
Jika ditarik lebih jauh, perjalanan dari tukang cukur tradisional, tukang potong rambut Madura, salon, hingga barbershop modern sebenarnya merupakan bagian dari perjalanan budaya masyarakat.
Cara kita memotong rambut berubah seiring dengan perubahan cara kita bekerja, bersosialisasi, membelanjakan uang, hingga memandang penampilan.
Dulu, seseorang mungkin cukup duduk di kursi kayu di depan rumah atau di bawah pohon rindang.
Kini, sebagian orang mungkin memilih ruangan berpendingin udara dengan interior yang dirancang khusus, sambil menikmati kopi dan mengakses internet.
Tidak ada yang sepenuhnya salah dari perubahan itu. Setiap generasi memiliki kebutuhan dan pilihannya sendiri. Yang menarik justru adalah apa yang tertinggal di belakang setiap perubahan tersebut.
Sebab, ketika sebuah profesi tradisional perlahan menghilang, yang mungkin ikut berkurang bukan hanya pilihan tempat mencukur rambut.
Ada ruang-ruang interaksi sosial yang ikut beruban, kebiasaan yang perlahan ditinggalkan. Pun ada pula percakapan antargenerasi yang mungkin tidak lagi berlangsung dalam bentuk yang sama.
Ingatan tentang bagaimana masyarakat pernah menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tukang cukur tradisional layak dilihat bukan semata-mata sebagai profesi lama yang kalah bersaing dengan zaman.
Di balik kursi kayu, cermin kecil, gunting, dan pisau cukur manual, pernah tumbuh hubungan sosial yang sederhana tetapi bermakna.
Namun, selama masih ada tukang cukur tradisional yang membuka lapaknya, menyapa pelanggan, lalu mendengarkan cerita sambil menggerakkan gunting, di sanalah sebagian kecil kehidupan lama masih menemukan tempatnya.
Memotong rambut pada akhirnya memang bukan sekadar memendekkan rambut. Kebiasaan sederhana yang terus mengikuti perubahan zaman.
Dan dari kebiasaan sederhana itulah, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat perlahan berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tukang Cukur Tradisional di Garis Sunyi"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT