Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Latipah Rahman
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dilema Pekerja Antarkota: Hujan, Perjalanan, dan Daya Tahan Tubuh

Kompas.com, 18 Desember 2025, 14:24 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana cara menjaga tubuh tetap sehat dan pikiran tetap waras saat harus bolak-balik antarkota di tengah musim hujan yang tak menentu?

Tinggal di Bogor berarti berdamai dengan hujan hampir sepanjang tahun. Bahkan di luar musim penghujan sekalipun, kota ini tetap setia dengan curah hujannya.

Namun, setiap kali bulan-bulan musim hujan datang, selalu ada perubahan kecil yang terasa di rumah.

Mama biasanya mulai menyiapkan hal-hal sederhana tapi bermakna: baju ganti, payung, jas hujan, serta bekal sayur yang porsinya lebih banyak dari hari biasa. Sesekali, buah-buahan ikut diselipkan.

Bukan multivitamin mahal yang jadi andalan, melainkan makanan rumahan dan rimpang-rimpang yang dipercaya sejak lama menjaga daya tahan tubuh.

Saya tumbuh dengan kondisi badan yang cenderung ringkih. Batuk dan pilek mudah datang, terutama saat musim hujan mencapai puncaknya.

Apalagi ketika Desember tiba, pekerjaan justru menuntut aktivitas luar ruangan yang padat, ditambah begadang yang sering kali tak terhindarkan. Dalam kondisi seperti itu, persiapan sederhana menjadi semacam tameng awal.

Kadang saya membuat pir kukus dengan jahe dan kayu manis—resep sederhana yang sudah akrab sejak kecil. Jika tubuh mulai terasa tidak enak, minyak angin, jahe hangat, madu asli dari peternak langganan, dan buah-buahan menjadi andalan untuk membantu pemulihan.

Baju ganti selalu ada di laci kantor. Alasannya praktis: ketika tiba dengan pakaian basah kuyup, tubuh harus segera kering.

Begitu pula saat hujan deras tak kunjung reda menjelang pulang, baju ganti membantu mencegah badan menggigil atau masuk angin di perjalanan.

Memang, ransel jadi lebih berat. Tapi itu konsekuensi yang sudah biasa diterima pekerja antar kota.

Perjalanan Bogor–Jakarta mungkin tidak jauh di peta, tetapi realitasnya sering berbeda. Hujan di jam pulang hampir selalu berarti kemacetan panjang.

Menunggu hujan reda bisa membuat waktu pulang semakin larut, sementara bertahan berjam-jam dengan pakaian basah jelas bukan pilihan yang aman bagi tubuh.

Tak heran jika banyak orang bersiap lebih ekstra saat musim hujan. Sakit ringan seperti batuk dan pilek saja sudah cukup mengganggu, apalagi bagi pekerjaan yang menuntut fokus dan konsentrasi.

Oleh karena itu, pesan sederhana dari orang tua selalu terasa relevan: makan tepat waktu, jangan biarkan perut kosong, dan sebisa mungkin hindari kehujanan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau