Bagaimana jika persoalan pangan di masa depan bukan hanya soal bagaimana menghasilkan lebih banyak makanan, tetapi juga bagaimana mengenali kembali begitu banyak sumber pangan yang selama ini tumbuh di sekitar kita?
Mungkinkah keberagaman tanaman, pengetahuan masyarakat, dan cara kerja ekosistem hutan justru memberi kita gambaran tentang sistem pangan yang lebih tangguh?
Sepulang dari Sekolah Seniman Pangan di Vida Bekasi beberapa waktu lalu, pertanyaan-pertanyaan itu terus terlintas di kepala saya.
Kenapa kita begitu sibuk mencari cara memproduksi lebih banyak makanan, tetapi relatif jarang membicarakan bagaimana membuat sistem pangan kita menjadi lebih beragam?
Pertanyaan tersebut muncul setelah saya melihat kebun di kawasan tersebut. Kebun seluas kurang lebih tiga hektare itu bahkan membuat saya merasa seperti sedang berada di pedesaan. Padahal, kami sebenarnya sedang berada di Bekasi, di tengah kawasan perkotaan.
Menariknya, di sana tumbuh berbagai jenis tanaman. Sebagian bisa dimakan, sebagian dimanfaatkan sebagai rempah atau bahan olahan, sementara sebagian lainnya menjadi bagian dari ekosistem kebun.
Ada jinten, kemangi, ginseng, dill, pegagan, mint, oxalis, laksa, tebu Papua, kopi Sumatra, rosella, ubi jalar, singkong, cabai, bambu, sampai trembesi.
Dari sana, pikiran saya kemudian beralih kepada hutan.
Selama ini, hutan mungkin lebih sering kita kenal sebagai tempat pohon tumbuh, habitat satwa, penyimpan karbon, atau kawasan yang perlu dilindungi. Namun, jika melihat hutan sebagai sebuah sistem, kita akan menemukan sesuatu yang menarik: alam sejak awal telah membangun sebuah ruang kehidupan yang sangat beragam.
Di dalam hutan, tidak ada satu jenis tanaman yang harus selalu mendominasi. Di bawah pohon-pohon tinggi yang menangkap cahaya matahari, biasanya tumbuh pohon yang lebih kecil, kemudian semak, perdu, tumbuhan merambat, herba, tanaman penutup tanah, jamur, dan berbagai organisme lainnya.
Masing-masing memiliki perannya. Saya pun teringat kembali pada sebuah gagasan yang belasan tahun lalu masih terasa cukup asing bagi saya ketika duduk di bangku kuliah bidang kehutanan dan lingkungan: food forest, atau hutan pangan.
Konsep food forest sudah cukup dikenal dalam dunia pertanian dan permakultur. Gagasannya menarik karena lahan dirancang untuk menghasilkan pangan dengan meniru sebagian struktur dan keberagaman sebuah ekosistem hutan.
Bagi saya, gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika persoalan pangan semakin sering hadir dalam percakapan sehari-hari.
Bukan Sekadar Kekurangan Pangan, tetapi Pilihan yang Terlalu Sempit
Ketika mendengar istilah krisis pangan, yang pertama kali terbayang biasanya adalah kekurangan makanan.
Padahal, persoalan pangan memiliki banyak lapisan. Ada perubahan iklim yang memengaruhi musim tanam, kekeringan dan banjir, hama dan penyakit tanaman, hingga kenaikan harga pupuk dan berbagai input pertanian.
Gangguan distribusi, ketergantungan pada komoditas tertentu, serta perubahan pola konsumsi masyarakat juga ikut memengaruhi bagaimana kita memandang ketahanan pangan.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang luar biasa berupa keanekaragaman hayati dan kekayaan pangan. Pertanyaannya kemudian, berapa banyak dari kekayaan tersebut yang benar-benar kita kenal?
Coba lihat isi dapur kita. Ada beras, minyak goreng, gula, tepung, cabai, bawang, telur, dan berbagai bahan yang sudah sangat akrab dalam konsumsi sehari-hari.
Tidak ada yang salah dengan bahan-bahan tersebut. Namun, jika pilihan kita berhenti di sana, bukankah kita tanpa sadar sedang menyederhanakan kekayaan pangan yang sebenarnya jauh lebih luas?
Di sini gagasan tentang hutan pangan menjadi menarik. Bayangkan sebuah lahan yang tidak hanya ditanami satu komoditas, tetapi terdiri atas berbagai lapisan tanaman.
Ada pisang, pepaya, kelapa, singkong, ubi, kacang-kacangan, cabai, rempah, sayuran, tanaman obat, dan pohon buah.
Waktu panennya berbeda. Kebutuhan ruangnya berbeda. Kebutuhan cahayanya juga berbeda. Ketika satu tanaman gagal tumbuh karena kondisi tertentu, belum tentu tanaman lainnya mengalami hal yang sama.
Tentu saja, hutan pangan bukan sistem yang bebas dari persoalan. Ia tetap membutuhkan pengetahuan, perencanaan, perawatan, dan pengelolaan.
Namun, keberagaman membuat sistem tersebut tidak sepenuhnya bertumpu pada satu komoditas. Dari sinilah saya melihat pentingnya membicarakan ketahanan pangan bukan hanya dalam konteks jumlah, tetapi juga keberagaman.
Tiga Hektare Kebun Seniman Pangan
Kunjungan ke Sekolah Seniman Pangan memberi saya gambaran kecil mengenai bagaimana keberagaman tersebut dapat diterapkan.
Sekolah ini berada di kawasan Vida Bekasi. Ketika pertama kali dikembangkan, kondisi lahannya bahkan jauh berbeda dengan kebun yang kami lihat sekarang.
Menurut Kak Cora atau Corazon Nikijuluw, Food Technology & Education Manager Seniman Pangan, kawasan tersebut mulai dikembangkan sekitar 2017 setelah Vida menawarkan sebagian wilayahnya untuk dijadikan kawasan hijau.
Tim kemudian melakukan survei. Kondisinya ketika itu tidak bisa dibilang sudah menjadi kebun yang indah. Lahannya masih didominasi ilalang, puing-puing bekas bangunan, dan sampah. Lokasinya pun tidak jauh dari Bantar Gebang, pusat pembuangan sampah terbesar di Indonesia.
Dari kondisi tersebut, kemudian tumbuh sebuah ruang belajar pangan yang kini memiliki kebun nutrisi dan kebun produksi dengan luas sekitar tiga hektare.
Kami berkeliling melihat berbagai tanaman yang tumbuh di sana.
Bagi saya, pengalaman itu terasa menyenangkan karena tanaman-tanaman yang saya lihat tidak sekadar hadir sebagai nama di buku atau sebagai bahan yang sudah berubah menjadi produk.
Saya bisa melihat bentuknya, mengetahui di mana ia tumbuh, menyentuh daunnya, dan yang tidak kalah menarik, mendengar cerita tentang bagaimana tanaman tersebut dimanfaatkan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya