
Apa yang kamu sadari dari cara berpikir kita ketika pertama kali menjadi mahasiswa ternyata tidak sama dengan ketika kita mendekati kelulusan? Apa saja pengalaman selama kuliah yang perlahan mengubah cara kita melihat pemerintah, masyarakat, politik, pendidikan, hingga kehidupan?
Rasanya cukup berbeda ketika kembali membuka ruang untuk menulis dan menuangkan pikiran. Banyak hal yang terasa baru, baik dari lingkungan, pengalaman, maupun cara saya sendiri dalam melihat berbagai persoalan.
Mungkin bukan hanya dunia yang berubah, tetapi saya juga telah berubah. Apa yang dahulu saya pikirkan ketika menjadi mahasiswa baru ternyata tidak sepenuhnya sama dengan apa yang saya pikirkan sekarang, ketika menjadi sarjana.
Perubahan itu membuat saya bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya, sejauh mana perjalanan menjadi mahasiswa telah mengubah cara saya berpikir?
Masa perkuliahan merupakan proses panjang yang perlahan membentuk cara seseorang melihat dunia. Perubahan tersebut tidak selalu terlihat secara langsung.
Kadang-kadang, perubahan itu hadir melalui perdebatan di ruang kelas, percakapan dengan teman, pengalaman organisasi, pemberitaan politik, persoalan ekonomi, hingga kegagalan dan keberhasilan yang dialami selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Pada akhirnya, seseorang mungkin menyadari bahwa dirinya tidak lagi melihat dunia dengan cara yang sama seperti ketika pertama kali memasuki perguruan tinggi.
Perubahan pola pikir tersebut juga saya alami. Jika melihat perjalanan saya dari mahasiswa baru hingga menjelang menjadi sarjana, terdapat perubahan yang cukup jelas dalam cara saya memandang kehidupan, pemerintah, masyarakat, politik, pendidikan, bahkan masa depan.
Perubahan itu bukan berarti saya kehilangan prinsip atau sekadar mengikuti keadaan. Sebaliknya, pengalaman selama kuliah membuat saya semakin memahami bahwa kehidupan tidak selalu dapat dilihat secara hitam dan putih.
Ketika menjadi mahasiswa baru atau maba, saya cenderung memiliki pola pikir yang santai dan sederhana. Saya berusaha melihat berbagai persoalan berdasarkan logika yang menurut saya masuk akal.
Dunia perkuliahan pada masa itu lebih banyak saya lihat sebagai ruang untuk beradaptasi, belajar, mendapatkan pengalaman, dan menikmati proses menjadi mahasiswa.
Pada fase tersebut, perhatian terhadap persoalan politik dan masyarakat belum terlalu dalam. Saya mengetahui bahwa politik penting, pemerintah memiliki peran besar, dan masyarakat mempunyai berbagai persoalan, tetapi semua itu belum menjadi sesuatu yang benar-benar saya pikirkan secara serius.
Saya cenderung mengambil posisi sebagai pengamat yang melihat suatu persoalan berdasarkan apa yang tampak dan apa yang menurut saya masuk akal.
Cara berpikir seperti ini sebenarnya memiliki sisi positif. Saya tidak mudah terbawa emosi dan tidak ingin terlalu cepat memberikan penilaian terhadap suatu persoalan. Namun, di sisi lain, cara pandang yang terlalu sederhana juga memiliki keterbatasan.
Memasuki pertengahan masa kuliah, cara berpikir saya mulai mengalami perubahan. Pengetahuan yang semakin bertambah membuat saya mulai mempertanyakan berbagai hal yang sebelumnya saya terima begitu saja.