Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompasiana News
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Kompasiana News adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia

Kompas.com, 9 Februari 2026, 19:48 WIB

Pendidikan gratis kerap dipahami sebagai capaian final dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sayangnya, kebijakan tersebut justru membuka lapisan persoalan baru yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Kita bisa sebut seperti di balik penghapusan SPP, masih ada biaya-biaya lain seperti seragam, buku, kegiatan sekolah, transportasi, hingga kebutuhan digital lainnya.

Kompasianer merespon hal tersebut dengan melihatnya untuk dibaca ulang secara lebih jujur. Ada pengalaman orang tua, pengamatan sosial, hingga refleksi personal tentang akses pendidikan tidak otomatis berbanding lurus dengan kenyamanan belajar.

Berikut ini kami coba sedikit rangkumkan konten-konten yang masuk lewat topik pilihan: Pendidikan Gratis Bukan Sekadar Pembebasan Biaya SPP. (https://www.kompasiana.com/topic/pendidikan-gratis-bukan-sekadar-pembebasan-biaya-spp)

1. Biarkan Saya Menangis untuk Anak yang Tidak Saya Kenal

Kompasianer Adib Abadi membuka kisah dengan suasana rumah yang hangat dan serba cukup: anaknya belajar dengan fasilitas yang memadai, buku-buku tersusun rapi, dan kebutuhan sekolah terpenuhi.

Akan tetapi, di belahan dunia yang lain ternyata ada kisah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun dari Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena seharga sepuluh ribu rupiah.

Sebagai seorang ayah, Kompasianer Adib Abadi mencoba membayangkan beban psikologis yang ditanggung anak tersebut: rasa malu di sekolah, ketidakmampuan mencatat pelajaran, dan ketidakberdayaan melihat ibunya yang tak mampu memenuhi kebutuhan paling dasar.

"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan kesedihan dan kemarahan ini. Saya hanya seorang pedagang di kota kecil. Saya tidak punya kekuatan untuk mengubah sistem," tulisnya. (Baca selengkapnya)

2. Alarm Ngada: Saat Kita Gagal Menjadi Jembatan Emosi Anak

Melalui gambaran keseharian anak di sekolah, Kompasianer Ditta Atmawijaya menyoroti luka laten yang kerap tersembunyi di balik keceriaan.

Permintaan sederhana berupa buku tulis dan pulpen yang tak mampu dipenuhi menjadi simbol harga diri, harapan, sekaligus titik runtuh emosinya ketika pintu ekonomi dan ruang dialog sama-sama tertutup.

Tragedi ini kemudian dibaca sebagai kegagalan sistemik. Kompasianer Ditta Atmawijaya menekankan pentingnya pemetaan sosial di tingkat desa serta peran sekolah sebagai jembatan perlindungan emosional, bukan sekadar institusi akademik.

Jika depresi laten ini terus kita abaikan, tulis Kompasianer Ditta Atmawijaya sekolah dan lingkungan akan berubah dari tempat bertumbuh menjadi penjara sunyi. (Baca selengkapnya)

3. Bukan Sekadar Buku dan Pena: Siswa Bunuh Diri Menampar Sistem Kita

Tragedi bunuh diri seorang siswa di Ngada, Nusa Tenggara Timur, menurut Kompasianer Akbar Pitopang mengguncang kesadaran publik dan memunculkan duka kolektif.

Jika dicermati lebih dalam, peristiwa ini tidak bisa disederhanakan sebagai masalah individu atau sekadar ketidakmampuan membeli buku dan pena, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam melindungi anak-anak paling rentan.

Lebih lanjut, Kompasianer Akbar Pitopang menyoroti bagaimana kemiskinan ekstrem membentuk luka batin anak secara perlahan.

Sekolah, sebagaimana ditulis Kompasianer Akbar Pitopang mungkin tidak bermaksud menekan tetapi sistem belum sepenuhnya ramah bagi anak dari keluarga miskin ekstrem. (Baca selengkapnya)

4. Molo Mama dan Ilusi Pendidikan Gratis

Konten yang dibuat Kompasianer Medi Juniansyah menegaskan bahwa pendidikan gratis hanya terjadi di atas kertas, karena tidak selalu berarti bebas dari beban biaya di lapangan.

Bagi keluarga miskin, buku dan pulpen bukan hal sepele, melainkan kemewahan yang dapat memicu tekanan emosional pada anak ketika merasa dirinya menjadi beban keluarga.

"Jangan sampai kalimat "molo mama" kembali terulang dari sudut negeri yang lain, hanya karena kita terlambat mendengar jeritan sunyi anak-anak yang seharusnya kita jaga bersama," tulis Kompasianer Medi Juniansyah.

Pendidikan yang adil dan manusiawi menuntut kolaborasi semua pihak agar tidak ada lagi anak yang kehilangan harapan hanya karena kemiskinan dan abainya sistem. (Baca selengkapnya)

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pendidikan Gratis di Tengah Janji, Realitas, dan Ketahanan Keluarga"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau