
Kalau Jakarta tidak hanya tentang Blok M dan Kota Tua, lalu sudut kota mana lagi yang sebenarnya menarik untuk dijelajahi dalam satu hari?
Masih banyak kawasan lain yang bisa dijelajahi dan dinikmati untuk menghabiskan waktu. Mungkin daerah-daerah tersebut tidak memiliki landmark sekuat Monas atau bangunan bersejarah seperti Museum Fatahillah.
Bisa jadi, yang mereka tawarkan hanyalah beberapa workspace, perpustakaan kecil, kafe unik, tempat makan, atau toko buku yang nyaman untuk dikunjungi.
Justru tempat-tempat sederhana seperti itulah yang belakangan membuat saya penasaran. Saya ingin menjelajahinya satu per satu.
Tak perlu terburu-buru, alon-alon waton kelakon, pelan-pelan saja selama niat tersebut tidak berakhir seperti tumpukan piring atau pakaian kotor yang menunggu disentuh pemiliknya. Saya pun memulainya dari Cipete.
Unlocked New Workspace, AAJI Library
Saya dan seorang kawan menjadikan AAJI Library sebagai titik temu. Tempat ini merupakan workspace sekaligus perpustakaan kecil milik Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).
Saya sendiri tidak tahu persis sejak kapan tempat ini berdiri dan mulai dibuka untuk umum. Yang jelas, keberadaannya sudah beberapa kali muncul di media sosial dan akhirnya ikut masuk ke daftar tempat yang ingin saya kunjungi.
Selama ini saya hanya menyimpannya sebagai angan-angan. Mungkin suatu hari nanti akan mampir ke sana.
Ternyata, kesempatan itu datang lebih cepat dari yang saya kira.
Saya melakukan pendaftaran di area lobi. Sebagai tanda sudah melakukan registrasi, sebuah cap ditempelkan di punggung tangan. Tidak ada penitipan barang sehingga saya bisa membawa ransel yang berisi berbagai keperluan, termasuk air mineral.
Rupanya, kawan saya sudah lebih dulu tiba. Kami sempat berbincang sebentar sebelum kemudian tenggelam dalam aktivitas masing-masing.
AAJI Library terdiri atas dua lantai dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Koleksi bukunya pun cukup terbatas. Namun, ada beberapa hal yang menurut saya menjadi daya tarik tempat ini, salah satunya adalah lokasinya yang relatif dekat dengan Stasiun MRT Cipete Raya Tuku serta meja dan kursi yang cukup nyaman untuk bekerja atau membaca.
Karena berada dalam satu kawasan dengan kantor, fasilitas seperti toilet dan musala juga cukup bersih dan nyaman. Ketika saya datang, beberapa orang terlihat memanfaatkan tempat tersebut untuk bekerja dan membaca.
Bukan karena tidak betah, tetapi beberapa jam kemudian rasa lapar membuat saya harus meninggalkan tempat tersebut dan mencari makanan yang lebih mengenyangkan.
Menyudahi Rasa Lapar dengan Kuliner Tempo Dulu
Tidak jauh dari AAJI Library terdapat sebuah restoran dengan konsep dan menu makanan tempo dulu. Namanya Sumber Asli, Kuliner Tempo Dulu.
Nama dan konsepnya cukup menarik perhatian. Kawan saya memang menyukai restoran dengan gaya yang unik, dan tempat ini lumayan berhasil membuat kami penasaran.
Dinding-dinding restoran menjadi salah satu bagian yang menarik. Beberapa ornamen sejenis ditata dalam satu area. Ada piring-piring antik, centong dengan bentuk unik, gambar berbagai jenis sneakers, hingga tulisan-tulisan berbahasa Jawa yang berisi wejangan.
Kami memilih ruangan bebas rokok. Selain ingin lebih nyaman, perjalanan menuju tempat ini di tengah panasnya udara Jakarta membuat kami merasa perlu beristirahat sejenak di ruangan berpendingin udara.
Kawan saya memesan gado-gado, sementara saya tergoda mencoba bihun godok. Bagaimana rasanya?
Ada ungkapan bahwa lauk terbaik adalah rasa lapar. Mungkin ada benarnya. Perpaduan antara rasa lapar dan racikan bumbu yang disajikan membuat menu di restoran ini terasa layak untuk dicoba kembali.
Setidaknya, rasa lapar yang tadi membawa kami masuk ke tempat ini akhirnya terbayar.
Menemukan Tempat Ngopi dengan Nuansa a la Ghibli
Entah mengapa, tempat yang dipenuhi rerimbunan hijau sering kali membuat saya teringat pada film-film Studio Ghibli. Mungkin karena banyak karya Ghibli menghadirkan nuansa alam yang kuat.