Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagas Kurniawan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Bagas Kurniawan adalah seorang yang berprofesi sebagai Auditor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bekatul, dari Pakan Menjadi Pangan

Kompas.com, 25 Januari 2025, 23:07 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah ada bahan pakan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan kita?

Saya jadi ingat, saat saya masih di awal tahun perkuliahan, kami diminta oleh dosen untuk mencari alternatif bahan pangan lain yang sekiranya ekonomis dan memiliki manfaat yang baik untuk tubuh. 

Lalu, saya mencoba mencari informasi mengenai pakan ternak. Pada umumnya, pakan ternak itu menggunakan "limbah" dari hasil pengolahan produk pangan. Misalnya, sisa pengolahan pabrik sari kacang kedelai, minyak kedelai, dan tahu adalah bungkil kedelai. Maka bungkil ini yang akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Lalu, saya melanjutkan pemikiran saya ke sektor pengolahan produk-produk serealia (biji-bijian seperti beras dan gandum).

Sebelum biji-bijian tersebut dijual, maka harus melalui proses pembersihan dari kulit terluarnya. Bahkan ada yang dikupas sampai kulit ari-arinya, sehingga menghasilkan produk beras atau gandum yang bersih. 

Nah, permasalahan selanjutnya, saya mencari tahu mengenai rata-rata konsumsi serat harian, menurut Kementerian Kesehatan, hanya berada di 10-15 gram per hari, padahal yang dianjurkan adalah 25-35 gram per hari.

Berdasarkan data tersebut, sudah nyata bahwa memang konsumsi serat harian kita masih tergolong lebih rendah.

Oleh karena itu, pemikiran saya mengerucut ke bahan yang sangat jarang terpikirkan dan dimanfaatkan oleh kebanyakan dari kita, padahal apabila kita mengonsumsi makanan dengan tambahan bahan ini, dipercaya dapat membantu kita untuk memenuhi asupan serat harian.

Apa bahan yang saya maksud? jawabannya adalah Bekatul. Yap, betul, bekatul yang biasa kita gunakan sebagai bahan pakan.

Bekatul, yang sering kali diabaikan dan dianggap sebagai bahan pangan "rendahan" karena lebih dikenal sebagai pakan ternak, ternyata memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa bagi manusia. Bekatul adalah lapisan bagian dalam dari beras yang terlepas selama proses penggilingan.

Bekatul itu kaya akan serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif, yang membuat dedak layak mendapatkan perhatian lebih sebagai bahan pangan yang bermanfaa t untuk kesehatan.

Bekatul tidak hanya merupakan sumber nutrisi yang berlimpah, tetapi juga mudah untuk dicampur ke dalam berbagai jenis makanan, menjadikannya tambahan yang sangat berharga untuk diet kita.

Kandungan Nutrisi Bekatul

Bekatul mengandung beragam nutrisi penting yang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Berikut adalah beberapa kandungan utama dalam dedak:

Serat bekatul sangat kaya akan serat, baik serat larut maupun tidak larut. 

Serat ini membantu menjaga kesehatan pencernaan dengan mencegah sembelit dan mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.

Serat larut juga diketahui dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah. Serat dalam bekatul tidak hanya mendukung kesehatan pencernaan tetapi juga memberikan rasa kenyang lebih lama, yang bermanfaat dalam pengendalian berat badan.

Serat juga dapat membantu mengurangi risiko kanker usus besar dengan mempercepat eliminasi limbah dari saluran pencernaan.

Vitamin B Kompleks

Bekatul mengandung berbagai vitamin B kompleks, termasuk tiamin (B1), niasin (B3), dan piridoksin (B6), yang penting untuk metabolisme energi dan fungsi saraf.

Vitamin B dalam dedak juga berperan dalam menjaga kesehatan kulit, rambut, dan fungsi otak, serta membantu tubuh dalam konversi makanan menjadi energi yang dapat digunakan.

Selain itu, bekatul juga mengandung asam folat yang penting untuk wanita hamil dalam mencegah cacat tabung saraf pada janin.

Mineral

Mineral seperti magnesium, fosfor, dan zat besi ditemukan dalam jumlah tinggi di bekatul. Magnesium berperan dalam menjaga kesehatan tulang dan fungsi otot, sementara zat besi penting untuk pembentukan hemoglobin dan pencegahan anemia.

Fosfor dalam dedak membantu dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang dan gigi yang kuat serta berperan dalam fungsi normal membran sel. Kalium dalam bekatul juga mendukung fungsi jantung dan membantu dalam pengaturan tekanan darah.

Antioksidan

Bekatul mengandung senyawa antioksidan seperti asam ferulat dan fitokimia lainnya yang dapat melawan radikal bebas dan mengurangi risiko penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung.

Antioksidan ini juga berperan dalam memperlambat proses penuaan sel, melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar UV, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Antioksidan dalam bekatul juga membantu mengurangi peradangan, yang merupakan faktor risiko utama untuk berbagai penyakit degeneratif.

Manfaat Kesehatan Bekatul bagi Manusia

Bekatul itu memiliki manfaat seperti menjaga kesehatan pencernaan. Kandungan serat tinggi dalam dedak membantu memperlancar pencernaan dan mencegah masalah seperti sembelit.

Serat juga mendukung kesehatan mikrobiota usus, yang penting untuk sistem kekebalan tubuh dan pencernaan yang optimal. Serat dalam dedak membantu mempercepat waktu transit makanan melalui saluran pencernaan, yang dapat mengurangi risiko gangguan pencernaan seperti divertikulitis.

Konsumsi dedak secara rutin juga dikaitkan dengan penurunan risiko pengembangan penyakit usus seperti sindrom iritasi usus besar (IBS).

Serat larut dalam bekatul dapat mengikat kolesterol dalam saluran pencernaan, mencegah penyerapannya kembali ke dalam tubuh. Ini membantu menurunkan kadar kolesterol LDL ("jahat") dan mengurangi risiko penyakit jantung.

Studi menunjukkan bahwa konsumsi bekatul secara rutin dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dengan meningkatkan profil lipid darah secara keseluruhan. Bekatul juga dapat membantu meningkatkan kadar kolesterol HDL ("baik"), yang memberikan perlindungan tambahan terhadap penyakit jantung.

Bagaimana Cara Menambahkan Bekatul Sebagai Bahan Pangan?

Penambahan bekatul ke dalam pola makan sehari-hari dapat dilakukan dengan berbagai cara sederhana.

Asalkan jangan menambahkan dedak yang dibeli dari toko pakan lalu langsung digunakan ya. Pastinya bekatul yang berasal dari toko pakan tersebut sudah disimpan berhari-hari dalam keadaan terbuka.

Selain itu, dedak perlu untuk diolah terlebih dahulu seperti cara yang saya lakukan saat itu, yaitu dengan menyangrai (sangrai) bekatul itu sampai sedikit kecokelatan dan harum. Proses sangrai bertujuan untuk meminimalisir adanya kontaminasi mikroorganisme.

Nah,  berikut ini saya jabarkan beberapa saran penambahan bekatul sebagai bahan pangan:

Gunakan sebagai Subtitusi Tepung

Bekatul dapat digunakan sebagai pengganti sebagian tepung dalam resep roti, muffin, atau kue, yang memberikan tekstur dan nutrisi tambahan. Karena tetap dalam pembuatan roti, muffin, atau kue, kita tetap memerlukan tepung terigu agar kue yang dihasilkan tetap enak, kecuali memang ditujukkan untuk orang yang memiliki masalah pencernaan celiac atau yang sensitif dengan gluten non-celiac. 

Menggunakan bekatul dalam resep dapat meningkatkan kandungan serat dan memberikan rasa yang lebih kaya pada produk panggangan. Bekatul juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam adonan pizza untuk memberikan rasa yang lebih penuh dan tekstur yang lebih sehat.

Sebagai Topping Yogurt

Menaburkan bekatul di atas yogurt memberikan rasa gurih sekaligus meningkatkan kandungan serat pada yogurt yang kita konsumsi.

Ini adalah cara yang lezat untuk menambahkan tekstur dan nutrisi ekstra ke camilan sehat. Kita juga dapat menambahkan buah-buahan segar untuk meningkatkan rasa dan nilai gizi camilan.

Campuran dalam Adonan Pancake, Waffle, atau Kukis

Menambahkan bekatul ke dalam adonan pancake, waffle, dan kukis dapat meningkatkan kandungan serat dan memberikan rasa yang lebih kompleks.

Penambahan dedak artinya meningkatkan kandungan serat, dan diharapkan dapat membantu untuk menjaga rasa kenyang lebih lama setelah sarapan. Kombinasikan dengan sirup maple alami atau madu untuk sarapan yang sehat dan lezat.

Kesimpulan

Bekatul, yang sering dianggap sebagai produk sampingan dari penggilingan biji-bijian, memiliki potensi besar sebagai bahan pangan yang kaya nutrisi.

Dengan kandungan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang tinggi, bekatul dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan mulai dari pencernaan yang lebih baik hingga pencegahan penyakit kronis. Integrasi bekatul ke dalam diet sehari-hari dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk terus menganggap dedak sebagai bahan "rendahan" ketika manfaatnya bagi kesehatan manusia begitu luar biasa. 

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Potensi Bekatul dari Pakan Menjadi Pangan"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau