
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sedangkan di area pantai, kios-kios sederhana menyediakan tikar, perlengkapan snorkeling, hingga perlengkapan berkemah.
Kebersihan menjadi hal yang menonjol di sini. Tempat sampah tersedia di berbagai titik, tanah disapu rapi, dan rambu-rambu petunjuk maupun larangan terlihat jelas. Semua tertata dengan baik.
Kunci Keteraturan: Komunitas D’Jetty Medaksa Sebrang
Rasa penasaran saya tentang siapa yang mengelola tempat ini akhirnya terjawab. Seorang pria muda berkacamata bernama Rivaldi—yang saya lihat memegang megafon di dermaga—menjelaskan bahwa semua ini dikelola oleh komunitas lokal bernama D’Jetty Medaksa Sebrang.
Komunitas ini terbentuk pada Oktober 2024 dan mulai beroperasi penuh sejak April 2025. Mereka terdiri dari sekitar 30 anggota: mulai dari tukang parkir, petugas loket, pengatur antrean, hingga penjaga kebersihan.
Tak ada sistem “bos dan anak buah”. Semua bekerja setara, saling mengisi demi pelayanan terbaik bagi wisatawan.
Menariknya, Rivaldi dulunya pernah terlibat dalam pengelolaan destinasi wisata di Pulau Belitung.
Ia membawa pengalaman profesional itu ke Merak, bekerja sama dengan pemuda setempat dan seorang dermawan yang mereka panggil “Kakak”—orang yang membantu membiayai pembangunan infrastruktur awal.
Kolaborasi ini juga mencakup sopir-sopir angkot di sekitar stasiun Merak. Hubungan saling menguntungkan tercipta: pengunjung bisa menuju dermaga dengan nyaman, sopir mendapat penumpang tetap, sementara pengelola wisata terbantu dari sisi akses transportasi.
Model Pengelolaan yang Layak Dicontoh
Dari awal perjalanan hingga menjejak pasir putih di Pulau Merak Besar, kesan profesional dan bersahabat terasa konsisten. Tidak ada pungutan liar, tidak ada harga yang mencekik, dan yang paling penting—tidak ada drama.
Komunitas D’Jetty Medaksa Sebrang menunjukkan bahwa wisata yang dikelola dengan rapi dan berbasis partisipasi warga bisa menciptakan pengalaman positif bagi semua pihak.
Wisatawan menikmati suasana yang bersih dan aman. Warga setempat memperoleh peluang ekonomi baru.
Sementara daerahnya sendiri mendapatkan citra baik sebagai destinasi wisata yang ramah dan tertib.
***
Meski masih tergolong baru, Pulau Merak Besar telah menunjukkan potensi besar sebagai destinasi wisata bahari yang menjanjikan.
Kuncinya sederhana: pengelolaan profesional, kerja sama warga, dan kejujuran dalam pelayanan. Tiga hal yang sering kali hilang di banyak tempat wisata lain di Indonesia.
Semoga semangat komunitas D’Jetty Medaksa Sebrang menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan wisata dengan cara yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memuliakan manusia dan alam di sekitarnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Berwisata ke Pulau Merak Besar Tanpa Drama dan Horor"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang