
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ada anggapan bahwa menjadi MC hanyalah soal pandai berbicara. Padahal, di balik kelancaran sebuah acara, ada persiapan, sensitivitas, dan tanggung jawab yang sering kali tidak terlihat di atas panggung.
“Enak ya jadi MC, cuma modal ngomong doang,” begitu, katanya.
Kalimat itu pernah saya terima dari seorang narasumber yang akan saya pandu dalam sebuah acara edukasi.
Waktu itu, seorang teman meminta saya menjadi MC sekaligus moderator untuk acara yang sedang ia selenggarakan. Dalam dunia acara, situasi seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi, terutama ketika panitia ingin menyesuaikan anggaran. Satu orang menjalankan dua peran sekaligus.
Bagi saya pribadi, hal tersebut bukan persoalan besar selama semuanya sudah dikomunikasikan sejak awal. Apalagi yang meminta bantuan juga teman sendiri, dan saya cukup memahami bagaimana kondisi pendanaan acara tersebut.
Seperti biasa, saya mulai meminta berbagai kebutuhan acara kepada panitia: susunan acara, profil narasumber, materi yang akan dibahas, hingga detail teknis lainnya.
Soal rundown, justru sering kali saya sudah memahami pola kerjanya. Ketika diminta menjadi MC oleh teman dekat, biasanya saya juga akan ikut membantu menyusun alur acara, menentukan transisi, hingga menyiapkan ice breaking agar suasana lebih cair.
Setelah semua materi saya terima, saya mulai mempelajari profil narasumber. Jujur saja, tema yang akan dibahas saat itu termasuk bidang baru bagi saya.
Karena itu, saya tidak hanya membaca CV yang diberikan panitia. Saya juga mencari tahu lebih jauh melalui media sosial narasumber, melihat aktivitasnya, hingga menonton beberapa materi yang pernah ia bawakan sebelumnya.
Semua itu saya lakukan agar dapat memahami karakter narasumber dan menyesuaikan cara membawakan acara. Bagi saya, tugas seorang MC bukan sekadar berbicara di depan publik, tetapi juga membangun suasana yang selaras dengan konsep acara dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Hari pelaksanaan pun tiba.
Sebelum acara dimulai, panitia memperkenalkan saya kepada narasumber di sebuah restoran tempat acara berlangsung. Kami memang dijadwalkan makan siang bersama sebelum sesi dimulai pada pukul satu siang.
“Ini Kak, MC-nya,” kata panitia sambil memperkenalkan saya.
Saya pun mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri dengan ramah. Namun respons yang saya terima di luar dugaan.
“Enak ya jadi MC, cuma modal ngomong doang.”