
Tragedi bunuh diri seorang siswa di Ngada, Nusa Tenggara Timur, menurut Kompasianer Akbar Pitopang mengguncang kesadaran publik dan memunculkan duka kolektif.
Jika dicermati lebih dalam, peristiwa ini tidak bisa disederhanakan sebagai masalah individu atau sekadar ketidakmampuan membeli buku dan pena, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam melindungi anak-anak paling rentan.
Lebih lanjut, Kompasianer Akbar Pitopang menyoroti bagaimana kemiskinan ekstrem membentuk luka batin anak secara perlahan.
Sekolah, sebagaimana ditulis Kompasianer Akbar Pitopang mungkin tidak bermaksud menekan tetapi sistem belum sepenuhnya ramah bagi anak dari keluarga miskin ekstrem. (Baca selengkapnya)
4. Molo Mama dan Ilusi Pendidikan Gratis
Konten yang dibuat Kompasianer Medi Juniansyah menegaskan bahwa pendidikan gratis hanya terjadi di atas kertas, karena tidak selalu berarti bebas dari beban biaya di lapangan.
Bagi keluarga miskin, buku dan pulpen bukan hal sepele, melainkan kemewahan yang dapat memicu tekanan emosional pada anak ketika merasa dirinya menjadi beban keluarga.
"Jangan sampai kalimat "molo mama" kembali terulang dari sudut negeri yang lain, hanya karena kita terlambat mendengar jeritan sunyi anak-anak yang seharusnya kita jaga bersama," tulis Kompasianer Medi Juniansyah.
Pendidikan yang adil dan manusiawi menuntut kolaborasi semua pihak agar tidak ada lagi anak yang kehilangan harapan hanya karena kemiskinan dan abainya sistem. (Baca selengkapnya)
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pendidikan Gratis di Tengah Janji, Realitas, dan Ketahanan Keluarga"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.